Berita Terkini

104 Tahun PSHT, PSHTPM Gelar Tasyakuran dan Bakti Sosial

Ilmusetiahati.com MADIUN104 tahun PSHT menjadi pijakan sejarah penting bagi Persaudaraan Setia Hati Terate dalam memperkuat kontribusi budaya, spiritualitas, serta solidaritas sosial di Indonesia. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari laporan resmi Tim Humas Persaudaraan Setia Hati Terate Pusat Madiun (PSHTPM) dan lansiran publikasi kegiatan organisasi, PSHTPM menggelar malam sakral berupa doa bersama, selamatan, serta penyaluran bantuan sosial di halaman Graha Krida Budaya, Jalan Merak Nomor 17, Kelurahan Nambangan Kidul, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun. Agenda sakral yang dilaksanakan pada Rabu, 2 September 2026 mulai pukul 19.22 WIB tersebut dihadiri langsung oleh Pentolan PSHTPM Kangmas Drs. H. R. Moerdjoko H.W., Ketua Dewan Pusat Kangmas H. Issoebijantoro, S.H., jenderal pimpinan kerohanian Prof. Dr. Rr. K.H. Sutoyo, M.Ag., jajaran pengurus pusat, satuan pengamanan Pasukan Pengamanan Terate (Pamter), serta ratusan warga masyarakat sekitar kawasan padepokan.

Baca Juga : Sejarah Ulang Tahun PSHT diperingati 1 September

Mengutip dari paparan sejarah yang disampaikan pengurus organisasi, penetapan tanggal 2 September sebagai hari lahir Persaudaraan Setia Hati Terate merujuk pada peristiwa bersejarah berdirinya organisasi ini pada 2 September 1922 di Desa Pilangbango, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun. Perjalanan panjang selama lebih dari satu abad ini menegaskan peran strategis PSHT dalam melestarikan seni bela diri tradisional pencak silat sekaligus membina karakter generasi muda bangsa.

Tradisi Doa Bersama dan Bakti Sosial Warga Padepokan Agung

Rangkaian acara peringatan dimaknai melalui doa bersama yang dipimpin oleh Ketua III Kordep Kurikulum dan Ke-SH-an / Kerohanian, Prof. Dr. Rr. K.H. Sutoyo, M.Ag. Doa ditujukan khusus untuk mendoakan para leluhur, perintis, dan pendiri Persaudaraan Setia Hati Terate, seperti Ki Hadjar Hardjo Oetomo yang merintis organisasi ini sejak masa pergerakan nasional.

Dilansir dari keterangan resmi di lokasi acara, Kangmas Drs. H. R. Moerdjoko H.W., menjelaskan tujuan utama penyelegaraan kegiatan peringatan ini di hadapan para anggota dan warga sekitar.

“Malam sakral ini kita gelar doa bersama untuk mendoakan para leluhur dan pendiri Persaudaraan Setia Hati Terate, sekaligus melaksanakan bakti sosial bagi warga di lingkungan padepokan,” ujar Kangmas Drs. H. R. Moerdjoko H.W.

Satu di antara simbolis utama dalam seremoni ini adalah pemotongan tumpeng berukuran khusus dengan angka presisi. Mengutip data teknis penyelenggaraan, tumpeng peringatan disajikan dengan ukuran tinggi 104 sentimeter dan lebar 104 sentimeter, yang secara khusus merepresentasikan usia 104 tahun pergerakan organisasi. Selain seremoni selamatan, dimensi solidaritas ditunjukkan melalui pembagian paket tali asih. Sumber dari panitia mencatat sebanyak 200 paket bingkisan bakti sosial dibagikan secara langsung kepada warga masyarakat di sekitar Padepokan Agung Madiun sebagai bentuk kepedulian sosial lingkungan.

Kepedulian terhadap warga sekitar dianggap sebagai bagian integral dari keberlangsungan organisasi. Kangmas Moerdjoko menekankan bahwa masyarakat di lingkungan padepokan memiliki peran aktif dalam menjaga keamanan dan keberadaan aset-aset Padepokan Agung, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Mengusung Tema “Sinergi Budaya dan Religi di Kota Pendekar”

Peringatan usia ke-104 tahun ini mengusung tema utama “Sinergi Budaya dan Religi di Kota Pendekar”. Dokumen landasan kegiatan menyebutkan bahwa tema ini merefleksikan komitmen PSHT untuk berjalan selaras dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, serta seluruh elemen masyarakat dalam merawat nilai-nilai kebudayaan, toleransi beragama, serta keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).

Kota Madiun yang dikenal secara luas dengan julukan “Kota Pendekar” merupakan pusat pertumbuhan berbagai perguruan pencak silat historis di Indonesia. Dalam konteks pemajuan daerah, Persaudaraan Setia Hati Terate Pusat Madiun menyatakan kesiapan untuk mendukung visi pembangunan daerah berbasis potensi lokal.

