
Kronologi Bentrok PSHT Surabaya VS Preman Kampung, Masa Pendekar Sukses Pukul Mundur Lawan
Ilmusetiahati.com , SURABAYA – Insiden berdarah bentrok PSHT Surabaya pecah di kawasan permukiman padat penduduk, tepatnya di sepanjang Jalan Kalijudan Gang 10, Gang 12, dan Gang 14, Kecamatan Mulyorejo, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Peristiwa mencekam yang melibatkan massa pesilat dari Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) ini terjadi pada Rabu dini hari, 17 Juni 2026, bertepatan dengan momen malam pengesahan anggota baru perguruan silat tersebut.
Baca Juga : Disegel! Pengesahan PSHT DKP Madiun di Padepokan Agung Madiun Gagal
Kehadiran ratusan pemuda yang berkonvoi di jalanan tidak hanya mengganggu ketertiban umum, tetapi juga memicu bentrokan fisik yang berdampak langsung pada ketenangan dan keselamatan warga setempat.
Kronologi Awal di Malam Pengesahan
Berdasarkan kronologi kejadian yang dihimpun di lapangan, ketegangan bermula ketika rombongan pesilat PSHT melakukan konvoi massal menjelang pergantian hari. Massa bergerak secara beriringan menuju ke arah lokasi pengesahan warga baru yang berpusat di Kenjeran Park, Surabaya. Menurut pengakuan salah satu anggota PSHT yang berada di lokasi dan enggan disebutkan identitasnya, perjalanan rombongan tersebut awalnya berjalan lancar sebelum akhirnya melintasi kawasan Kalijudan.
Saat melintas di sekitar area tersebut, rombongan konvoi diduga mendapatkan tindakan provokasi dari sekelompok pemuda lain yang berada di pinggir jalan. Kelompok pemuda yang melakukan provokasi tersebut kemudian melarikan diri dan merangsek masuk ke dalam gang-gang pemukiman di kawasan Kalijudan untuk menyelamatkan diri. Merasa tertantang, massa pesilat langsung melakukan pengejaran hingga masuk jauh ke dalam area permukiman warga, yang seketika mengubah situasi malam yang tenang menjadi area kejar-kejaran massal.
Suasana Mencekam di Pemukiman Warga
Suasana di dalam kampung Kalijudan berubah drastis menjadi sangat mencekam ketika waktu menunjukkan pukul 00.30 WIB. Ribuan massa dari kedua belah pihak terlibat aksi saling serang di depan rumah-rumah warga. Beberapa saksi mata di lokasi kejadian menyebutkan bahwa sekelompok pemuda yang terlibat bentrok sebagian besar mengenakan pakaian serba hitam dan sengaja menutupi sebagian wajah mereka menggunakan masker atau kain demi menyembunyikan identitas diri.
Warga setempat, Agus (42), memberikan kesaksian bahwa dirinya yang saat itu hendak beristirahat langsung terbangun karena dikejutkan oleh suara derap langkah kaki orang yang berlari dalam jumlah banyak di depan rumahnya. Ketika memeriksa keluar, Agus melihat massa sudah saling serang dengan menggunakan berbagai macam benda tumpul dan tajam. Ia mengonfirmasi bahwa para pemuda tersebut membekali diri dengan tongkat, besi, kayu, hingga senjata tajam. Tidak hanya itu, beberapa di antaranya juga berulang kali menyalakan dan melempar petasan di tengah-tengah pemukiman, yang memicu kepanikan luar biasa bagi warga sekitar yang tengah tertidur lelap.
Dampak Kerusakan Fasilitas Umum dan Warung Warga
Aksi saling lempar dan serang di dalam gang-gang sempit tersebut tidak hanya membahayakan nyawa, tetapi juga merusak sejumlah fasilitas milik masyarakat yang berada di sepanjang jalur bentrokan. Batu-batu dan benda keras berterbangan hingga menghantam rumah tinggal serta tempat usaha milik warga setempat yang tidak tahu-menahu mengenai akar permasalahan antarkelompok tersebut.
