Warga PSHT Jadi Awak Kapal Selam KRI Nanggala 402

Warga PSHT Awak Kapal Selam KRI Nanggala 402

Ilmusetiahati.com – Kapal Selam KRI Nanggala 402 hilang sejak Rabu (22/4/2021).

Kabar hilang kontaknya tersebut dikonfirmasi oleh Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto.

 “Baru izin menyelam setelah diberi clearance, langsung hilang kontak,” ujar Hadi dikutip dari Kompas.com Rabu (22/4/2021).

Ada 53 awak kapal di dalam kapal selam yang kini hilang kontak tersebut.

Baca Juga : Seluruh Ketua Umum SH Terate

Kini sudah 3 hari kapal tersebut hilang kontak, sementara cadangan oksigen di KRI Nanggala-402 hanya bisa bertahan selama 72 jam dalam kondisi black out.

Awak Kapal Selam KRI Nanggala Warga PSHT

Terdapat 4 Nama Anggota PSHT Saudara PSHT yang berada dalam kapal selam KRI Nanggala.

  1. Choirul Leting (2019)
  2. Setyo Leting (2019)
  3. Bambang Leting (1998)
  4. Roni Leting (2006)

Dari PSHT Cabang Surabaya, Rayon Rumdis Angkatan Laut Ranting Semampir Surabaya.

Korps Hiu Kencana

Mereka yang tergabung dalam tim yang mengoperasikan di jajaran TNI Angkatan Laut disebut dengan Korps Hiu Kencana.

Mengutip Harian Kompas, 29 Desember 2011, untuk menjadi ‘hiu’ butuh karakteristik khusus dan yang pertama adalah mental.

Hal ini karena mereka harus menyelam berhari-hari dalam ruang tertutup berukuran kecil padahal tugas harus berhasil dengan risiko yang menyertainya.

“Orang suka mengira, kapal selam itu ada jendelanya bulat-bulat jadi kita bias lihat ikan-ikan, padahal semua tertutup,” ujar Perwira Pelaksana KRI Ckara 401 Kapten Yulius Zaenal.

Baca Juga : Hari Pertama PSHT Berorganisasi

Tak banyak orang yang hidup di dalam air karena selain harus tahan kejenuhan dan ruang tertutup, kru juga harus tenang menghadapi tekanan.

Karena itulah anggota Hiu Kencana disebut dengan pasukan khusus.

Prajurit yang bisa menjadi ‘hiu’ harus berdinas di TNI AL selama setidaknya dua tahun.

Ia kemudian akan menjalani tes.

Mereka yang lulus serangkaian tes kemampuan, psikologi, dan fisik kemudian menempuh pendidikan selama tiga bulan di sekolah kapal selam di Kodikal, tiga bulan sesuai jurusan, seperti navigasi atau sonar, kemudian tiga bulan ketiga mulai ikut berlayar.

Setelah menjadi kru kapal selam, secara rutin enam bulan sekali dipantau keadaan fisik dan psikisnya.