SejarahTerpopuler

Sejarah Persaudaraan Setia Hati

Ilmusetiahati.com -Sejarah Persaudaraan Setia Hati (PSH) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dinamika perjuangan bangsa dan perkembangan pencak silat di Indonesia. Akar kultural dan spiritual organisasi ini berpusat pada sosok Ki Ngabehi Soerodiwiryo, yang juga dikenal dengan nama Mas Mohamad Masdan atau Eyang Suro. Perjalanan panjang aliran ini bertransformasi dari ikatan persaudaraan tradisional menjadi sebuah organisasi modern yang terstruktur.

Baca Juga : Geger! Siswa Sabuk Hijau PSHT Ternyata Warga Tingkat 2 SH Winongo

Dalam perkembangannya, tokoh-tokoh penting seperti Moenandar Hardjowiyoto, Ki Hadjar Hardjo Oetomo, Alip Purwowarso, hingga HRM Djimat Hendro Soewarno turut mewarnai konstelasi sejarah pembentukan berbagai organisasi pencak silat beraliran Setia Hati yang eksis hingga hari ini.

Akar Tradisi dan Pengembaraan Ki Ngabehi Soerodiwiryo

Lahir pada tahun 1876 di Surabaya, Jawa Timur, Ki Ngabehi Soerodiwiryo memulai pengembaraan fisik dan spiritualnya sejak usia muda. Dilansir dari dokumen sejarah perguruan, pada usia 15 tahun—yaitu sekitar tahun 1891—beliau bekerja sebagai juru tulis seorang kontrolir Belanda di Jombang sekalian menimba ilmu agama di Pondok Pesantren Tebu Ireng.

Setahun berselang, tepatnya pada tahun 1892, beliau berpindah tugas ke Bandung dan mulai mengintegrasikan berbagai ilmu beladiri tanah Pasundan seperti Cimande, Cikalong, Cipetir, Cibediyut, Cilamaya, Ciampea, dan Sumedangan. Pengembaraan berlanjut ke Batavia pada tahun 1893 untuk mempelajari pencak silat Betawen serta Kwitangan, hingga akhirnya beliau menetap di Padang, Sumatera Barat, pada tahun 1894.

Di ranah Minang, Mas Mohamad Masdan memperdalam puluhan aliran silat lokal, termasuk Padang Pariaman, Padang Panjang, dan Fort de Kock melalui bimbingan Datuk Rajo Batuah. Mengutip dari catatan historis rumpun Setia Hati, wejangan kerohanian dari Datuk Rajo Batuah inilah yang kelak diformulasikan oleh Eyang Suro sebagai materi “Tingkat II” dalam sistem pengajaran Setia Hati.

Setelah sempat merantau ke Aceh pada tahun 1898 dan menyerap permainan silat Aceh Pantai hingga Kucingan, beliau kembali ke Jawa. Pada tahun 1903, bertempat di Wonokromo, Surabaya, Ki Ngabehi Soerodiwiryo mendirikan perkumpulan awal bernama Sedulur Tunggal Kecer (STK) dengan sistem beladiri yang dinamakan Joyo Gendilo.

Transformasi Menjadi Setia Hati di Madiun

Pada tahun 1915, Ki Ngabehi Soerodiwiryo pindah ke Madiun dan bekerja di bengkel kereta api (Balai Yasa). Di kota inilah beliau mematangkan ajarannya menjadi Joyo Gendilo Cipto Mulyo. Berdasarkan sumber data kronik pencak silat, baru pada tahun 1917 nama persaudaraan tersebut resmi diubah menjadi “Setia Hati” (SH).

Sistem keanggotaan SH pada masa awal bersifat mengikat melalui sumpah, yang melahirkan semboyan ikonik: “Bisa masuk tetapi tidak bisa keluar”. Pertemuan antar-anggota (kadhang) rutin digelar setiap bulan Syura (Muharram) sebagai sarana pengesahan (keceran) warga baru sekaligus ajang silaturahmi langsung dengan Eyang Suro beserta keluarga di Madiun.

Sejariah Lahirnya Setia Hati Organisasi (SHO) 1932

Seiring meluasnya jumlah pengikut, muncul aspirasi dari para murid untuk membawa institusi ini ke dalam ranah formal yang legal. Tokoh utama di balik gagasan ini adalah Moenandar Hardjowiyoto, seorang tokoh pergerakan asal Ngrambe, Ngawi. Dilansir dari catatan resmi organisasi, pada tanggal 22 Mei 1932, Moenandar memprakarsai musyawarah di Semarang, Jawa Tengah, yang dihadiri oleh 50 orang kadhang Setia Hati dari wilayah Semarang, Magelang, Solo, dan Yogyakarta. Tokoh-tokoh yang tercatat hadir antara lain Suwignyo, Sukandar, Sumitro, Kasah, Karsiman, Suripno, Sutardi, Hartadi, hingga Sayuti Melok.

