
Anggota PSHT Nganjuk Tewas Dikeroyok, Polisi Buru Identitas Pelaku
ilmusetiahati.com , NGANJUK – PSHT Nganjuk berduka setelah insiden kekerasan hebat melanda anggotanya di wilayah Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Peristiwa dugaan pengeroyokan dan penganiayaan secara brutal tersebut terjadi pada Rabu dini hari, 24 Juni 2026, sekitar pukul 02.00 WIB. Pihak Kepolisian Resor (Polres) Nganjuk bersama jajaran Kodim 0810 Nganjuk langsung bergerak cepat mengamankan Tempat Kejadian Perkara (TKP) yang berada di Jalan Semeru, Dusun Bedingin, Kecamatan Loceret, tepatnya di depan bangunan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sukorejo. Berdasarkan laporan kronologi di lapangan, serangan mendadak dari kelompok massa berjumlah besar ini menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka dari pihak warga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Nganjuk.
Mengutip dari laporan resmi yang masuk ke meja Komandan Kodim 0810 Nganjuk, peristiwa berdarah ini bermula ketika empat orang korban sedang berkendara secara berombongan. Nilai angka jumlah korban tersebut dipertegas kembali dalam data lapangan yang menunjukkan bahwa mereka berboncengan menggunakan 2 unit sepeda motor. Dilansir dari dokumen pemeriksaan bukti fisik, dua kendaraan yang digunakan oleh para korban adalah Honda Vario dengan nomor polisi masing-masing AG-2137-VCB dan AG-5831-VCH. Rombongan kecil ini bergerak dari arah timur menuju ke barat melintasi kawasan Jalan Semeru sambil membawa identitas berupa bendera organisasi perguruan silat mereka. Namun, sesampainya di depan SDN Sukorejo, langkah mereka dihentikan secara paksa oleh kepungan massa.
Baca Juga : Mukadimah Persaudaraan Setia Hati Terate – PSHT – Ilmu Setia Hati
Sumber dari catatan keamanan internal pengamanan swakarsa menyebutkan bahwa kelompok penyerang yang melakukan penghadangan tersebut diperkirakan berjumlah sekitar 100 orang. Angka estimasi massa yang mencapai 100 orang ini membuat para korban tidak memiliki ruang untuk menyelamatkan diri maupun melakukan pembelaan. Hanya dalam hitungan menit, aksi kekerasan massal langsung pecah di lokasi tersebut. Bersumber dari keterangan saksi di sekitar area Jalan Semeru, suara keributan yang dipicu oleh bentrokan tidak seimbang itu terdengar hingga radius ratusan meter dari titik utama kejadian perkara pengeroyokan.
Dilansir dari kronologi penanganan pascakejadian, persis 5 minute setelah aksi serangan brutal itu berlangsung, anggota yang berjaga di pos pengamanan kegiatan pengesahan warga baru PSHT Cabang Nganjuk mulai mendeteksi adanya kegaduhan. Berdasarkan data pemetaan wilayah, pos penjagaan terdekat tersebut berada di area pertigaan yang menghubungkan Jalan Anjukladang dengan Jalan Semeru. Mendengar adanya indikasi keributan massal, para petugas keamanan yang berada di pos tersebut langsung bergerak taktis menuju arah sumber suara di Dusun Bedingin guna melakukan pengecekan situasi.
Mengutip dari runtunan waktu evakuasi, kedatangan para petugas keamanan ke lokasi kejadian langsung direspons oleh kelompok penyerang dengan melarikan diri. Berdasarkan data visual di tempat kejadian perkara, massa yang berjumlah ratusan orang tersebut langsung membubarkan diri secara serentak ke berbagai arah di wilayah Loceret demi menghindari penangkapan. Ketika petugas tiba secara penuh di area depan SDN Sukorejo, gerombolan pelaku sudah menghilang sepenuhnya dari lokasi dan menyisakan situasi mencekam di jalan raya.
Sumber dari olah TKP awal menyatakan bahwa petugas hanya menemukan 4 orang korban dalam posisi tergeletak di jalan raya beserta dengan kendaraan mereka yang sudah rusak parah. Angka 4 korban yang ditemukan terkapar tersebut terdiri dari 1 orang korban yang sudah dalam kondisi tidak bernyawa serta 3 orang korban lainnya yang masih bernapas namun mengalami luka-luka yang sangat serius pada bagian tubuh mereka akibat hantaman benda tumpul maupun senjata tajam.
