Berita TerkiniTerpopuler

Suran Agung SH Winongo ke-123 di Madiun Sukses Digelar “Zero Insiden”, Ribuan Pendekar Berkumpul

ilmusetiahati.com , MADIUN – Perhelatan akbar suran agung SH Winongo ke-123 yang diselenggarakan oleh Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda (PSHWTM) Madiun Pusat Indonesia di Lapangan Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Jawa Timur, resmi mencatatkan sejarah baru dengan status zero insiden atau nihil kejadian khusus. Agenda sakral yang digelar bertepatan dengan momentum menyambut Tahun Baru Islam 1458 Hijriah pada hari Minggu, 28 Juni 2026 tersebut dihadiri langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Madiun F Bagus Panuntun, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Pengasuh PSHWTM H. R. Agus Wiyono Santoso, serta Ketua Panitia Suran Agung 2026 R. Dikka Guntur Arya Wicaksana. Selain jajaran pimpinan daerah, puluhan ribu pasang mata menyaksikan kehadiran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota dan Kabupaten Madiun, Forkopimda Provinsi Jawa Timur, hingga perwakilan dari 14 ketua perguruan pencak silat lintas organisasi yang berada di wilayah eks-Keresidenan Madiun.

Baca Juga : Kronologi Bentrok 4 Pendekar PSHT VS 100 Pesilat Pagar Nusa Mabok Agama

Keamanan total dalam perhelatan akbar ini dipastikan melalui kerja sama taktis lintas sektor demi menjaga kondusivitas wilayah Kota Madiun yang akrab dijuluki sebagai Kota Pendekar. Berdasarkan informasi resmi yang dihimpun dari data kepolisian, kesuksesan pengamanan ini ditopang penuh melalui Operasi Aman Suro yang dikomandoi langsung oleh Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Madiun Kota. Sumber dari Polres Madiun Kota menyebutkan bahwa jalannya kegiatan dikawal ketat oleh sedikitnya 983 personel gabungan. Pasukan pengamanan terpadu tersebut terdiri dari unsur Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Dinas Perhubungan (Dishub), serta dibantu secara swadaya oleh jajaran Korps Lapangan (Korlap) PSHWTM dari berbagai daerah.

Luasnya skala kegiatan suran agung sh winongo ke-123 ini tercermin dari sebaran daerah asal para pendekar yang memadati lokasi pusat acara sejak pagi hari. Dilansir dari laporan kepanitiaan, ribuan warga Setia Hati Winongo mengalir masuk ke Kota Madiun, tidak hanya berasal dari wilayah lokal Jawa Timur dan Pulau Jawa semata, melainkan merata dari ujung barat hingga ujung timur Nusantara, termasuk dari Pulau Papua, Pulau Sumatera, hingga Pulau Kalimantan. Nilai universalitas seni bela diri asli Indonesia ini kian dipertegas dengan hadirnya delegasi mancanegara. Mengutip dari berkas registrasi panitia internasional, gelaran tahun ini secara resmi dihadiri oleh perwakilan warga PSHWTM yang datang langsung dari 2 negara di benua berbeda, yakni Vietnam dari kawasan Asia Tenggara dan Italia dari belahan Eropa Selatan.

Secara substantif, perayaan akbar ini bukan hanya menjadi ajang berkumpulnya massa dalam jumlah besar, melainkan memuat misi filosofis yang fundamental bagi pembentukan karakter masyarakat. Ketua Panitia Suran Agung 2026, R. Dikka Guntur Arya Wicaksana menegaskan bahwa kegiatan tahunan ini merupakan instrumen strategis untuk merawat warisan budaya sekaligus memperkuat pembangunan sumber daya manusia dan kerukunan sosial di tingkat nasional. “Tema tahun ini adalah Meneguhkan Kesetiaan dan Kebenaran, Merawat Kerukunan, Menguatkan Persaudaraan dan Persatuan untuk Kesejahteraan Bersama. Ini menjadi pengingat agar seluruh warga tetap menjunjung nilai damai, persatuan, dan gotong royong,” ujar R. Dikka Guntur Arya Wicaksana dalam sambutan resminya di hadapan ribuan peserta.