Khusnul Hasana, seorang warga Kalijudan yang menyaksikan langsung peristiwa tersebut, menyatakan bahwa kegaduhan yang ditimbulkan oleh massa pesilat sangat luar biasa. Mengutip dari pernyataan resmi Khusnul Hasana yang disampaikan kepada media, dirinya menegaskan terdapat warung milik warga setempat yang menjadi sasaran amuk massa hingga mengalami kerusakan fisik, dan beberapa orang dari anggota perguruan silat juga menjadi korban luka dalam kericuhan tersebut. Beberapa warga yang berani mencoba keluar rumah pascakejadian berusaha menghalau massa agar tidak semakin mendekati rumah-rumah penduduk, demi mengantisipasi meluasnya kerusakan material yang lebih parah.
Data Korban: Luka-Luka hingga Korban Jiwa
Eskalasi kekerasan yang tinggi dalam bentrokan ini menimbulkan dampak fatal bagi para pelaku konvoi maupun masyarakat sipil yang berada di lokasi kejadian. Aparat keamanan gabungan yang tiba di lokasi segera melakukan lokalisasi area untuk menghentikan kerusuhan dan mengevakuasi para korban yang terkapar di jalanan untuk segera mendapatkan penanganan medis darurat.
Dilansir dari data penanganan darurat petugas kepolisian di lapangan, terdapat 3 orang yang dilaporkan menjadi korban langsung dalam insiden berdarah ini. Berdasarkan sumber dari laporan personil kepolisian yang berjaga di lokasi kejadian, tercatat ada 1 orang korban yang dinyatakan meninggal dunia akibat luka parah yang diderita selama bentrokan berlangsung.
Selain korban jiwa, sumber data yang sama juga menyebutkan bahwa terdapat 1 orang pesilat yang mengalami luka berat dan harus segera dilarikan ke rumah sakit terdekat dengan ambulans. Kericuhan ini juga turut mengorbankan masyarakat sipil lokal; seorang warga setempat berinisial YD dilaporkan ikut menjadi korban salah sasaran. YD ditemukan oleh warga dalam kondisi terkapar di jalanan dengan sekujur tubuh penuh luka akibat terkena hantaman benda tumpul saat massa melakukan aksi saling serang di dalam gang.
Langkah Penanganan oleh Aparat Keamanan
Situasi di Jalan Kalijudan baru dapat dikendalikan setelah petugas gabungan yang terdiri dari jajaran Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Surabaya dan komando aparat TNI tiba secara masif di lokasi kejadian. Petugas langsung bergerak cepat melakukan pembubaran paksa terhadap massa yang masih berkerumun dan menyisir gang-gang perkampungan untuk memastikan tidak ada massa susulan yang tertinggal.
Padahal, sebelum malam pengesahan ini dilaksanakan, pihak Polrestabes Surabaya sebenarnya telah mengantisipasi potensi kerawanan dengan mengeluarkan surat larangan resmi terkait aktivitas konvoi serta arak-arakan bagi seluruh kelompok perguruan pesilat di seluruh wilayah Kota Surabaya. Demi menegakkan aturan tersebut, aparat kepolisian bahkan telah menyiagakan personel dan melakukan operasi penyekatan ketat di sejumlah titik perbatasan kota guna menghalau pergerakan massa pesilat dari luar daerah. Kendati demikian, kelompok massa ini tetap berhasil mencari celah jalan tikus hingga akhirnya memicu bentrokan fisik di wilayah Mulyorejo. Setelah massa berhasil dipukul mundur oleh petugas gabungan, situasi di kawasan Kalijudan perlahan-lahan mulai berangsur kondusif, meskipun sisa-sisa batu, kayu, dan selongsong petasan masih tampak berserakan di jalanan perkampungan.
Baca Juga : Cara Masuk Menjadi Anggota PSHT
Kesimpulan dari peristiwa bentrok PSHT Surabaya di Kalijudan ini menegaskan pentingnya kepatuhan kelompok kemasyarakatan terhadap maklumat kepolisian demi menjaga stabilitas keamanan kota. Dampak buruk dari konvoi liar ini terbukti merugikan masyarakat luas, baik secara material melalui kerusakan fasilitas usaha, maupun non-material berupa hilangnya nyawa dan luka fisik yang diderita oleh warga sipil yang tidak bersalah.(nugroho)