Dilansir dari rilis identitas korban oleh pihak medis, korban yang meninggal dunia di tempat kejadian perkara diidentifikasi bernama Sutrisno, seorang pemuda berusia 20 tahun. Berdasarkan data kependudukan resmi, pemuda berumur 20 tahun tersebut merupakan warga asli yang berdomisili di Dusun Congol, Desa Macanan, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk. Jenazah korban meninggal dunia langsung diprioritaskan untuk dipindahkan dari jalan raya guna menjaga sterilisasi jalur umum pascabentrokan.
Mengutip dari data pasien yang dirilis oleh pihak rumah sakit, 3 korban lain yang mengalami luka berat diidentifikasi atas nama Hendra Ibnu Ardiansyah yang berumur 26 tahun, Eko Ali yang berumur 24 tahun, serta Yoga Pratama yang berusia 22 tahun. Berdasarkan catatan administratif kependudukan setempat, ketiga korban luka parah dengan rentang usia 22 hingga 26 tahun tersebut semuanya diketahui berdomisili di wilayah hukum Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk.
Sumber dari prosedur kedaruratan di lapangan mengonfirmasi bahwa setelah penemuan para korban, petugas segera menghubungi pihak Rumah Sakit Bhayangkara Nganjuk untuk mengirimkan bantuan medis. Berdasarkan catatan waktu pada sistem kedaruratan, unit mobil ambulans tiba di lokasi kejadian pada pukul 03.00 WIB untuk melakukan proses evakuasi secara menyeluruh. Seluruh korban, baik yang telah meninggal dunia maupun yang mengalami luka berat, langsung dilarikan ke rumah sakit tersebut dengan pengawalan ketat.
Dilansir dari keterangan pihak humas layanan kesehatan, saat ini jenazah Sutrisno yang berusia 20 tahun tersebut ditempatkan di ruang instalasi pemulasaran jenazah Rumah Sakit Bhayangkara Nganjuk untuk keperluan prosedur visum et repertum. Sementara itu, berdasarkan laporan medis terbaru, 3 korban luka berat atas nama Hendra, Eko, dan Yoga masih harus menjalani perawatan medis secara intensif di ruang darurat guna memulihkan kondisi fisik mereka dari trauma berat akibat penganiayaan.
Mengutip dari inventarisasi barang bukti di lokasi kejadian, 2 unit sepeda motor Honda Vario milik para korban dilaporkan berada dalam kondisi rusak berat akibat dihancurkan oleh massa penyerang. Berdasarkan nomor manifes pengamanan barang bukti kepolisian, kedua kendaraan roda dua tersebut kini telah diangkut dan diamankan di markas Polres Nganjuk guna kepentingan penyelidikan lebih lanjut. Garis polisi juga sempat dipasang di sekitar area SDN Sukorejo selama proses pengumpulan serpihan barang bukti berlangsung.
Sumber dari pihak penyidik Satreskrim Polres Nganjuk menegaskan bahwa hingga saat ini identitas terduga pelaku maupun kelompok yang bertanggung jawab atas pengeroyokan terhadap warga PSHT Nganjuk ini masih belum terungkap sepenuhnya. Pihak kepolisian masih mengumpulkan keterangan dari para saksi mata dan memeriksa rekaman kamera pengawas (CCTV) yang berada di sepanjang rute Jalan Semeru dan Jalan Anjukladang demi melacak arah pelarian kelompok massa tersebut.
Baca Juga : Sejarah Persaudaraan Setia Hati Terate
Dilansir dari pernyataan resmi perwakilan kepolisian, kasus kekerasan massal di Kecamatan Loceret ini sekarang berada di bawah penanganan mendalam secara terpadu oleh jajaran Polres Nganjuk. Pihak berwajib terus melakukan penyelidikan mendalam di lapangan guna mengungkap motif utama di balik aksi penghadangan ini, sekaligus memburu para pelaku pengeroyokan agar dapat segera diproses secara hukum yang berlaku demi menjaga kondusivitas keamanan di wilayah Kabupaten Nganjuk.
Demikian informasi mengenai perkembangan penanganan kasus dugaan pengeroyokan yang menimpa anggota perguruan silat di wilayah Loceret. Pihak kepolisian mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya para anggota organisasi kemasyarakatan dan perguruan silat di Nganjuk, untuk tetap tenang, menahan diri, dan tidak terprovokasi oleh isu-isu yang belum jelas kebenarannya, serta mempercayakan seluruh proses penegakan hukum kepada aparat Polres Nganjuk.(rizki)
