
Profil Gus Maksum Jauhari Silsilah Keluarga Pendiri Pagar Nusa
Ilmusetiahati.com , KEDIRI – Profil Gus Maksum Jauhari menjadi salah satu topik yang banyak dicari masyarakat ketika membahas sejarah Pondok Pesantren Lirboyo, Nahdlatul Ulama (NU), Pagar Nusa, maupun perkembangan pencak silat berbasis pesantren di Indonesia. KH. Abdullah Maksum Jauhari atau yang lebih dikenal sebagai Gus Maksum Lirboyo merupakan ulama kharismatik asal Kediri yang berasal dari keluarga besar pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, KH. Abdul Karim (Mbah Manaf). Selain dikenal sebagai tokoh pencak silat, Gus Maksum juga memiliki peran penting dalam lahirnya organisasi Pagar Nusa di bawah naungan PBNU serta menjadi pendiri GASMI (Gerakan Aksi Silat Muslim Indonesia). Berbagai riwayat mengenai perjalanan hidupnya banyak dikutip dari arsip Pagar Nusa, sejarah keluarga besar Lirboyo, serta sejumlah catatan yang membahas kiprah beliau dalam dunia pesantren dan persilatan.
Baca Juga : Daftar 15 Pendekar Pagar Nusa Masuk Jajaran PB IPSI 2026-2030
Lahir dari Keluarga Besar Pendiri Pondok Pesantren Lirboyo
Dilansir dari sejarah keluarga Pondok Pesantren Lirboyo dan biografi Gus Maksum yang dipublikasikan Pagar Nusa, KH. Abdullah Maksum Jauhari lahir di Kanigoro, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, pada 8 Agustus 1944.
Nama lengkapnya adalah KH. Abdullah Maksum Jauhari. Ia merupakan putra pasangan KH. Jauhari Fadil (dalam sejumlah sumber juga ditulis KH. Abdullah Jauhari) dengan Nyai Aisyah, salah seorang putri KH. Abdul Karim, pendiri Pondok Pesantren Lirboyo yang mendirikan pesantren tersebut pada 1910. Dari garis keturunan inilah Gus Maksum menjadi cucu langsung Mbah Manaf, salah satu ulama berpengaruh dalam perkembangan pendidikan Islam di Jawa Timur.
Riwayat keluarga Gus Maksum tidak dapat dipisahkan dari perkembangan Pondok Pesantren Lirboyo. Mengutip sejarah Lirboyo, KH. Abdul Karim menikah dengan Nyai Domroh, putri dari KH. Sholeh Banjarmelati. Dari pernikahan tersebut lahir delapan orang anak yang kemudian banyak membangun jaringan pendidikan pesantren melalui pernikahan dengan sejumlah ulama besar di Jawa, sehingga menjadikan keluarga Lirboyo sebagai salah satu trah ulama terbesar di Indonesia.
Silsilah Keluarga Gus Maksum Jauhari
Berdasarkan sejarah keluarga Lirboyo, silsilah Gus Maksum Jauhari dapat diringkas sebagai berikut:
- Kakek: KH. Abdul Karim (Mbah Manaf), pendiri Pondok Pesantren Lirboyo.
- Nenek: Nyai Domroh, putri KH. Sholeh Banjarmelati.
- Ayah: KH. Jauhari Fadil.
- Ibu: Nyai Aisyah, putri KH. Abdul Karim.
- Anak: KH. Abdullah Maksum Jauhari (Gus Maksum).
Mengutip sejarah keluarga Lirboyo, KH. Jauhari Fadil merupakan menantu pertama KH. Abdul Karim yang secara aktif membantu mengajar santri. Bahkan sejak tahun pertama pernikahannya, beliau dipercaya mengembangkan sistem pendidikan di lingkungan pesantren. Bersama sejumlah ulama lain, KH. Jauhari kemudian menghidupkan kembali sistem madrasah yang sempat mengalami kevakuman.
Masa Kecil dan Riwayat Pendidikan
Menurut biografi yang diterbitkan Pagar Nusa, Gus Maksum mengawali pendidikan agama langsung dari ayahnya di Kanigoro. Setelah itu ia menempuh pendidikan formal di Sekolah Dasar Kanigoro dan lulus pada 1957.
