
Dulu GPO Demo PAM, Kemanakah GPO Sekarang?
Ilmusetiahati.com, MADIUN – Demonstrasi di Padepokan Agung Madiun, Jl. Merak No. 10, yang dilakukan oleh GPO (Gerakan Penyelamat Organisasi), dipicu oleh terbitnya SK No. 86/2014 mengenai reorganisasi kepengurusan PSHT yang dinilai dilakukan tanpa melalui Mubes/Parluh.
Baca Juga : 3 Amanah Terakhir Kang Mas Tarmadji Untuk SH Terate
Dalam aksi tersebut, GPO menyuarakan sejumlah tuntutan, antara lain:
1. Penyelenggaraan Mubes/Parluh;
2. Audit aset Yayasan SH Terate;
3. Pemisahan kewenangan antara Dewan Pusat dan Pengurus Pusat;
Serta penataan kembali organisasi PSHT melalui mekanisme musyawarah.
Lantas, ke manakah GPO saat ini?
Seiring perjalanan waktu, dinamika organisasi yang melibatkan para tokoh dan anggota GPO berkembang ke dalam beberapa arah.
1. Menjadi PSHT 1922 Indonesia
PSHT 1922 Indonesia memilih untuk tidak memihak kepada kubu PSHT maupun PSHTPM dan mendorong penyelesaian melalui MUBESLUB (Musyawarah Besar Luar Biasa).
Pada 2019, PSHT yang dipimpin Kang Mas Taufiq sempat melakukan pendekatan dengan Kang Mas Imam Koeskartono. Namun, upaya tersebut belum menghasilkan kesepakatan.
Dalam perkembangannya, sebagian anggota PSHT 1922 bersama Kang Mas Bagyo TA Nyawiji kemudian melebur ke dalam PSHT. Sementara itu, kelompok yang tetap bersama Kang Mas Imam Koeskartono kemudian membentuk wadah baru bernama PSHT 1922 Indonesia.
2. Korlap T
Dalam perkembangannya pada periode 2014–2016, Korlap T disebut lebih condong kepada kelompok Kang Mas Imam Koeskartono.
Namun, setelah terjadinya konflik internal PSHTPM pada 2017, sikap Korlap T yang berbasis di Magetan kemudian mengikuti sikap dan keputusan Cabang Magetan.
Hingga saat ini, Korlap T mempertahankan sikap untuk tetap berada pada garis PSHT hasil Parluh 2016.
3. Garda Terate
Garda Terate, yang dipimpin Kang Mas Puguh Wicaksono, mengalami perkembangan tersendiri setelah konflik internal PSHT pada 2017.
Karena banyak anggotanya merupakan tokoh dan memiliki basis yang cukup kuat di wilayah Madiun, secara ikatan organisasi dan emosional Garda Terate kemudian disebut lebih condong kepada PSHTPM.
Arah tersebut semakin terlihat dengan peresmian Garda Terate pada 2019 di Padepokan Agung, Jl. Merak No. 17, yang menjadi momentum bergabungnya Garda Terate ke dalam PSHTPM.
Pada 2025, Garda Terate sempat menyerukan rekonsiliasi nasional dan mendukung gagasan PSHT Nyawiji. Komunikasi serta pendekatan dengan Ketua Umum PSHT, Kang Mas Taufiq, juga sempat berlangsung. Namun, hingga kini belum menghasilkan kesepakatan penyatuan.
Dengan demikian, berdasarkan perkembangan yang Anda uraikan, Garda Terate saat ini masih berada dan melebur dalam PSHTPM.(windy)
