Berita Terkini

Meredam Polemik, Klarifikasi Mbah Gun Terkait Narasi Fiktif Tokoh Besar PSHT dan PSHW

Ilmusetiahati.com -Jagat media sosi al baru-baru ini dihebohkan oleh sebuah pernyataan kontroversial dari Mbah Gun, seorang sosok senior di lingkungan Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda (PSHWTM) asal Sawo, Ponorogo. Pernyataan tersebut memicu perbincangan hangat, terutama di kalangan warga pencak silat, karena menyangkut marwah dua tokoh besar sejarah “Setia Hati”.

Dalam sebuah unggahan yang viral, Mbah Gun menceritakan sebuah kronologi yang cukup ekstrem mengenai wafatnya R.M. Imam Koesoepangat, tokoh legendaris sekaligus pendiri Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).

Baca Juga : R.M Soetomo Mangkoedjojo

Mbah Gun menyebutkan bahwa sang maestro PSHT tersebut meninggal dunia dengan kondisi wajah bersimbah darah akibat terkena teknik srekel (sapuan bawah) dari R.D.H. Soewarno, sosok pendiri PSHW Tunas Muda. Klaim ini sontak memicu reaksi cepat dari berbagai pihak yang merasa sejarah tersebut tidak sesuai dengan fakta yang ada.

Tidak butuh waktu lama bagi para pendekar dan pengurus PSHT untuk merespons hal ini. Mengedepankan semangat persaudaraan dan kebenaran sejarah, sejumlah perwakilan melakukan penelusuran guna mencari fakta yang sebenarnya.

Hasilnya, Mbah Gun memberikan klarifikasi terbuka. Beliau mengakui bahwa cerita yang ia sampaikan mengenai pertarungan hingga menyebabkan kematian R.M. Imam Koesoepangat adalah fiktif atau tidak nyata. Pengakuan ini diharapkan dapat meredam ketegangan dan meluruskan simpang siur informasi yang sempat memanas di akar rumput.

Bukan tanpa alasan pernyataan Mbah Gun ini sempat dipercaya oleh sebagian orang. Beliau bukanlah orang baru di dunia persilatan. Di PSHW Tunas Muda, Mbah Gun dikenal sebagai sosok senior yang telah mencapai tingkatan AA2 (Amanat Amalan Tingkat 2).

Selain itu, rekam jejaknya di dunia “SH” cukup panjang. Beliau dikabarkan pernah mengenyam pendidikan di SH Panti 1903 pada tahun 2012, sebuah latar belakang yang membuatnya dipandang sebagai sesepuh yang memiliki banyak wawasan sejarah, meski dalam kasus ini beliau mengakui adanya kekeliruan narasi.

Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh insan pencak silat tentang pentingnya literasi sejarah dan kebijaksanaan dalam berucap di media sosial. Di tengah sensitivitas hubungan antarorganisasi, validitas sebuah cerita sejarah sangat krusial untuk menjaga kerukunan.

Baca Juga : Pengukuhan Komisariat Khusus PSHT di Bakamla RI

Kini, dengan adanya klarifikasi tersebut, diharapkan hubungan antara saudara PSHT dan PSHW Tunas Muda tetap terjaga dalam bingkai persaudaraan yang harmonis, tanpa terprovokasi oleh narasi-narasi yang belum teruji kebenarannya.
(ikrar)

Rizkia Putra

Saya ada seorang jurnalis berpengalaman dalam bidang media dan SEO selama 5 tahun