Berita TerkiniTerpopuler

Apel Siaga PSHT Sragen Satukan Ribuan Warga Menjelang Parluh 2026

Ilmusetiahati.com SRAGEN — Apel Siaga PSHT Sragen yang melibatkan ribuan warga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Sragen sukses digelar di Alun-alun Sasana Langen Putra, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, pada Minggu sore (30/8/2026). Ribuan anggota dari puluhan Ranting se-Kabupaten Sragen—termasuk wilayah perbatasan seperti Miri, Mondokan, Sumberlawang, Jenar, Sukodono, Gesi, hingga Sambirejo—berkumpul membawa bendera organisasi dan bendera Merah Putih. Konsolidasi massal ini diselenggarakan oleh pengurus PSHT Cabang Sragen di bawah pimpinan Suwanto guna menyongsong musyawarah tertinggi organisasi, yaitu Parapatan Luhur (Parluh) 2026, yang dijadwalkan berlangsung di Padepokan Agung Madiun, Jawa Timur, pada 25 September 2026.

Baca Juga : Rakor Parluh PSHT 2026 Teguhkan Rekonsiliasi Nasional, APH Siap Amankan Musyawarah Tertinggi di Madiun

Kegiatan apel siaga tersebut tidak sekadar menjadi ajang kumpul anggota, melainkan sebuah agenda strategis untuk memperkuat ikatan emosional dan menjaga keamanan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Mengutip dari keterangan resmi pengurus PSHT Cabang Sragen, acara tersebut diwarnai pembacaan naskah deklarasi damai yang dipimpin langsung oleh Ketua PSHT Cabang Sragen, Suwanto, di hadapan jajaran pengurus serta ribuan peserta apel di pusat Bumi Sukowati.

Dilansir dari laporan penyelenggara kegiatan, persiapan menjelang Parapatan Luhur 2026 di Padepokan Agung Madiun tersebut ditandai dengan prosesi spiritual ritual potong tumpeng. Panitia menyediakan sebanyak 19 nasi tumpeng atau buceng golong sebagai bentuk simbolisme golong gilik atau kebulatan tekad serta kerukunan seluruh warga PSHT. Angka 19 tumpeng ini mencakup representasi dari keberadaan ranting-ranting PSHT di wilayah hukum Kabupaten Sragen yang berkomitmen menjaga keutuhan organisasi.

Mengutip dari orasi Suwanto saat bertindak sebagai pembina apel di Alun-alun Sasana Langen Putra, pengurus menekankan pentingnya menjaga suasana kondusif di daerah. Suwanto menyampaikan amanat dan pesan dari Bupati Sragen agar seluruh elemen warga PSHT dapat bersinergi dengan aparat Kepolisian Resor (Polres) Sragen dan Komando Distrik Militer (Kodim) 0725/Sragen dalam merawat kondusivitas keamanan wilayah. Alun-alun Sragen yang diposisikan sebagai titik nol Sukowati menjadi tempat sakral untuk menyuarakan komitmen persaudaraan tanpa sekat.

“Dalam persaudaraan tidak usah ada banyak-banyakan dan tidak usah teriak-teriak. Kami berkomitmen menjaga paseduluran tanpa wates atau batas. Siapa pun yang disahkan mulai dari sabuk polos sampai sabuk putih, semuanya saudara. Mereka yang kembali akan diterima. Ini janji kami di titik nol Sragen,” tegas Suwanto dalam orasinya di Alun-alun Sragen.

Lebih lanjut, sumber dari internal organisasi menyebutkan bahwa falsafah Jawa yen wani aja wedi-wedi lan yen wedi aja wani-wani menjadi pijakan moral bagi seluruh tingkatan warga PSHT. Falsafah ini menekankan bahwa setiap tindakan anggota yang berada di jalan kebenaran harus dilakukan secara berani dan bertanggung jawab. Namun, apabila terjadi kekhilafan atau kesalahan, setiap warga diajarkan untuk bersikap legawa dan berani meminta maaf demi kebaikan bersama dan ketertiban umum.

Berdasarkan data organisasi yang dilansir dari pengurus cabang, dalam pelaksanaan Parapatan Luhur 2026 di Padepokan Agung Madiun pada 25 September 2026 mendatang, PSHT Cabang Sragen hanya akan mengirimkan delegasi resmi sebanyak 3 orang perwakilan. Pengutusan 3 orang utusan ini sesuai dengan mekanisme aturan rumah tangga organisasi yang mengatur keterwakilan cabang dalam musyawarah tertinggi tingkat nasional.

