
Bentrok Perguruan Silat di Tulungagung Pecah, Motor Ludes Dibakar
Ilmusetiahati.com , TULUNGAGUNG – Kerusuhan yang melibatkan massa dari dua kelompok perguruan pencak silat kembali pecah di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, pada Sabtu (22/8/2026) dini hari. Bentrokan fisik ini berujung pada pembakaran satu unit sepeda motor serta memakan korban luka-luka akibat sabetan senjata tajam.
Baca Juga : Wejangan Ujang Wartono, Fanatisme Buta Berujung Penjara Tanpa Perlindungan
Berdasarkan informasi yang dihimpun, bentrok antaroknum pesilat ini terjadi di kawasan utara lapangan voli Desa Tegalrejo, Kecamatan Rejotangan, Tulungagung, sekitar pukul 04.30 WIB. Insiden tragis tersebut berawal dari perselisihan di media sosial yang sempat dicoba diselesaikan melalui jalur duel individu, namun berakhir ricuh karena salah satu pihak tidak terima atas kekalahannya.
Berawal dari Unggahan Status WhatsApp yang Memancing Emosi
Akar permasalahan ini bermula pada awal Agustus 2026. Saat itu, seorang pemuda berinisial SFA (19), anggota salah satu perguruan silat, membuat unggahan status di aplikasi WhatsApp yang dinilai menyinggung dan memprovokasi kelompok perguruan silat lain. Tanpa disadari, tangkapan layar (screenshot) status WA tersebut menyebar luas di media sosial hingga memicu kemarahan anggota perguruan lawan.
Guna menyelesaikan ketegangan tersebut, beberapa orang mendatangi kediaman SFA di Desa Tegalrejo pada Kamis (20/8/2026) malam. Kedua belah pihak kemudian sepakat untuk menyudahi perselisihan lewat duel satu lawan satu di Lapangan Desa Tegalrejo dengan perjanjian bahwa masalah diabaikan dan dianggap tuntas setelah perkelahian tersebut.
Dalam duel persahabatan berujung kekerasan itu, SFA keluar sebagai pemenang. Namun, kesepakatan damai rupanya tidak berjalan mulus.
Kalah Duel, Massa Gabungan Datang Minta Tanding Ulang
Ketidakpuasan atas hasil pertarungan membuat kelompok lawan kembali mendatangi lokasi pada Jumat (21/8/2026) siang. Pihak lawan membawa massa dalam jumlah lebih besar untuk menuntut tanding ulang (rematch).
Meski sempat diabaikan oleh warga dan kelompok setempat, situasi semakin memanas menjelang Sabtu dini hari. Puncaknya, sekitar 150 orang massa pendatang berhadapan langsung dengan sekitar 30 orang massa perguruan silat lokal.
Aksi saling lempar batu dan benda tumpul tak terhindarkan. Karena kalah jumlah secara signifikan, massa perguruan lokal memilih untuk mundur dan menyelamatkan diri.
Baca Juga : Eyang Badini Penyempurna Lambang PSHT
Sayangnya, naas bagi FIFH (18), warga Desa Buntaran. Sepeda motor Honda Vario miliknya bernomor polisi AG 2863 RFZ tidak sempat diselamatkan lantaran kunci kontak terbawa oleh rekannya. Sepeda motor tersebut akhirnya menjadi sasaran amukan massa hingga ludes terbakar dan hanya menyisakan rangka. Selain kerugian materiil, seorang remaja berinisial GIM (17) mengalami luka sabetan senjata tajam di bagian siku dan dada kanan.
Kepolisian dan Gugus Tugas Upayakan Jalan Damai
Kasi Humas Polres Tulungagung, Iptu Nanang Murdiyanto, membenarkan adanya insiden bentrokan antaroknum perguruan pencak silat tersebut. Saat ini, kasus tersebut tengah ditangani oleh Gugus Tugas Penanganan Konflik Antar Oknum Anggota Perguruan Pencak Silat Kabupaten Tulungagung.
“Masalah ini sedang dalam proses penyelesaian melalui mekanisme yang ada,” ujar Iptu Nanang.
Sesuai dengan kesepakatan antarperguruan silat di wilayah Tulungagung, setiap konflik yang terjadi akan diprioritaskan melalui proses musyawarah dan perdamaian. Terduga pelaku diwajibkan memberikan ganti rugi atas kerusakan dan cedera yang dialami korban. Namun, apabila kesepakatan damai dan ganti rugi tidak tercapai, pihak korban berhak melanjutkan kasus ini ke jalur hukum melalui laporan resmi kepolisian.(muji)
