Paradigma Ajaran Setia Hati : Antara Pengakuan dan Kenyataan

Paradigma Ajaran Setia Hati : Antara Pengakuan dan Kenyataan

Ilmusetiahati.com – Paradigma Ajaran Setia Hati : Antara Pengakuan dan Kenyataan
• Mengaku ngugemi “SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI“, kenyataanya: banyak sekali menyelesaikan masalah dengan kekerasan, bukan hanya dengan orang lain bahkan dengan saudaranya sendiri.

Baca Juga : Selamat Hari Pencak Silat Indonesia

• Mengaku ngugemi “NGELURUG TANPO BOLO“, kenyataanya: bahkan untuk menyelesaikan masalah internal dengan sedulur harus melibatkan banyak warga. Orang yang mestinya bisa menyelesaikan dengan cara pembicaraan malah menggerakan para warga untuk menghadapi.


• Mengaku ngugemi “MIKUL DUWUR, MENDHEM JERU“, kenyataan: permasalahan yang terjadi diinternal organisasi sampai dibawa-bawa ke media social. Ketidak sesuaian paham atau pandangan digunakan untuk menjelek-jelekan dihadapan para warga yang menjadi pengikut, bahkan kepada warga yang baru di sahkan. Ironisnya ini dilakukan oleh warga senior bahkan sudah mencapai trap (tingkat) 2.


• Mengaku ngugemi “OJO GAWE SUSAHE LIYAN, OPO ALANE GAWE BUNGAHE LIYAN” kenyataanya: berbondong membawa pengikutnya untuk ribut dengan saudaranya yang akirnya membuat masyarakat menjadi takut. Lebih ironis lagi terjadi pemaksaan dan saling intimidasi.


• Mengaku ngugemi “ORA ONO KAMULYAN TANPO PASEDULURAN“, kenyataanya: malah memecah belah persaudaraan dengan bermusuhan bahkan saling mengancam. Ironisnya sampai melakukan pemukulan.


• Mengaku ngugemi “SANG PENJAGA AJARAN“, kenyataanya: Ajaran yang mana yang dijaga? Coba lihat yang tertulis diatas, kira” ajaran apa yang dijaga? Ajaran SETIA HATI?!


• Mengaku ngugemi “SEDULURAN TANPO WATES“, kenyataanya: telah membatasi seduluran dengan membuat kelompok sendiri-sendiri.


• Mengaku ngugemi “ILMU SETIA HATI”, kenyataanya: Ada mukadimah yang menjadi pokok ajaran dan sumpah yang pernah di ucap. Namun kenyataanya banyak sekali yang dilanggar. Cukup satu saja contoh: dilarang berkelahi sesama saudara, apakah ini di ugemi..?!

Silahkan dipikir dan dirasakan, itu MELANGGAR SUMPAH. pasti semua sudah paham apa itu hukum karma, tapi apakah itu ditakuti? Banyak yang tidak takut. Jika sudah demikian apakah itu yang disebut SETIA HATI?!
shterate.com