ProfilTerpopuler

Profil Ki Hadjar Hardjo Oetomo Pendiri PSHT

Ilmusetiahati.com – Ki Hadjar Hardjo Oetomo merupakan pendiri Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) asal Madiun yang dikenal sebagai pejuang anti-penjajahan Belanda. Simak sejarah lengkap, perjalanan hidup, organisasi, hingga perkembangan SH Terate menjadi PSHT.

Ki Hadjar Hardjo Oetomo menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah pencak silat nasional dan pergerakan rakyat Indonesia pada masa kolonial Belanda. Nama Ki Hadjar Hardjo Oetomo tidak hanya dikenal sebagai pendiri Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), tetapi juga sebagai tokoh yang aktif dalam perjuangan sosial, ekonomi, dan perlawanan terhadap penjajahan di Madiun, Jawa Timur.

Baca Juga : Sejarah Persaudaraan Setia Hati Terate

Dilansir dari berbagai sumber sejarah Persaudaraan Setia Hati Terate, Ki Hadjar Hardjo Oetomo lahir di kawasan Winongo atau Oro-Oro Ombo, Kota Madiun, Jawa Timur, pada tahun 1883. Namun, sejumlah catatan lain menyebutkan tahun kelahirannya berbeda. Meski demikian, sumber-sumber sejarah internal PSHT dan sejumlah arsip organisasi lebih banyak menggunakan tahun 1883 sebagai tahun kelahirannya.

Nama Ki Hadjar Hardjo Oetomo dikenal luas di lingkungan Persaudaraan Setia Hati Terate bersama sejumlah tokoh lain seperti Ki Ngabehi Soerodiwiryo, Soeratno Soerengpati, RM Soetomo Mangkoedjojo, Darsono, hingga tokoh-tokoh awal SH Terate yang ikut membesarkan organisasi tersebut di berbagai daerah di Pulau Jawa.

Awal Kehidupan Ki Hadjar Hardjo Oetomo

Menurut riwayat yang banyak dikutip dari sejarah internal SH Terate dan berbagai tulisan mengenai PSHT, masa kecil Ki Hadjar Hardjo Oetomo dihabiskan di wilayah Madiun. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia sempat menjalani magang sebagai guru di Sekolah Dasar Benteng Madiun.

Namun pekerjaan sebagai guru tidak dijalani dalam waktu lama. Sumber sejarah menyebutkan Ki Hadjar Hardjo Oetomo kemudian bekerja sebagai Leerling Reambate di perusahaan kereta api Staatsspoorwegen (SS), yang kini dikenal sebagai PT Kereta Api Indonesia (KAI). Ia pernah ditempatkan di Bondowoso, Panarukan, hingga Tapen.

Dilansir dari catatan sejarah PSHT, pada tahun 1906 Ki Hadjar Hardjo Oetomo memutuskan keluar dari pekerjaannya di perusahaan kereta api. Keputusan itu disebut berkaitan dengan semangat perlawanannya terhadap pemerintahan kolonial Belanda, karena sebagian besar atasannya berasal dari kalangan Belanda.

Setelah itu, ia bekerja sebagai mantri pasar Spoor Madiun. Empat bulan kemudian, ia ditempatkan di wilayah Mlilir dan berhasil menduduki jabatan Ajun Opsioner Pasar Mlilir, Dolopo, Uteran, hingga Pagotan di wilayah selatan Madiun.

Sumber sejarah menyebutkan Ki Hadjar Hardjo Oetomo kembali berpindah pekerjaan pada tahun 1916. Ia bekerja di Pabrik Gula Rejo Agung Madiun sebelum akhirnya kembali berpindah profesi pada tahun 1917 dan bekerja di rumah gadai.

Masih menurut catatan sejarah PSHT, pada periode tersebut Ki Hadjar Hardjo Oetomo bertemu seorang tetua asal Tuban yang kemudian memberinya pekerjaan sebagai pekerja harian di Stasiun Madiun.

Di lingkungan kerja barunya itu, Ki Hadjar Hardjo Oetomo mulai aktif membangun gerakan sosial masyarakat. Ia mendirikan perkumpulan bernama “Harta Djaja” yang disebut sebagai bentuk koperasi awal untuk membantu masyarakat kecil agar terhindar dari praktik lintah darat.

Baca Juga : Tingkatan Sabuk di PSHT

Dilansir dari sejumlah catatan organisasi, perkumpulan tersebut menjadi salah satu bentuk perhatian Ki Hadjar Hardjo Oetomo terhadap kondisi ekonomi rakyat kecil pada masa penjajahan.

Tidak lama kemudian, saat organisasi VSTP atau Persatuan Pegawai Kereta Api mulai berkembang, Ki Hadjar Hardjo Oetomo dipercaya menduduki jabatan Hoof Komisaris Madiun. Posisi itu membuat kehidupannya mulai lebih stabil dibanding sebelumnya.

