SejarahTerpopuler

Sejarah Persaudaraan Setia Hati Terate

Ilmusetiahati.comSejarah PSHT tidak dapat dipisahkan dari nama Ki Hadjar Hardjo Oetomo, Ki Ngabehi Soerodiwirjo, Santoso Kartoatmodjo, Soetomo Mangkoedjojo, Irsad Hadi Widagdo, Imam Koesoepangat, Badini, Tarmadji Boedi Harsono, hingga Muhammad Taufiq. Persaudaraan Setia Hati Terate atau PSHT merupakan salah satu organisasi pencak silat terbesar di Indonesia yang memiliki perjalanan panjang sejak masa kolonial Belanda hingga era modern.

Mengutip dari berbagai catatan sejarah organisasi PSHT dan arsip perkembangan Persaudaraan Setia Hati Terate, organisasi ini dirintis oleh Ki Hadjar Hardjo Oetomo pada 1 September 1922 di Madiun, Jawa Timur. Pada awal berdirinya, organisasi tersebut menggunakan nama SH Pemuda Sport Club (SH PSC) sebelum kemudian berubah menjadi Persaudaraan Setia Hati Terate dalam kongres pertama tahun 1951 di Madiun.

Baca Juga : Waketum PSHT : Padepokan Madiun Milik Bersama, Tak Ada yang diusir Saat Eksekusi Sita

Dilansir dari sejarah internal organisasi, PSHT lahir dari perkembangan ajaran Setia Hati yang sebelumnya dirintis oleh Ki Ageng Ngabehi Soerodiwirjo di Surabaya sekitar tahun 1903. Saat itu, ajaran pencak silat Setia Hati dikenal dengan nama Djojo Gendilo Tjipto Muljo yang berkembang melalui sistem persaudaraan.

Awal Mula Ajaran Setia Hati

Sumber sejarah menyebutkan Ki Ageng Ngabehi Soerodiwirjo mulai mengembangkan ajaran Setia Hati di Kampung Tambak Gringsing, Surabaya. Dalam perjalanan berikutnya, beliau pindah ke Madiun sekitar tahun 1917 dan mendirikan Persaudaraan Setia Hati di Winongo.

Pada tahun yang sama, Ki Hadjar Hardjo Oetomo mulai belajar pencak silat kepada Ki Ngabehi Soerodiwirjo. Dilansir dari riwayat tokoh PSHT, Ki Hadjar Hardjo Oetomo yang lahir dengan nama Samingoem berasal dari Pilangbango, Madiun.

Menurut sejumlah catatan sejarah organisasi, kondisi sosial pada masa penjajahan menjadi salah satu alasan Ki Hadjar Hardjo Oetomo mendirikan wadah baru pencak silat. Saat itu, ilmu bela diri lebih banyak diajarkan kepada kalangan tertentu seperti bangsawan, pegawai pemerintahan, maupun kaum priyayi.

Ki Hadjar Hardjo Oetomo kemudian memiliki gagasan agar ilmu pencak silat dapat dipelajari masyarakat umum dan para pejuang pergerakan kemerdekaan. Dari pemikiran tersebut lahirlah SH Pemuda Sport Club pada tahun 1922.

Berdirinya SH PSC dan Perjuangan Melawan Penjajahan

Mengutip dari sejarah perkembangan SH Terate, SH PSC tidak hanya menjadi tempat latihan pencak silat, tetapi juga wadah pembinaan pemuda pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Ki Hadjar Hardjo Oetomo diketahui aktif dalam Sarekat Islam dan Budi Utomo. Dalam berbagai sumber sejarah, beliau juga disebut pernah terlibat dalam aksi pergerakan yang membuat pemerintah kolonial Belanda menangkap dan memenjarakannya.

Baca Juga : Sejarah Persaudaraan Setia Hati

Dilansir dari catatan perjuangan tokoh PSHT, Ki Hadjar Hardjo Oetomo pernah dipenjara di Cipinang dan kemudian dibuang ke Padang Panjang, Sumatera Barat. Pada masa itu pula, pemerintah kolonial membubarkan SH PSC karena dianggap mengandung unsur pergerakan melalui kata “pencak”.

Setelah bebas, organisasi kembali diaktifkan dengan mengganti istilah “pencak” menjadi “pemuda” untuk menghindari pengawasan pemerintah kolonial. Nama SH Pemuda Sport Club kemudian terus digunakan hingga masa pendudukan Jepang.

Perubahan SH PSC Menjadi PSHT

Perubahan besar dalam sejarah PSHT terjadi pada 25 Maret 1951. Mengutip hasil kongres pertama di Madiun, sejumlah murid Ki Hadjar Hardjo Oetomo berkumpul untuk membentuk organisasi dengan sistem persaudaraan.

Dalam musyawarah tersebut, Soeratno Sorengpati mengusulkan nama Persaudaraan Setia Hati Terate atau PSHT. Usulan tersebut kemudian diterima dan menjadi tonggak lahirnya nama resmi organisasi hingga sekarang.

