Profil

Profil Pakubuwono XIII, Raja Surakarta yang Wafat di Usia 77 Tahun

Ilmusetiahati.com – Pada Minggu pagi, 2 November 2025, pukul sekitar 07.30 WIB di Rumah Sakit Indriati Solo Baru, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Sri Susuhunan Pakubuwono XIII wafat.

Lahir di Surakarta pada 28 Juni 1948, Pakubuwono XIII adalah anak tertua dari Sri Susuhunan Pakubuwono XII dari garwa ampil KRAy. Pradapaningrum.

Sebelum naik takhta, ia semula dinamakan Gusti Raden Mas Suryadi, namun kemudian diganti menjadi Gusti Raden Mas Suryo Partono karena kondisi sakit-sakitannya saat kecil.

Pernikahan dan Keturunan

Pakubuwono XIII menjalani tiga kali pernikahan dan memiliki sejumlah anak dari masing-masing pernikahan:

  1. Istri pertama: KRAy. Endang Kusumaningdyah (Nuk Kusumaningdyah) — bercerai sebelum beliau naik takhta. Dari pernikahan ini lahir tiga orang putri:
    1. GRAy. Rumbai Kusuma Dewayani a.k.a GKR. Timoer
    2. GRAy. Devi Lelyana Dewi
    3. GRAy. Dewi Ratih Widyasari
  2. Istri kedua: KRAy. Winari Sri Haryani — bercerai sebelum naik tahta. Dari pernikahan ini terdapat satu putra dan dua putri:
    1. GRM. Suryo Suharto / KGPH. Mangkubumi / KGPH. Hangabehi (putra)
    2. BRAy. Sugih Oceania (putri)
    3. GRAy. Putri Purnaningrum (putri)
  3. Istri ketiga / Permaisuri: GKR. Pakubuwono (Asih Winarni / KRAy. Adipati Pradapaningsih) — dari pernikahan ini lahir satu putra:
    1. GRM. Suryo Aryo Mustiko / KGPH. Purbaya — kemudian diangkat sebagai putra mahkota.

Dengan demikian, PB XIII memiliki total tiga istri (termasuk yang telah bercerai sebelum naik takhta) dan setidak-tidaknya tujuh anak — dua putra dan lima putri.

Agama dan Latar Belakang Keagamaan

Menurut beberapa sumber, Pakubuwono XIII memeluk agama Islam.

Keraton Surakarta secara tradisional juga berakar dalam budaya Jawa dan Islam sehingga hal ini konsisten dengan posisi beliau sebagai Susuhunan yang sekaligus tokoh adat-keagamaan.

Naik Takhta dan Dinamika Internal Keraton

PB XIII secara resmi naik takhta sebagai Susuhunan Kasunanan Surakarta pada 10 September 2004.

Namun perjalanan menuju penobatan tidak berjalan lancar karena muncul dual claim terhadap takhta antara PB XIII (yang waktu itu masih KGPH Hangabehi) dan saudaranya, KGPH Tejowulan.
Konflik ini berlangsung hingga tahun 2012 ketika melalui mediasi dari pemerintah kota Surakarta dan DPR-RI, KGPH Tejowulan mengakui PB XIII sebagai satu-satunya penguasa, dan perbedaan internal pun mulai mereda.

Baca Juga : Profil Ki Anom Suroto, Legenda Dalang yang Tutup Usia di Kamis Pon

Dalam masa pemerintahannya, PB XIII dikenal aktif sebagai penjaga dan pelindung kebudayaan Jawa terutama gaya Surakarta.

Di antaranya:

  1. Menyelenggarakan berbagai upacara adat seperti labuhan, grebeg, Sekaten, Kirab Malam 1 Sura di lingkungan Keraton Surakarta.
  2. Melalui keraton beliau membuka akses bagi masyarakat umum agar lebih mengenal sejarah dan kebudayaan keraton.
  3. Terlibat dalam revitalisasi kawasan keraton dan pengembangan budaya sehingga institusi keraton tetap relevan di era modern.

Wafat dan Penutup Masa Pemerintahan

Pakubuwono XIII wafat pada pagi hari 2 November 2025, di RS Indriati, Solo Baru.

Jenazah beliau kemudian akan disemayamkan di keraton dan kemudian dimakamkan sesuai tata upacara adat keraton.

Sri Susuhunan Pakubuwono XIII (PB XIII) adalah figur penting dalam dinamika kebudayaan Jawa dan institusi keraton di era modern. Dengan tiga kali pernikahan, dua putra, lima putri, dan beragama Islam, beliau menjalani perjalanan hidup yang tidak lepas dari tantangan internal keraton sebelum akhirnya memimpin Kasunanan Surakarta sejak 2004 dan wafat di usia 77 tahun pada 2025. Kiprah beliau sebagai pelestari budaya membuat warisan beliau tetap dikenang.(sunu)

Rizkia Putra

Saya ada seorang jurnalis berpengalaman dalam bidang media dan SEO selama 5 tahun