Berguru kepada Ki Ngabehi Soerodiwiryo

Dalam sejarah Persaudaraan Setia Hati, tahun 1917 menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan hidup Ki Hadjar Hardjo Oetomo. Berdasarkan berbagai sumber sejarah SH, pada tahun tersebut ia berguru langsung kepada Ki Ngabehi Soerodiwiryo, pendiri ajaran Setia Hati.

Ki Ngabehi Soerodiwiryo dikenal sebagai tokoh pencak silat yang merintis ajaran Setia Hati sebagai jalan pembentukan watak dan persaudaraan. Dari proses berguru itulah Ki Hadjar Hardjo Oetomo kemudian mengembangkan ajaran yang nantinya melahirkan SH Terate.

Sumber sejarah menyebutkan bahwa pada masa itu nama Setia Hati mulai digunakan untuk menggantikan nama perguruan sebelumnya yang dikenal sebagai “Djojo Gendilo Cipto Mulyo”.

Mendirikan SH Pencak Sport Club

Memasuki tahun 1922, Ki Hadjar Hardjo Oetomo semakin aktif dalam pergerakan melawan penjajahan Belanda. Dilansir dari berbagai sumber sejarah, ia bergabung dengan organisasi Sarekat Islam dan juga memiliki keterkaitan dengan Boedi Oetomo serta Taman Siswa.

Pada tahun yang sama, Ki Hadjar Hardjo Oetomo mendirikan organisasi pencak silat bernama SH Pencak Sport Club di Desa Pilangbango, Madiun. Perguruan tersebut dibentuk sebagai sarana pendidikan mental, persaudaraan, dan latihan bela diri bagi pemuda pribumi.

Dalam sejumlah catatan sejarah disebutkan bahwa aktivitas SH Pencak Sport Club sempat dicurigai pemerintah kolonial Belanda karena dianggap berpotensi menjadi tempat pembentukan kekuatan perlawanan rakyat.

Akibatnya, organisasi itu sempat dibubarkan oleh pemerintah kolonial. Namun Ki Hadjar Hardjo Oetomo tidak menghentikan aktivitas perguruannya.

Untuk menghindari pengawasan ketat Belanda, Ki Hadjar Hardjo Oetomo kemudian mengubah nama SH Pencak Sport Club menjadi SH Pemuda Sport Club. Kata “Pencak” dihilangkan sebagai strategi untuk mengelabui pemerintah kolonial agar kegiatan perguruan tetap bisa berjalan.

Dilansir dari sejarah internal SH Terate, strategi tersebut berhasil membuat aktivitas organisasi kembali berlangsung tanpa pembubaran langsung dari pihak Belanda.

Pada masa itu, murid-murid Ki Hadjar Hardjo Oetomo mulai berkembang ke berbagai daerah seperti Nganjuk, Kertosono, Jombang, Lamongan, Solo, hingga Yogyakarta.

Beberapa nama murid awal yang banyak disebut dalam sejarah SH antara lain Idris dari Dandang Jati Loceret Nganjuk, Mujini, Jayapana, RM Soetomo Mangkoedjojo, Darsono, hingga sejumlah tokoh lain yang kemudian ikut mengembangkan SH Terate di berbagai wilayah.

Aktivitas Politik dan Perlawanan terhadap Belanda

Selain bergerak di bidang pencak silat dan sosial, Ki Hadjar Hardjo Oetomo juga dikenal aktif dalam gerakan politik anti-kolonial.

Menurut sejumlah sumber sejarah, pada masa resesi ekonomi tahun 1923, pegawai perusahaan kereta api SS di wilayah Madiun mengalami masalah pembayaran gaji. Menjelang Lebaran pada Mei 1923, Ki Hadjar Hardjo Oetomo bersama Djojoadihardjo dan Brotosewojo menggelar aksi protes dan mogok kerja pegawai SS di wilayah Madiun.

Aksi tersebut membuat mereka masuk dalam pengawasan aparat kolonial Belanda.

Dilansir dari arsip surat kabar Hindia Belanda tahun 1927, nama Hardjo Oetomo bahkan pernah masuk dalam daftar tokoh Madiun yang akan dibuang ke Boven Digoel, Papua, yang pada masa itu digunakan pemerintah kolonial sebagai lokasi pengasingan tahanan politik.

Pada tahun 1925, pemerintah kolonial Belanda menangkap Ki Hadjar Hardjo Oetomo. Berdasarkan berbagai sumber sejarah, ia sempat dipenjara di Madiun sebelum dipindahkan ke Penjara Cipinang, Jakarta.

Setelah itu, ia kembali dipindahkan ke Padang Panjang, Sumatera Barat. Sejumlah catatan menyebutkan Ki Hadjar Hardjo Oetomo menjalani masa tahanan sekitar lima tahun sebelum akhirnya dibebaskan dan kembali ke Madiun pada sekitar tahun 1931.

Meski pernah dipenjara, aktivitas perjuangan dan pengembangan SH tidak berhenti. Setelah kembali ke Madiun, Ki Hadjar Hardjo Oetomo kembali mengaktifkan SH Pemuda Sport Club secara perlahan.

