
10 Anggota Perguruan Historis Pencak Silat IPSI
Ilmusetiahati.com, JAKARTA – Perguruan Historis Pencak Silat memegang peranan krusial dalam perjalanan sejarah dan konsolidasi organisasi beladiri nasional di Indonesia. Berdasarkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) hasil Musyawarah Nasional (Munas) tahun 2026, tercatat sebanyak 18 perguruan pencak silat terdaftar di tingkat IPSI Pusat. Struktur keanggotaan tersebut terbagi menjadi 10 perguruan historis yang memegang status sebagai Anggota Khusus IPSI, serta 8 perguruan lainnya yang berstatus sebagai Anggota Biasa.
Baca Juga : PARLUH PSHT Ditunda, Pengurus Pusat Tempuh Jalur Hukum
Lahirnya istilah Perguruan Historis Pencak Silat tidak lepas dari dinamika konsolidasi organisasi beladiri nasional pada era 1970-an. Pada dekade tersebut, muncul kerangka konseptual yang menempatkan induk-induk olahraga beladiri sebagai instrumen pertahanan nasional, sehingga pimpinan cabang beladiri mulai dipercayakan kepada tokoh-tokoh militer. Perkembangan penting terjadi pada Kongres IPSI IV tahun 1973 di Jakarta. Dalam kongres tersebut, Letjen TNI Tjokropranolo—tokoh yang dikenal dengan panggilan Bang Nolly sekaligus mantan pengawal pribadi Panglima Besar Jenderal Soedirman pada masa revolusi nasional—terpilih menggantikan Mr. K.R.M.T. Wongsonegoro yang telah berusia lanjut sebagai Ketua Umum PB IPSI.
Lansiran sejarah IPSI mencatat bahwa Letjen TNI Tjokropranolo dengan dukungan sejumlah perguruan pencak silat melakukan pendekatan strategis kepada pimpinan Persatuan Pencak Silat Indonesia (PPSI). Langkah pendekatan ini membuahkan hasil dalam Kongres IPSI IV, di mana PPSI resmi melebur dan bergabung ke dalam wadah IPSI. Keberhasilan penyatuan ini didorong oleh faktor korps kepemimpinan PPSI yang berada dalam satu naungan Corps Polisi Militer bersama Letjen TNI Tjokropranolo. Perguruan-perguruan yang terlibat aktif dalam proses reunifikasi ini dinilai berjasa besar dalam mempersatukan kembali seluruh jajaran pencak silat ke dalam wadah tunggal.
Pada era kepemimpinan Mayjen TNI Eddie Mardjoeki Nalapraya, perguruan-perguruan yang memperjuangkan keutuhan organisasi tersebut dianugerahi status resmi sebagai Perguruan Historis Pencak Silat dan ditetapkan sebagai Anggota Khusus IPSI. Sumber organisasi menegaskan bahwa kelompok perguruan ini memberikan kontribusi mendasar terhadap arah perkembangan pencak silat antara tahun 1948 dan 1973. Kontribusi strategis tersebut mencakup empat pilar utama: kesatuan pemikiran dalam pembentukan wadah nasional tunggal IPSI, kesatuan tekad menjaga IPSI sebagai satu-satunya organisasi pencak silat nasional, kesatuan dukungan integrasi ke dalam Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), serta kesatuan dukungan untuk mempertandingkan pencak silat dalam Pekan Olahraga Nasional (PON).
Profil dan Legasi 10 Perguruan Historis Pencak Silat IPSI
Berikut adalah rincian profil, sejarah pendirian, filosofi, serta struktur kepemimpinan terkini dari 10 Perguruan Historis Pencak Silat yang terdaftar sebagai Anggota Khusus IPSI Pusat:
1. Persaudaraan Setia Hati (PSH)
Persaudaraan Setia Hati didirikan pada tanggal 22 Mei 1932 di Semarang, Jawa Tengah, oleh Moenandar Hardjowiyoto bersama para pengikut ajaran Ki Ngabehi Soerodiwiryo. Mengutip data sejarah perguruan, organisasi ini mengambil peran aktif sebagai salah satu perintis berdirinya IPSI pada tahun 1948, sebelum akhirnya secara resmi mengadopsi nama Persaudaraan Setia Hati pada tahun 1972. Dalam struktur organisasi terkini, kepemimpinan Persaudaraan Setia Hati dipegang oleh Pudji Handoko selaku Ketua Umum untuk masa jabatan periode 2022–2027.
2. Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT)
Cikal bakal Persaudaraan Setia Hati Terate dirintis pada tahun 1922 oleh Ki Hadjar Hardjo Oetomo di Madiun, Jawa Timur. Pada awal berdiri, organisasi ini berbentuk perkumpulan bernama Setia Hati Pencak Sport Club (SH PSC), sebelum bertransformasi menjadi organisasi persaudaraan pencak silat pada tahun 1948. Berdasarkan rujukan legalitas hukum terbaru, Kementerian Hukum Republik Indonesia telah menerbitkan Keputusan Nomor AHU-0005248.AH.01.07.Tahun 2025 yang meresmikan pengesahan badan hukum kepengurusan PSHT di bawah kepemimpinan Dr. Ir. Muhammad Taufiq, S.H., M.Sc..
3. Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri
Kelatnas Indonesia Perisai Diri didirikan pada tanggal 2 Juli 1955 di Surabaya, Jawa Timur, oleh R.M. Soebandiman Dirdjoatmodjo. Mengutip keterangan resmi perguruan, aliran ini mengintegrasikan teknik dari ratusan aliran silat Nusantara yang dipadukan dengan unsur bela diri Shaolin. Perguruan ini dikenal secara luas lewat metode latihan “Serang Hindar” serta semboyan “Pandai Silat Tanpa Cedera”. Untuk kepengurusan pusat terkini, posisi Ketua Umum Pengurus Pusat Kelatnas Perisai Diri dijabat oleh Prof. Dr. Ir. Dwi Soetjipto, M.M., yang memimpin organisasi sejak tahun 2015.
4. Perguruan Silat Nasional Perisai Putih
PSN Perisai Putih didirikan pada tanggal 1 Januari 1967 di Surabaya oleh R. Ahmad Boestami Barasoebrata (Pak Boestam). Dilansir dari catatan sejarahnya, organisasi ini awalnya bernama Sekolah Bela Diri Tanpa Senjata Yiusika Perisai Putih yang menggabungkan unsur Yiu-yitsu, Silat, dan Karate. Guna memenuhi persyaratan keanggotaan IPSI tanpa membawa kesan unsur beladiri asing, nama “Yiusika” kemudian dihapuskan. Perguruan ini diakui secara resmi sebagai Perguruan Historis pada Kongres IPSI IV tahun 1973. Kepemimpinan pusat saat ini dipegang oleh Drs. H. Brigjen Pol (Purn) Taufik Anshorie sebagai Ketua Umum.
5. Perguruan Seni Beladiri Indonesia Tapak Suci Putera Muhammadiyah
Tapak Suci Putera Muhammadiyah didirikan pada tanggal 31 Juli 1963 (bertepatan dengan 10 Rabiul Awal 1383 H) di Kauman, Yogyakarta. Kelahiran perguruan ini merupakan hasil peleburan tiga aliran lokal, yaitu Cikauman, Seranoman, dan Kasegu. Sebagai organisasi otonom (ortom) ke-11 di bawah persyarikatan Muhammadiyah, Tapak Suci memadukan olahraga fisik dengan dakwah Islam berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Berdasarkan hasil Muktamar ke-16 di Semarang, Ketua Umum Pimpinan Pusat Tapak Suci periode 2026–2031 dijabat oleh Drs. H. M. Afnan Hadikusumo, P.Br., yang mengusung prinsip landasan moral melalui pernyataan: “Dengan Iman dan Akhlak saya menjadi kuat, tanpa Iman dan Akhlak saya menjadi lemah.”
6. Perguruan Pencak Silat Phashadja Mataram
Phashadja Mataram didirikan pada tanggal 21 Oktober 1950 di Yogyakarta oleh KRT. Soetardjonegoro. Sumber internal perguruan mencatat keunikan Phashadja Mataram yang secara tradisi hanya menerima murid laki-laki, dengan filosofi membentuk karakter pemimpin (imam) yang berakhlak mulia, seimbang jasmani-rohani, serta mengedepankan pengendalian diri. Nama Phashadja merupakan akronim filosofis dari Pha (Phasa/Puasa), Sha (Shandjata/Senjata), dan Dja (Djumedho/Keluar). Kepemimpinan tertinggi saat ini diemban oleh Raden Andri Darmawanto, S.E., M.M., selaku Ketua Umum sekaligus Pendekar Besar yang merupakan generasi ketiga penerus takhta pendiri.
7. Perguruan Pencak Indonesia Harimurti
PerPI Harimurti berakar dari tradisi pencak silat Keraton Yogyakarta (Pencak Tejokusuman) yang dirintis oleh R.M. Harimurti, putra pangeran sekaligus cucu Sri Sultan Hamengkubuwono VII. Keilmuan ini diteruskan kepada murid utamanya, Suko Winadi, yang memformalkan organisasi di Yogyakarta pada tanggal 23 Oktober 1932 dengan nama awal Persatuan Pencak Indonesia (PerPI). Berdasarkan rekam jejak historis, PerPI Harimurti berkontribusi dalam perjuangan fisik kemerdekaan, melatih satuan militer elite TNI, hingga mewarnai perfilman laga nasional era 1970-an. Kepengurusan pusat saat ini dipimpin oleh Prof. Dr. Siswantoyo, M.Kes., AIFO. selaku Ketua Umum.