Dilansir dari dokumen organisasi, perubahan sistem dari paguron menjadi persaudaraan dilakukan untuk mendukung konsep organisasi yang lebih demokratis. Meski demikian, tradisi dan nilai pendidikan perguruan tetap dipertahankan.

Pada periode berikutnya, berbagai materi latihan mulai diperbarui. Mengutip catatan sejarah teknik PSHT, Mas Irsad menyusun Senam 1 sampai Senam 90, memperbarui jurus dasar, jurus belati, dan jurus toya. Perubahan ini menjadi fondasi materi latihan PSHT modern.

Daftar Ketua Umum dan Tokoh Penting dalam Sejarah PSHT

1. Ki Hadjar Hardjo Oetomo (1922–1941)

Ki Hadjar Hardjo Oetomo dikenal sebagai perintis SH PSC. Dilansir dari sejarah perjuangan nasional, beliau aktif mengembangkan pencak silat sebagai media perjuangan rakyat melawan penjajah.

Beliau memimpin SH PSC sejak 1922 hingga mulai sakit pada 1941. Ki Hadjar Hardjo Oetomo wafat pada 13 April 1952 dan dimakamkan di Pilangbango, Madiun. Pemerintah Republik Indonesia kemudian memberikan penghargaan sebagai Perintis Kemerdekaan.

2. Soemo Soedardjo (1941–1943)

Mengutip sejarah organisasi SH PSC, Soemo Soedardjo dipercaya menjadi Hoofd Leider atau Ketua Pelatih ketika kondisi kesehatan Ki Hadjar Hardjo Oetomo mulai menurun.

Pada masa kepemimpinannya, kegiatan latihan dan pengembangan cabang tetap berjalan. Soemo Soedardjo juga dikenal membuka cabang SH di kawasan Jalan Ponorogo, Madiun.

3. Hassan Soewarno (1943–1945)

Hassan Djojoadi Soewarno menjadi Hoofd Leider SH PSC pada masa pendudukan Jepang. Dilansir dari sejarah pencak silat Madiun, beliau turut memimpin organisasi SHI THAI KU KAI atau Persatuan Perguruan Pencak Silat Madiun bentukan Jepang.

Beliau dikenal sebagai pendekar tangguh yang aktif mengembangkan SH Terate hingga ke wilayah Yogyakarta dan Surakarta.

4. Hardjo Mardjoet (1945–1951)

Hardjo Mardjoet atau Hardjo Pramojo merupakan tokoh penting yang pernah belajar langsung kepada Ki Hadjar Hardjo Oetomo di Penjara Cipinang.

Mengutip sejarah PSHT, beliau dipercaya menjadi Hoofd Leider terakhir SH PSC sebelum organisasi berubah menjadi PSHT pada 1951.

5. Santoso Kartoatmodjo (1951–1953 dan 1958–1966)

Santoso Kartoatmodjo tercatat sebagai Ketua Umum pertama PSHT setelah organisasi resmi menggunakan nama Persaudaraan Setia Hati Terate.

Dilansir dari hasil musyawarah 25 Maret 1951, Santoso memimpin proses pembentukan AD/ART, lambang organisasi, dan struktur kepengurusan awal PSHT.

6. Soetomo Mangkoedjojo (1953–1956 dan 1966–1974)

Pada 13 September 1953, Soetomo Mangkoedjojo resmi menjadi Ketua Pusat SH Terate menggantikan Santoso Kartoatmodjo.

Mengutip dokumen organisasi tahun 1966, Soetomo kembali dipercaya memimpin PSHT setelah situasi politik pasca G30S/PKI menyebabkan organisasi mengalami penurunan aktivitas.

Dalam kongres tersebut, PSHT juga menyatakan sikap netral dan tidak terlibat politik praktis.

7. Irsad Hadi Widagdo (1956–1958)

Irsad Hadi Widagdo dikenal sebagai tokoh yang menyusun Senam 1–90 dan menyempurnakan berbagai jurus PSHT.

Dilansir dari sejarah materi latihan PSHT, beliau juga menciptakan Kode Pendekar yang digunakan warga PSHT untuk mengenali sesama anggota resmi organisasi.

8. R.M Imam Koesoepangat (1974–1977)

R.M Imam Koesoepangat menjadi salah satu tokoh sentral kebangkitan PSHT setelah organisasi mengalami masa vakum.

Mengutip Kongres I SH Terate tahun 1974, Imam Koesoepangat terpilih sebagai Ketua Umum dan berhasil menghidupkan kembali konsolidasi organisasi di berbagai daerah.

9. Badini (1977–1981)

Badini dikenal sebagai tokoh yang menyempurnakan lambang PSHT dan aktif mengembangkan seni pencak silat.

Dilansir dari sejarah internal organisasi, Badini pernah tampil memperagakan pencak silat di Istana Negara bersama Hardjo Mardjoet pada masa Presiden Soekarno.