Sesuai dengan sumber data pendirian, forum tersebut secara aklamasi mendirikan Setia Hati Organisasi (SHO). Karena Ki Ngabehi Soerodiwiryo berhalangan hadir lantaran berada di Surabaya, Moenandar Hardjowiyoto dipilih sebagai ketua mental spiritual ke-SH-an. Langkah pelembagaan ini diambil agar aktivitas latihan memiliki payung hukum berupa Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) resmi, sehingga tidak dilarang oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda karena strukturnya dinilai tidak berbau politik praktis.

Peran Strategis PSH dalam Pendirian IPSI

Memasuki era kemerdekaan, Setia Hati Organisasi mengambil peran sentral dalam mempersatukan dunia persilatan nasional. Sumber data historis Ikatan Pencak Silat Indonesia mencatat bahwa pada tanggal 18 Mei 1948, SHO menjadi salah satu aliran pelopor utama dalam pembentukan IPSI di Surakarta.

Pertemuan tersebut mengikutsertakan tokoh-tokoh lintas daerah, seperti Datuk Ahmad Madjoindo yang mewakili aliran Minangkabau dan Surya Atmaja dari aliran Sunda. Sementara itu, SHO diwakili langsung oleh Moenandar Hardjowiyoto, Rahmad Suronagoro, serta R. Mariyun Sudirohadiprojo, di bawah pimpinan Mr. Wongsonegoro. Saat ini, PSH menempati posisi sebagai salah satu dari 10 anggota khusus sekaligus bagian dari 16 perguruan historis di tingkat Pengurus Besar IPSI.

Perubahan Nama Menjadi Persaudaraan Setia Hati (PSH)

Modernisasi organisasi berlanjut pada pelaksanaan Kongres SHO ke-10 di Semarang tahun 1954, di mana Moenandar Hardjowiyoto resmi terpilih sebagai Ketua Umum. Di bawah kepemimpinannya, prosesi keceran mulai mengalami keterbukaan informasi dengan memberikan penjelasan filosofis kepada tokoh masyarakat sebelum upacara sakral inti dimulai.

Transformasi nomenklatur terjadi secara definitif pada tahun 1972 dalam pelaksanaan Kongres ke-13 di Yogyakarta. Forum tertinggi organisasi menyepakati perubahan nama dari Setia Hati Organisasi (SHO) menjadi Persaudaraan Setia Hati (PSH). Langkah ini diambil untuk menegaskan esensi persaudaraan universal serta menghapus sekat eksklusivitas di antara rumpun keluarga besar Setia Hati.

Pasca-wafatnya Moenandar Hardjowiyoto pada tanggal 27 Januari 1979 di Ngrambe, Ngawi, kepengurusan PSH terus melanjutkan estafet organisasi secara berjenjang. Mengutip dari laporan internal Pengurus Besar Setia Hati (PBSH), saat ini PSH mengoordinasikan sedikitnya 148 pengurus daerah, cabang, dan ranting yang tersebar secara merata di seluruh wilayah administrasi Indonesia untuk pembinaan prestasi olahraga maupun pelestarian tradisi.

Sembari menjaga autentisitas ajaran, para pengurus dan anggota tetap memegang teguh falsafah kepemimpinan yang ditinggalkan oleh para perintis organisasi melalui pesan luhur:

“Ing ngarso sung tulodo, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani.”

Kalimat filosofis tersebut diwujudkan sebagai prinsip dasar bagi setiap anggota dalam mengaplikasikan kemampuan fisik beladiri dan kematangan spiritual di tengah kehidupan bermasyarakat. Melalui rekam jejak yang panjang ini, memahami SEJARAH Persaudaraan Setia Hati memberikan gambaran utuh mengenai bagaimana nilai-nilai beladiri tradisional mampu bertransformasi menjadi sebuah organisasi modern yang tertata tanpa kehilangan jati diri spiritualnya.