Selaras dengan hal tersebut, landasan spiritual dari tradisi ini dikupas secara mendalam oleh otoritas tertinggi organisasi. Bapak Pengasuh PSHWTM, H. R. Agus Wiyono Santoso, memaparkan pentingnya memandang perayaan di bulan Suro ini sebagai momentum eskatologis sekaligus sosiologis. Beliau mengajak seluruh warga untuk menjadikan momentum pergantian tahun Hijriah ini sebagai sarana evaluasi batin. “Setia Hati adalah jalan membangun manusia berbudi luhur, kuat lahir batin, serta taat kepada Tuhan dan negara,” tegas H. R. Agus Wiyono Santoso yang mengingatkan kembali ajaran dasar bahwa pencak silat harus linier dengan ketakwaan, pembinaan moral, karakter, dan kepatuhan hukum.

Apresiasi tinggi datang dari jajaran eksekutif pemerintahan yang melihat dampak langsung dari tertibnya acara ini terhadap stabilitas ekonomi dan sosial regional. Plt Wali Kota Madiun, F Bagus Panuntun, menyatakan rasa syukur mendalam atas kedewasaan berorganisasi yang ditunjukkan oleh keluarga besar PSHWTM. Menurut pantauan pemerintah daerah, nihilnya konflik fisik maupun sosial selama perayaan membuktikan bahwa pencak silat di Madiun telah bertransformasi menjadi modal sosial, bukan pemicu polarisasi. “Kota Madiun sebagai Kota Pendekar memiliki kekayaan budaya pencak silat yang menjadi identitas dan kebanggaan bersama. Karena itu, pencak silat harus menjadi sarana membangun karakter, mempererat persatuan, menjaga ketertiban, serta memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” kata F Bagus Panuntun menjelaskan peran krusial persaudaraan di ruang publik.

Secara historis, tradisi Suran Agung merupakan upacara sakral yang melekat pada eksistensi rumpun Setia Hati di Madiun sejak awal abad ke-20. Sebagai salah satu pilar pencak silat historis Indonesia yang didirikan oleh Ki Ngabehi Surodiwiryo, ajaran Setia Hati senantiasa menitikberatkan pada konsep paseduluran (persaudaraan) tanpa memandang sekat suku, agama, ras, dan golongan. Ketika memasuki usia ke-123 tahun ini, konsistensi organisasi dalam menggelar acara secara damai menjadi pembuktian bahwa pencak silat dapat menjadi instrumen diplomasi kebudayaan yang efektif, baik di kancah nasional maupun di panggung internasional, seperti yang dibuktikan oleh kehadiran perwakilan dari Italia dan Vietnam.

Dari aspek manajemen kerumunan (crowd management), pencapaian nihil insiden ini dipengaruhi oleh kepatuhan massa terhadap instruksi protokol keamanan yang disosialisasikan berminggu-minggu sebelum acara dimulai. Pihak panitia bersama aparat keamanan menerapkan sistem penyekatan berlapis di perbatasan masuk Kota Madiun guna menyaring konvoi kendaraan roda dua dan memastikan seluruh rombongan yang datang menggunakan kendaraan roda empat atau bus terorganisir. Kebijakan ini terbukti efektif menekan risiko gesekan di jalan raya, sehingga jalannya prosesi ziarah dan silaturahmi dapat berlangsung khidmat dan tertib dari awal hingga berakhirnya acara.

Baca Juga : 31 Kata-Kata Mutiara SH Winongo, Lengkap Dengan Artinya Bahasa Indonesia

Menutup seluruh rangkaian kegiatan yang berlangsung hingga sore hari, sinergi antara ulama, umara (pemerintah), aparat keamanan, dan tokoh masyarakat dinilai menjadi kunci utama keberhasilan acara. Kedepannya, komitmen kedisiplinan yang ditunjukkan dalam kegiatan ini diharapkan dapat terus dipertahankan pada event kebudayaan lainnya. Melalui kesuksesan pelaksanaan suran agung SH Winongo ke-123 ini, PSHWTM berhasil mengirimkan pesan perdamaian yang kuat kepada dunia bahwa pencak silat adalah media pemersatu bangsa yang melahirkan manusia-manusia berbudi luhur demi terwujudnya stabilitas, harmoni sosial, dan kesejahteraan bersama.(muji)

Rizkia Putra

Saya ada seorang jurnalis berpengalaman dalam bidang media dan SEO selama 5 tahun