Dilansir dari penyataan resmi pimpinan pusat, Kangmas Drs. H. R. Moerdjoko H.W. menegaskan kolaborasi organisasi dengan pemerintah kota.

“Kami dan PLT Walikota Mas Bagus berharap agar seluruh perguruan pencak silat yang ada di Kota Madiun dapat mewujudkan Madiun sebagai destinasi wisata religi dan wisata budaya,” tambahnya.

Konsep pengembangan destinasi wisata budaya dan religi ini menempatkan seni bela diri pencak silat bukan sekadar sebagai olahraga ketangkasan, melainkan sebagai warisan budaya takbenda (intangible cultural heritage) yang diakui dunia dan memiliki nilai edukasi serta spiritual.

Amanat Jati Diri dan Pengabdian Kepada Bangsa

Ketua Dewan Pusat PSHTPM, Kangmas H. Issoebijantoro, S.H., dalam kesempatan tersebut memberikan arahan mendalam kepada seluruh anggota keluarga besar organisasi di mana pun berada. Ia menekankan pentingnya menjaga kesucian ajaran serta akhlak dalam kehidupan bermasyarakat.

Mengutip dari amanat tertulis Dewan Pusat, Kangmas H. Issoebijantoro, S.H. menyampaikan seruan moral bagi seluruh warga PSHTPM:

“Mari kita rayakan usia ke-104 PSHT dengan tetap menjunjung tinggi nilai luhur ajaran organisasi, menjaga akhlak dan budi pekerti, serta senantiasa guyub rukun dalam menjalankan ajaran organisasi,” tegas Kangmas H. Issoebijantoro, S.H.

Nilai-nilai luhur yang dimaksud mencakup falsafah dasar Setia Hati, yakni mendidik manusia yang berbudi pekerti luhur, tahu benar dan salah, serta bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Di usia yang memasuki abad kedua ini, penguatan tata kelola organisasi serta kedisiplinan anggota melalui peran Pasukan Pengamanan Terate (Pamter) terus ditingkatkan guna memastikan setiap kegiatan berjalan tertib dan kondusif.

Rekam Jejak Sejarah PSHT

Untuk memahami secara utuh perjalanan 104 tahun PSHT, catatan sejarah organisasi mencatat bahwa cikal bakal PSHT bermula dari didirikannya Setia Hati Sport Club (PSC) oleh Ki Hadjar Hardjo Oetomo pada tahun 1922 di Desa Pilangbango, Madiun. Ki Hadjar Hardjo Oetomo, yang kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia, memanfaatkan latihan pencak silat sebagai sarana membina pemuda untuk melawan penjajahan kolonial Belanda.

Baca Juga : Doa Untuk Leluhur, Awali Peringatan Satu Abad PSHT

Seiring berjalannya waktu, nama PSC diubah menjadi Persaudaraan Setia Hati Terate pada Kongres I di Madiun tahun 1948. Dari sebuah padepokan sederhana di Madiun, PSHT kini telah berkembang pesat dengan jumlah cabang yang tersebar di lebih dari 300 kabupaten/kota di Indonesia, serta beberapa cabang khusus di luar negeri seperti di Belanda, Malaysia, Rusia, Jepang, dan Korea Selatan.

Dengan rentang sejarah yang panjang tersebut, momentum 104 tahun PSHT di Madiun menjadi pembuktian konsistensi organisasi dalam menjaga akar tradisi, memperkuat sinergi religi, serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat luas melalui aksi-aksi sosial berkesinambungan.

Frequently Asked Questions (FAQ)

1. Kapan dan di mana Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) didirikan?

Persaudaraan Setia Hati Terate didirikan pada tanggal 2 September 1922 di Desa Pilangbango, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun, Jawa Timur.

2. Siapa tokoh pendiri utama PSHT?

PSHT didirikan oleh Ki Hadjar Hardjo Oetomo, seorang Pahlawan Perintis Kemerdekaan Indonesia yang murid dari Ki Ngabehi Soerodiwirjo (Pendiri SH).

3. Apa tema utama peringatan 104 tahun PSHT di Madiun?

Tema peringatan ke-104 tahun PSHT adalah “Sinergi Budaya dan Religi di Kota Pendekar”.

4. Kegiatan apa saja yang digelar dalam memperingati usia ke-104 PSHT?

Kegiatan diisi dengan doa bersama untuk leluhur, selamatan tumpeng setinggi dan selebar 104 sentimeter, serta pembagian 200 paket bingkisan bakti sosial bagi warga di sekitar Padepokan Agung Madiun.

5. Di mana alamat pusat Padepokan Agung Persaudaraan Setia Hati Terate?

Padepokan Agung PSHT berlokasi di Jalan Merak No. 17, Kelurahan Nambangan Kidul, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Jawa Timur.(muji)

Rizkia Putra

Saya ada seorang jurnalis berpengalaman dalam bidang media dan SEO selama 5 tahun