Sejarah dan Tradisi Persaudaraan Setia Hati

Salah satu tradisi sakral yang dipertahankan dalam Persaudaraan Setia Hati adalah ritual kecer atau kucur. Mengutip dari catatan sejarah perkembangan silat Nusantara, tradisi kecer ini sejatinya diadopsi dari aliran silat Cimande di Jawa Barat dan tidak ditemukan dalam aliran silat Minangkabau di Sumatera Barat. Secara harfiah, kecer bermakna menetesi atau mengucuri mata menggunakan media air murni melalui daun sirih yang dicelupkan. Meskipun pada beberapa aliran silat lain seperti silat Betawi media yang digunakan dapat berupa cabai, belati tajam, atau jeruk nipis demi melatih kepekaan mata secara ekstrem, PSH mempertahankan tradisi ini sebagai simbol pengikat persaudaraan yang luhur.

Baca Juga : Aryo Martosiam – Tokoh Setia Hati

Dilansir dari dokumen anggaran rumah tangga organisasi, dalam aturan PSH, seorang siswa baru tidak langsung menjalani ritual kecer, melainkan diberikan pengenalan dasar organisasi dan diajarkan jurus gerakan pra-SH terlebih dahulu. Ritual kecer baru akan dilaksanakan sebagai tanda resmi pengangkatan seseorang menjadi saudara baru atau kadhang SH. Sumber dari catatan internal organisasi menyebutkan bahwa setelah resmi dikecer, saudara baru diizinkan untuk mendalami pencak Setia Hati melalui metode bertahap yang dikenal sebagai “Bungkus Tuntun Sambung”.

  • Bungkus: Tahap awal di mana siswa wajib menghafal secara detail Jurus 1 hingga Jurus 36. Proses ini menuntut pemahaman mendalam atas nama-nama jurus, kuda-kuda (tegak), posisi tangan, serta kemiringan badan yang harus presisi sesuai anatomi tubuh dengan orientasi konstan menghadap arah jarum jam 12 secara tenang dan seimbang.

  • Tuntun: Tahap perpindahan teknik dari satu jurus ke jurus lain beserta pecahannya, termasuk pengenalan senjata tradisional seperti pisau belati, golok, keris, pedang, toya, tombak, dan kerambit yang menjadi senjata khas SH. Latihan ini kerap diiringi kesenian tradisional seperti macapat, keroncong, gambang keromong, kendang pencak, hingga tari randai.

  • Sambung: Metode simulasi perkelahian bebas satu lawan satu hingga satu lawan delapan orang. Mengutip dari petuah para sesepuh, prinsip sambung dalam SH bukan bertujuan untuk menyakiti fisik, melainkan untuk melatih aksi-reaksi, mengendalikan diri, serta menghilangkan keseimbangan lawan tanpa kontak fatal.

Sapta Wasita Tama

Dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat, setiap anggota Persaudaraan Setia Hati wajib menjadikan Sapta Wasita Tama sebagai pedoman spiritual utama. Istilah ini berakar dari kata sapta (tujuh), wasita (ajaran), dan tama (utama), yang membentuk tujuh sendi kehidupan rohani. Sumber literatur kerohanian PSH menjabarkan ketujuh butir tersebut sebagai berikut:

  1. Tuhan menciptakan alam seisinya hanya dengan sabda, sebelum disabda alam seisinya itu ada pada yang Menyabda.

  2. Setelah alam semesta seisinya ada (Disabda) Tuhan menyertai sabda-Nya.

  3. Barang siapa meninggalkan AS-nya tergelincirlah ia oleh lingkungan sekelilingnya.

  4. Barang siapa meninggalkan keseimbangan, tergelincirlah ia.

  5. Barang siapa melupakan/meninggalkan permulaan, tak akan dapat ia mengakhirinya.

  6. Barang siapa mengaku hasil karyanya menjadi milik sendiri terbelenggulah ia lahir batin.

  7. Barang siapa selalu melatih merasakan “rasaning rasa”, Insya Allah lambat laun ia akan merasakan “rosing rasa”.

Tujuan akhir dari penghayatan ajaran ini adalah pencapaian tiga pilar keselarasan hidup, yaitu kesehatan jasmani, kesejahteraan material-finansial (keselamatan dunia), serta kesehatan mental-spiritual (keselamatan akhirat).