10. Tarmadji Boedi Harsono (1981–2015)

Tarmadji Boedi Harsono menjadi salah satu ketua umum dengan masa kepemimpinan terpanjang dalam sejarah PSHT.

Mengutip hasil Musyawarah Besar III SH Terate tahun 1981, Tarmadji memimpin bersama Imam Koesoepangat dalam pembagian bidang organisasi dan kerohanian.

Pada masa kepemimpinannya, pembangunan Padepokan Agung PSHT di Madiun mulai dilakukan. Dilansir dari data organisasi, pembangunan tersebut dimulai pada tahun 1985.

Selain itu, perkembangan cabang PSHT juga meningkat signifikan. Pada awal kepemimpinan Tarmadji bersama R. Moerdjoko HW dan Imam Koesoepangat, tercatat terdapat 27 cabang aktif dan 9 cabang dalam proses pembentukan.

11. Richard Simorangkir (2014)

Richard Simorangkir menjabat Ketua Umum PSHT berdasarkan Surat Keputusan Nomor 86/SK/PSHT.000/IV/2014.

Dilansir dari struktur organisasi saat itu, Richard membawa pembaruan dengan melibatkan lebih banyak generasi muda dalam kepengurusan pusat.

Beliau wafat pada 6 Desember 2014 di Sleman, Yogyakarta.

12. Muhammad Taufiq (2016–Sekarang)

Pada Parapatan Luhur PSHT tanggal 11–12 Maret 2016, Dr. Ir. H. Muhammad Taufiq, SH., M.Sc resmi ditetapkan sebagai Ketua Umum PSHT.

Mengutip putusan Kasasi Mahkamah Agung Nomor 1712 K/PDT/2020, kepengurusan hasil Parapatan Luhur 2016 dinyatakan sah dan tetap berlaku.

Selanjutnya, dalam Parapatan Luhur tahun 2021, Muhammad Taufiq kembali dipercaya memimpin PSHT untuk periode berikutnya bersama Edy Asmanto dan R.B. Wiyono.

Dilansir dari Keputusan Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia Nomor AHU-0005248.AH.01.07.Tahun 2025, kepengurusan PSHT di bawah Muhammad Taufiq memperoleh pengakuan badan hukum resmi dari negara.

Perkembangan PSHT di Indonesia dan Luar Negeri

Mengutip data organisasi tahun 2021, PSHT disebut memiliki sekitar 10 juta anggota. Organisasi ini telah berkembang di ratusan kabupaten dan kota di Indonesia.

Selain itu, PSHT juga memiliki cabang luar negeri di berbagai negara seperti Malaysia, Belanda, Rusia, Timor Leste, Hongkong, Korea Selatan, Jepang, Belgia, hingga Prancis.

Dilansir dari sejarah IPSI, PSHT juga menjadi salah satu organisasi yang ikut mendirikan Ikatan Pencak Silat Indonesia pada 18 Mei 1948.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa PSHT tidak hanya berkembang sebagai organisasi bela diri, tetapi juga bagian dari sejarah pencak silat nasional Indonesia.

Dinamika Organisasi dan Sengketa Kepengurusan

Dalam perjalanan sejarahnya, PSHT juga menghadapi dinamika internal organisasi. Salah satu yang mencuat terjadi setelah Parapatan Luhur 2016.

Mengutip berbagai putusan pengadilan dan dokumen hukum organisasi, kelompok yang dipimpin R. Moerdjoko HW membentuk PSHT Pusat Madiun (PSHTPM) pada 2017 setelah tidak menerima hasil Parapatan Luhur.

Baca Juga : Badan Hukum Sah, PSHT Hanya 1 di Bawah Kepemimpinan Dr. Ir. Muhammad Taufiq

Namun, berdasarkan putusan Mahkamah Agung Nomor 1712 K/PDT/2020, kepengurusan hasil Parapatan Luhur 2016 tetap dinyatakan sah.

Selanjutnya, dilansir dari keputusan Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia tanggal 18 Juli 2025, badan hukum PSHT berada di bawah kepengurusan Muhammad Taufiq melalui Nomor AHU-0005248.AH.01.07.Tahun 2025.

Sejarah PSHT menunjukkan perjalanan panjang organisasi pencak silat yang lahir dari semangat perjuangan rakyat pada masa penjajahan. Dari SH Pemuda Sport Club yang dirintis Ki Hadjar Hardjo Oetomo pada 1922 hingga menjadi Persaudaraan Setia Hati Terate yang memiliki jutaan anggota, PSHT berkembang melalui berbagai fase kepemimpinan, perubahan organisasi, hingga penguatan legalitas hukum.

Dilansir dari berbagai catatan sejarah organisasi dan dokumen resmi, perkembangan PSHT tidak hanya berkaitan dengan pencak silat, tetapi juga mencerminkan dinamika sosial, budaya, dan perjalanan organisasi persaudaraan di Indonesia.(ikrar)

Rizkia Putra

Saya ada seorang jurnalis berpengalaman dalam bidang media dan SEO selama 5 tahun