8. Persatuan Pencak Silat Indonesia (PPSI)
PPSI didirikan pada tanggal 17 Agustus 1957 di Bandung, Jawa Barat, atas prakarsa para perwira militer Kodam III/Siliwangi—seperti Kolonel R.A. Kosasih, Kolonel Hidajat, dan Kolonel Haroen—bersama tokoh pejuang Sunda Raden Ema Bratakoesoemah. Sumber sejarah menunjukkan bahwa PPSI awalnya dibentuk sebagai langkah taktis membentengi wilayah Jawa Barat dari ancaman pemberontakan DI/TII. Setelah sempat mengalami dinamika dualisme organisasi, PPSI secara resmi menyatukan diri ke dalam IPSI pada Kongres IV tahun 1973. Saat ini, posisi Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PPSI dijabat oleh Galih Santika.
9. Persatuan Pencak Silat Putra Betawi
PPS Putra Betawi didirikan pada tanggal 20 Januari 1972 atas prakarsa tokoh-tokoh silat Betawi seperti H. Sa’ali, S.H. (Ketua Umum pertama), Satiri, dan H. Sumarmin. Perguruan ini dibentuk sebagai wadah konsolidasi guna melestarikan dan mengoordinasikan berbagai aliran silat khas Betawi, antara lain Beksi, Sahbandar, dan Mustika Kwitang. Dalam struktur Pengurus Besar (PB) PPS Putra Betawi saat ini, posisi Ketua Umum dipegang oleh Mayjen TNI (Purn) H. Nachrowi Ramli, S.E., untuk masa bakti periode 2025–2030.
10. Keluarga Pencak Silat Nusantara (KPS Nusantara)
KPS Nusantara dirintis di Jakarta pada tanggal 28 Juli 1968 oleh tiga akademisi murid pendekar Setia Hati, yakni Moh. Hadimulyo, B.Sc., Dr. Moh. Djoko Waspodo, dan dr. Rachmadi Djoko Suwigyo. Bermula dari wadah Study Group Pencak Silat Nusantara, organisasi ini berganti nama menjadi KPS Nusantara pada tahun 1973. Perguruan ini memberikan kontribusi pada pemodernan metode latihan, penyusunan kurikulum sistematis, serta pengerjaan aturan pertandingan olahraga. Aliran KPS Nusantara memadukan teknik silat tradisi seperti Cimande, Cingkrik, dan Setia Hati dengan unsur beladiri luar. Kepengurusan PB KPS Nusantara periode 2023–2027 dipimpin oleh Jenderal Polisi (Purn.) Drs. Roesmanhadi, S.H., M.H. selaku Ketua Umum.
Daftar Anggota Biasa dalam Struktur PB IPSI
Selain 10 perguruan historis, rujukan AD/ART IPSI menetapkan 8 organisasi perguruan silat yang bergabung setelah pembentukan IPSI dan memegang status sebagai Anggota Biasa di tingkat Pusat:
Ikatan Keluarga Silat Putra Indonesia (IKSPI) “Kera Sakti”
Perguruan Pencak Silat Bela Diri Tangan Kosong Merpati Putih
Perguruan Pencak Silat Satria Muda Indonesia
Perguruan Silat Nasional ASAD (Persinas ASAD)
Pencak Silat Tenaga Dasar Indonesia
TETADA Kalimasada Indonesia
Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa
Persatuan Pencak Silat Militer (PSM)
Sesuai dengan ketentuan organisasi IPSI, kedudukan seluruh Anggota Biasa baik di tingkat IPSI Pusat maupun IPSI Provinsi senantiasa berada dalam mekanisme evaluasi berkala guna memastikan pemenuhan kriteria dan persyaratan keanggotaan yang berlaku.
Baca Juga : Dulu GPO Demo PAM, Kemanakah GPO Sekarang?
Keberadaan Perguruan Historis Pencak Silat beserta Anggota Biasa dalam struktur PB IPSI menjadi bukti dinamika perjalanan pencak silat dari tradisi lokal menuju cabor prestasi nasional dan internasional. Evaluasi keanggotaan yang berkelanjutan memastikan seluruh perguruan tetap memberikan kontribusi nyata bagi pelestarian budaya dan pengembangan olahraga beladiri di Indonesia.(windy)