Lahirnya Nama SH Terate

Memasuki tahun 1942, bersamaan dengan datangnya Jepang ke Indonesia, SH Pemuda Sport Club kembali mengalami perubahan nama menjadi SH Terate.

Dilansir dari sejarah organisasi, nama “Terate” disebut berasal dari usulan salah satu murid Ki Hadjar Hardjo Oetomo, yakni Soeratno Soerengpati yang dikenal sebagai tokoh Indonesia Muda.

Bunga terate dipilih sebagai simbol karena dianggap melambangkan keteguhan hati, kesucian, dan kemampuan bertahan hidup di berbagai kondisi.

Pada masa perkembangan berikutnya, SH Terate mulai menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia dan semakin dikenal masyarakat luas.

Perubahan Menjadi Persaudaraan Setia Hati Terate

Setelah Indonesia merdeka, perkembangan SH Terate berlangsung semakin cepat. Dilansir dari sejarah PSHT, pada tahun 1948 digelar konferensi di rumah Ki Hadjar Hardjo Oetomo di Pilangbango, Madiun.

Konferensi tersebut dihadiri sejumlah tokoh seperguruan seperti RM Soetomo Mangkoedjojo dan Darsono. Dalam pertemuan itu muncul gagasan untuk mengubah status SH Terate dari perguruan pencak silat menjadi organisasi persaudaraan.

Dari hasil konferensi tersebut lahirlah nama Persaudaraan Setia Hati Terate atau PSHT yang dikenal hingga saat ini.

Perubahan nama itu menandai arah organisasi yang tidak hanya fokus pada pencak silat, tetapi juga pembentukan karakter, persaudaraan, dan pendidikan mental spiritual.

Pengakuan sebagai Pahlawan Perintis Kemerdekaan

Pada tahun 1950, Ki Hadjar Hardjo Oetomo mendapatkan pengakuan dari pemerintah pusat sebagai “Pahlawan Perintis Kemerdekaan”.

Pengakuan tersebut diberikan atas jasa-jasanya dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda dan kontribusinya dalam membangun gerakan masyarakat melalui organisasi sosial maupun pencak silat.

Sumber sejarah menyebutkan pengaruh Ki Hadjar Hardjo Oetomo tidak hanya terbatas di lingkungan PSHT, tetapi juga dalam gerakan kebangsaan di wilayah Madiun dan Jawa Timur.

Wafat dan Dimakamkan di Pilangbango

Ki Hadjar Hardjo Oetomo meninggal dunia pada 13 April 1952. Sejumlah sumber lain menyebutkan tanggal wafatnya berada pada rentang Sabtu Legi hingga Ahad Pahing, 12–13 April 1952.

Ia dimakamkan di TPU Desa Pilangbango, Kota Madiun, Jawa Timur. Hingga kini, makam Ki Hadjar Hardjo Oetomo masih menjadi salah satu tempat yang sering dikunjungi warga PSHT dan masyarakat umum untuk mengenang jasa-jasa beliau.

Daftar Murid dan Tokoh Awal SH Terate

Dalam sejumlah catatan sejarah organisasi, Ki Hadjar Hardjo Oetomo memiliki banyak murid yang kemudian ikut mengembangkan SH Terate di berbagai daerah.

Beberapa nama yang sering disebut antara lain Hardjo Mardjoet alias Hardjo Pramojo, Soenaryo, Soeyono, Hasan Djoyo Adi Soewarno, Soemo Soedirjo, Sastro Harjono, RM Soetomo Mangkoedjojo, Darsono, Suprojo, Hardjo Giring, Gunawan, Hadisubroto, Hardjo Wagiran, Sunardi, Sumadji al-Atmadji, Badini, Muhammad Irsyad Widagdo, hingga Roeslan dan Roestamaji.

Nama-nama tersebut tercatat sebagai bagian dari generasi awal yang membantu perkembangan SH Terate hingga meluas ke berbagai wilayah Indonesia.

Warisan Sejarah Ki Hadjar Hardjo Oetomo

Ki Hadjar Hardjo Oetomo meninggalkan warisan besar dalam sejarah pencak silat Indonesia. Selain dikenal sebagai pendiri Persaudaraan Setia Hati Terate, ia juga dikenang sebagai tokoh yang aktif memperjuangkan pendidikan, ekonomi rakyat, serta perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.

Baca Juga : Waketum PSHT : Padepokan Madiun Milik Bersama, Tak Ada yang diusir Saat Eksekusi Sita

Dilansir dari berbagai sumber sejarah PSHT, nilai utama yang diwariskan Ki Hadjar Hardjo Oetomo adalah persaudaraan, keberanian, disiplin, dan kepedulian terhadap masyarakat kecil.

Hingga saat ini, Persaudaraan Setia Hati Terate berkembang di berbagai daerah di Indonesia bahkan luar negeri, dan nama Ki Hadjar Hardjo Oetomo tetap menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan pencak silat nasional serta perjalanan organisasi PSHT di Indonesia.(ikrar)

Rizkia Putra

Saya ada seorang jurnalis berpengalaman dalam bidang media dan SEO selama 5 tahun