Selepas pendidikan dasar, Gus Maksum melanjutkan pendidikan di Madrasah Tsanawiyah Lirboyo. Namun, pendidikan formal tersebut tidak diselesaikannya hingga tamat. Sejumlah sumber menyebutkan bahwa beliau lebih memilih memperdalam ilmu agama, ilmu hikmah, tenaga dalam, serta pencak silat melalui perjalanan dari satu daerah ke daerah lain untuk berguru kepada banyak ulama dan pendekar.
Keputusan tersebut kemudian menjadi titik awal perjalanan panjang Gus Maksum dalam dunia bela diri berbasis pesantren.
Berguru kepada Banyak Ulama dan Pendekar
Dilansir dari biografi resmi Pagar Nusa, Gus Maksum dikenal memiliki banyak guru dari berbagai daerah.
Beberapa nama yang sering disebut antara lain:
- KH. Jamaludin Batokan
- KH. Jufri
- Mbah Jipang
- KH. Muhammad Batokan
- Ahmad Fathoni dari Rengasdengklok, Karawang
- KH. Kasidak
- Haji Munawar
- Haji Muhajir
- Haji Zaenal
- KH. Mansur
- KH. Ahmad Kemuning
- KH. Ibrahim Banjar Melati
- Habib Jufri
- Habib Baharun
- KH. Mahrus Ali
- KH. Ya’kub Lirboyo
- KH. Ilyas Buntet Cirebon
- Kiai Busro
Mengutip sejumlah catatan sejarah tersebut, para guru Gus Maksum berasal dari latar belakang ilmu agama, ilmu hikmah, maupun pencak silat sehingga membentuk karakter keilmuan yang dikenal luas di kalangan pesantren.
Kisah Kesaktian Gus Maksum dalam Berbagai Riwayat
Dalam berbagai riwayat yang berkembang di lingkungan pesantren, Gus Maksum dikenal sebagai sosok yang memiliki kemampuan kanuragan.
Biografi yang diterbitkan Pagar Nusa mencatat sejumlah kisah yang banyak diceritakan masyarakat, seperti mampu melompat dari satu tiang masjid ke tiang lainnya serta mengangkat atau melempar seekor kuda. Riwayat-riwayat tersebut merupakan bagian dari tradisi lisan yang berkembang di kalangan murid dan masyarakat sekitar, serta menjadi bagian dari kisah yang melekat pada sosok Gus Maksum.
Selain itu, beliau dikenal menjalani berbagai bentuk tirakat, salah satunya puasa ngrowot, yaitu tidak mengonsumsi nasi dalam kesehariannya. Gus Maksum juga disebut memelihara berbagai satwa seperti ular, buaya, orang utan, hingga harimau. Catatan mengenai hal tersebut banyak ditemukan dalam biografi yang diterbitkan Pagar Nusa dan berbagai tulisan mengenai perjalanan hidup beliau.
Sumber-sumber biografi menggambarkan Gus Maksum sebagai ulama yang memiliki penampilan khas.
Beliau dikenal berambut panjang, berjanggut lebat, berkumis tebal, mengenakan sarung di atas mata kaki, serta sering memakai sandal bakiak. Penampilan tersebut membuat Gus Maksum sering disebut sebagai kiai yang memiliki karakter berbeda dibandingkan sebagian besar ulama pesantren pada masanya.
Meski demikian, berbagai catatan tetap menempatkan beliau sebagai sosok yang dihormati oleh kalangan santri maupun pendekar.
Pendiri GASMI
Selain dikenal sebagai tokoh penting Pagar Nusa, Gus Maksum juga tercatat sebagai pendiri Gerakan Aksi Silat Muslim Indonesia (GASMI) yang berkembang cukup luas, khususnya di wilayah Kediri dan sekitarnya.
Sejarah keluarga Lirboyo menyebutkan bahwa kelahiran Abdullah Maksum Jauhari kemudian melahirkan salah satu perguruan silat yang memiliki pengaruh besar di Kediri, yaitu GASMI.
Perguruan tersebut menjadi salah satu wadah pembinaan pencak silat yang memadukan nilai-nilai keislaman dengan pendidikan karakter.