Anatomi 36 Jurus Setia Hati

Pencak silat yang diajarkan dalam organisasi ini terdiri dari 36 jurus yang dirumuskan langsung oleh Ki Ngabehi Soerodiwiryo berdasarkan kompilasi pengalamannya merantau di berbagai daerah. Berdasarkan data teknis yang dihimpun dari dokumen organisasi tahun 1972 yang diketik ulang oleh Sarkam di Yogyakarta, berikut adalah daftar jurus dalam Persaudaraan Setia Hati:

NoNama JurusNoNama Jurus
1Betawen I19Sumedangan I
2Betawen II20Sumedangan II
3Cimande I21Lintau
4Cimande II22Cimande VI
5Cikalong (Slewah)23Alang Lawas I
6Ciampea I (Besutan)24Alang Lawas II
7Ciampea II (Krawelan)25Minangkabau I Kucingan
8Tanah Baru I26Minangkabau II Solok
9Tanah Baru II27Cibaduyut
10Permainan Tionghoa Monyetan28Cimande VII
11Cimande III29Terlakan Monyet Tukang (Tidak Diajarkan)
12Cimande IV30Padang Alai I
13Cimande V31Padang Alai II
14Cibaduyut dengan Toya32Fort De Kock
15Padang Panjang I33Padang Alai III
16Padang Panjang II34Padang Alai IV
17Cipetir35Kuda Batak
18Padang Siranti36Simpai Minangkabau III Sipai/Blirik

Catatan Historis: Sumber dari catatan dewan pendekar menegaskan bahwa jurus ke-29 sengaja tidak diajarkan kepada para kadhang. Hal ini dikarenakan saat Ki Ngabehi Soerodiwiryo menerima jurus tersebut, beliau terikat sumpah yang sangat berat oleh gurunya, sehingga beliau memilih untuk menjaga kemurnian sumpah tersebut dengan tidak mewariskannya secara umum.

Lambang Organisasi

lambang persaudaraan setia hati

Lambang Persaudaraan Setia Hati pertama kali diciptakan pada tahun 1932 oleh Moenandar Hardjowiyoto. Lambang ini berbentuk hati berwarna hitam yang terletak di dalam perisai bintang bersudut 12. Berdasarkan bedah makna lambang resmi, konfigurasi angka 12 melambangkan siklus waktu dalam satu tahun serta pembagian 12 jam siang dan malam, yang mengingatkan para kadhang agar tidak menyia-nyiakan waktu.

Sementara itu, motif 5 garis hitam di setiap sudut bintang merujuk pada simbolisme hari pasaran Jawa (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon), rukun Islam, serta kewajiban ibadah salat 5 waktu bagi umat Muslim. Secara filosofis, lambang ini menegaskan kewajiban insan SH untuk senantiasa setia pada hati sanubari sebagai jembatan spiritual antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Silsilah Kepemimpinan Pengurus Besar (PBSH)

Organisasi ini dijalankan secara struktural oleh Pengurus Besar Setia Hati (PBSH). Berdasarkan data otentik dari kongres ke-10 yang dilaksanakan di Temanggung, berikut adalah silsilah Ketua Umum PBSH dari masa ke masa:

  1. Moenandar Hardjowiyoto (Periode tahun 1932–1934)

  2. Mariyun Sudirohadiprojo (Periode tahun 1934–1938)

  3. Alip Purwowarso (Periode tahun 1938–1962)

  4. Moenandar Hardjowiyoto (Periode tahun 1962–1978)

  5. Gusti Pangeran Haryo Gondho Kusumo (Periode tahun 1978–1985)

  6. R. Mashadi Sastrohadipranoto (Periode tahun 1985–2000)

  7. Harsoyo (Periode tahun 2000–2005, terpilih melalui Munas Yogyakarta)

  8. Gambiro Gunawan (Periode tahun 2005–2010, terpilih melalui Munas Wonosobo)

  9. Trinowo Harsono (Periode tahun 2010–2022, berpusat di Padepokan Temanggung)

  10. Pudji Handoko (Periode tahun 2022–2027, terpilih berdasarkan keputusan Kongres ke X di Temanggung pada tanggal 21 Mei 2022)

Selain kepengurusan pusat, organisasi ini tumbuh subur melalui jaringan cabang aktif seperti di Semarang, Magelang, Mataram, Cepu, Jakarta, Temanggung, Siak, Tuban, hingga Lamongan. Sumber data dari badan registrasi anggota melaporkan bahwa guna menjaga kelestarian ajaran, dibentuk pula Sanggar Setia Hati sejak tahun 2007 oleh Tomy Sudrajat yang tersebar dari wilayah Sumatera hingga Jawa dengan total 10 sanggar aktif yang mengayomi puluhan kadhang di seluruh Indonesia.

Melalui konsistensi dalam menjaga kemurnian teknik bela diri serta kedalaman falsafah spiritualnya, Persaudaraan Setia Hati terus berkontribusi positif dalam membentuk karakter generasi muda Indonesia yang tangguh, toleran, dan berintegritas tinggi.(muji)

Rizkia Putra

Saya ada seorang jurnalis berpengalaman dalam bidang media dan SEO selama 5 tahun