Misi utama delegasi tersebut dalam Parapatan Luhur 2026 di Madiun adalah menyuarakan pengembalian ajaran luhur organisasi serta merangkul seluruh elemen warga PSHT di seluruh Indonesia. Mengutip dari wawancara langsung usai apel, Suwanto menegaskan bahwa dinamika internal yang terjadi selama beberapa tahun terakhir harus diselesaikan melalui forum musyawarah mufakat demi persatuan yang hakiki.

“Selain apel siaga, kami juga berdoa bersama. Kami menyiapkan 19 tumpeng atau buceng golong sebagai simbol kerukunan. Kami berharap dalam Parluh 2026 di Madiun bisa merangkul seluruh saudara-saudara kami yang sekarang sedang berseberangan. Apel siaga digelar untuk kesuksesan kerukunan dan Parluh 2026,” jelas Suwanto saat ditemui wartawan seusai apel.

Upaya merangkul pihak-pihak yang memiliki perbedaan pandangan menjadi prioritas kerja pengurus PSHT Cabang Sragen. Keberadaan 19 ranting yang tersebar di wilayah utara hingga selatan Bengawan Solo di Kabupaten Sragen diharapkan mampu menjadi pelopor pergerakan positif, baik dalam bidang olahraga pencak silat, pengabdian masyarakat, maupun pembinaan karakter generasi muda.

Secara histories dan teknis, Parapatan Luhur merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam struktur organisasi PSHT yang diselenggarakan setiap 5 tahun sekali. Musyawarah ini berwenang menentukan arah kebijakan strategis organisasi, mengevaluasi kinerja pengurus pusat, serta menetapkan Majelis Luhur dan Ketua Umum untuk periode kepemimpinan berikutnya. Oleh karena itu, konsolidasi di tingkat cabang seperti di Sragen menjadi krusial guna memastikan kelancaran agenda nasional tersebut.

Baca Juga : Tabloid Keinsafan Rakyat, Warisan Hardjo Oetomo Melawan Penjajah Belanda

Melalui penyelenggaraan ikrar damai di titik nol Sukowati ini, PSHT Cabang Sragen berharap momentum Parapatan Luhur 2026 pada 25 September 2026 di Madiun dapat berjalan aman, sejuk, dan menghasilkan keputusan-keputusan yang membawa kemajuan bagi perkembangan pencak silat di Indonesia serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat luas.

Frequently Asked Questions (FAQ)

1. Apa tujuan utama digelarnya Apel Siaga PSHT Sragen di Alun-alun Sragen?

Apel siaga digelar untuk menyongsong pelaksanaan Parapatan Luhur (Parluh) 2026 di Madiun, mendeklarasikan komitmen menjaga kondusivitas kamtibmas di Kabupaten Sragen, serta mempererat persaudaraan antarwarga PSHT.

2. Kapan dan di mana Parapatan Luhur (Parluh) PSHT 2026 akan dilaksanakan?

Parapatan Luhur 2026 dijadwalkan berlangsung pada 25 September 2026 di Padepokan Agung Madiun, Jawa Timur.

3. Apa makna dari penyediaan 19 nasi tumpeng atau buceng golong dalam acara tersebut?

19 buceng golong melambangkan golong gilik atau kebulatan tekad dan simbol kerukunan seluruh warga PSHT yang mewakili ranting-ranting di Kabupaten Sragen.

4. Berapa banyak delegasi yang akan dikirim PSHT Cabang Sragen ke Parluh 2026 di Madiun?

PSHT Cabang Sragen akan mengirimkan perwakilan resmi sebanyak 3 orang sesuai dengan mekanisme ketentuan organisasi.

5. Pesan utama apa yang disampaikan Ketua PSHT Cabang Sragen Suwanto kepada para anggota?

Ketua PSHT Cabang Sragen mengimbau seluruh warga untuk menjaga paseduluran tanpa wates (persaudaraan tanpa batas), merangkul saudara yang berbeda pandangan, serta mematuhi pesan Bupati Sragen untuk memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat.(windy)

Rizkia Putra

Saya ada seorang jurnalis berpengalaman dalam bidang media dan SEO selama 5 tahun