Peran Besar dalam Berdirinya Pagar Nusa
Nama Gus Maksum tidak dapat dipisahkan dari sejarah berdirinya Pagar Nusa, organisasi pencak silat resmi di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Mengutip biografi Pagar Nusa, proses pembentukan organisasi tersebut bermula ketika pendekar asal Surabaya, KH. Suharbillah, menemui KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) untuk membahas perlunya organisasi yang mampu menyatukan berbagai aliran pencak silat di lingkungan NU.
Hasil pembahasan tersebut kemudian dilanjutkan dengan menemui Gus Maksum di Lirboyo. Pertemuan itu menjadi embrio lahirnya Pagar Nusa sebagai organisasi pencak silat di bawah naungan PBNU.
Dalam perkembangan berikutnya, Gus Maksum dipercaya menjadi Ketua Umum pertama Pagar Nusa. Pengukuhan kepengurusan dilakukan oleh Ketua Umum PBNU KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bersama Rais Aam PBNU KH. Achmad Shiddiq, sebagaimana dikutip dalam sejarah resmi organisasi.
Peran tersebut menjadikan Gus Maksum sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam penyatuan berbagai perguruan silat Nahdlatul Ulama di tingkat nasional.
Hubungan dengan Perkembangan Pondok Pesantren Lirboyo
Riwayat keluarga Gus Maksum juga berkaitan erat dengan perjalanan Pondok Pesantren Lirboyo.
Mengutip sejarah Lirboyo, pesantren yang berdiri pada 1910 mengalami berbagai fase perkembangan. Pada 1942, Madrasah Hidayatul Mubtadiin mengalami kemunduran akibat situasi pendudukan Jepang sehingga jumlah santri menurun menjadi sekitar 150 orang.
Setelah Indonesia merdeka, Lirboyo ikut mendukung Resolusi Jihad 1945 yang diserukan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dengan mengirimkan para santri untuk bergabung dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Selanjutnya pada 1947, didirikan Madrasah Mu’allimin yang memperbarui sistem pendidikan pesantren. Setelah wafatnya KH. Abdul Karim pada 1954, kepemimpinan pesantren diteruskan oleh KH. Marzuqi Dahlan dan KH. Mahrus Ali, sebelum akhirnya berkembang menjadi salah satu pesantren terbesar di Indonesia.
Lingkungan pendidikan inilah yang membentuk perjalanan intelektual dan spiritual Gus Maksum sejak kecil.
Wafat dan Warisan Perjuangan
Dilansir dari biografi Pagar Nusa, KH. Abdullah Maksum Jauhari wafat pada 21 Desember 2003 di Kanigoro, Kediri.
Beliau dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga Pondok Pesantren Lirboyo. Kepergiannya meninggalkan warisan penting berupa pengembangan pencak silat pesantren, pendidikan karakter berbasis keislaman, serta lahirnya organisasi yang hingga kini masih aktif membina ribuan anggota di berbagai daerah.
Nama Gus Maksum juga terus dikenang melalui perkembangan Pagar Nusa, GASMI, serta berbagai pengajian dan kajian sejarah yang membahas kontribusinya terhadap dunia pesantren dan pencak silat Indonesia.
Baca Juga : 14 Perguruan Silat Desak Ketua IPSI Blitar Mundur, Ternyata dijabat Begundal PSHTPM
Profil Gus Maksum Jauhari menunjukkan bahwa sosok KH. Abdullah Maksum Jauhari bukan hanya dikenal sebagai ulama kharismatik dari keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo, tetapi juga memiliki kontribusi besar dalam perkembangan pencak silat Islam di Indonesia. Berasal dari garis keturunan pendiri Lirboyo, Gus Maksum menjadi tokoh penting di balik lahirnya Pagar Nusa dan GASMI, sekaligus meninggalkan warisan berupa pembinaan spiritual, pendidikan pesantren, serta penguatan nilai-nilai bela diri yang berlandaskan ajaran Islam. Hingga kini, perjalanan hidup dan kiprahnya masih menjadi bagian penting dari sejarah Nahdlatul Ulama, dunia pesantren, dan perkembangan pencak silat nasional.(ikrar)
