
Profil RM Imam Koesoepangat
Ilmusetiahati.com – Imam Koesoepangat merupakan salah satu figur sentral paling berpengaruh dalam sejarah perkembangan organisasi pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Dikenal luas dengan julukan “Pendhita Wesi Kuning”, pria bernama lengkap Raden Mas Imam Koesoepangat Ario Panulisan ini meletakkan fondasi spiritual, struktural, hingga pembakuan jurus yang membawa organisasi ini tumbuh menjadi salah satu perguruan seni bela diri terbesar di Indonesia. Dedikasi luar biasa sepanjang hayatnya didasarkan pada prinsip luhur Jawa yang berbunyi, “Sepiro gedhening sengsara yen tinampa amung dadi coba” (seberapa pun besarnya kesengsaraan, jika diterima dengan ikhlas hanya akan menjadi ujian hidup).
Dilahirkan di Kabupaten Bojonegoro pada hari Jumat Pahing, 18 November 1938, Raden Mas (RM) Imam Koesoepangat tumbuh dalam lingkungan keluarga bangsawan Jawa yang memiliki tradisi spiritual kuat. Melansir data silsilah keluarga, beliau merupakan putra ketiga dari lima bersaudara yang sering disebut sebagai “Pandawa Lima”. Ayahandanya adalah Raden Mas Ambar Koessensi, seorang abdi negara yang menjabat sebagai Patih Surabaya. Sementara ibundanya adalah Raden Ayu Koesmiyatoen, yang merupakan putri dari Bupati Madiun ke-6, Kanjeng Pangeran Ronggo Ario Koesnodiningrat (dalam beberapa catatan tertulis Kanjeng Pangeran Ronggo Ario Koesnoningrat). Neneknya yang bernama Djuwito (Raden Ajeng Pangeran Ronggo Ario Koesnodiningrat) juga dikenal sebagai figur bangsawan yang sangat disegani pada masa itu.
Baca Juga : Tingkatan Sabuk di Persaudaraan Setia Hati Terate
Silsilah keturunan dari Kanjeng Pangeran Ronggo Ario Koesodiningrat ini tidak hanya mewariskan darah biru atau status sosial tinggi, melainkan juga tradisi tapa brata. Tradisi ini merupakan sebuah laku spiritual untuk mencari hakikat kehidupan dengan jalan menjauhi larangan Allah SWT serta membentengi diri dari pengaruh keduniawian. Karakteristik komitmen spiritual yang kuat dari para leluhurnya inilah yang di kemudian hari menitis ke dalam jiwa RM Imam Koesoepangat, membentuk karisma kepemimpinan yang kuat, dan membuatnya dihormati oleh segenap masyarakat serta para pendekar lintas perguruan.
Masa Kecil RM Imam Koesoepangat
Masa kanak-kanak RM Imam Koesoepangat dilalui bersama saudara-saudaranya di lingkungan Kabupaten Madiun, menempati kediaman sang kakek. Beliau tumbuh bersama dua orang kakak kandung, yaitu Raden Mas Imam Koesoenarto dan Raden Mas Imam Koesenomihardjo, serta dua orang adik kandung, yakni Raden Mas Imam Koeskartono (Mas Gembong) dan Raden Mas Abdullah Koesnowidjodjo (Mas Gegot). Berdasarkan catatan sejarah internal organisasi PSHT, pada masa kecilnya beliau belum memperlihatkan tanda-tanda kelebihan fisik atau kemampuan akademis yang mencolok di atas rata-rata.
Saat menempuh pendidikan dasar di Sekolah Dasar (SD) Latihan Guru Satu—yang saat ini dikenal sebagai SD Negeri Indrakila Madiun—beliau tidak tergolong sebagai siswa yang paling menonjol secara akademis. Namun, karakteristik utama yang menonjol dari dirinya sejak kecil adalah keberanian yang besar, kejujuran yang konsisten, serta kerelaan untuk membela dan menolong teman-teman sepermainannya yang membutuhkan bantuan.
Titik balik emosional dalam kehidupan RM Imam Koesoepangat terjadi ketika beliau menginjak usia 13 tahun. Dilansir dari dokumen riwayat hidup tokoh, tepat pada tanggal 15 Maret 1951, sang ayah, RM Ambar Koesensi, wafat menghadap Allah SWT. Peristiwa duka tersebut terjadi saat Imam kecil masih duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar. Kehilangan figur ayah di usia yang sangat belia sempat mengguncang jiwanya dan mengubah drastis fase kedewasaannya.
Sepeninggal sang ayah, pola pengasuhan sepenuhnya diambil alih oleh sang ibunda, Raden Ayu Koesmiyatoen. Di waktu-waktu senggang, sang ibu kerap memberikan petuah hidup dan mendongengkan kisah pahlawan-pahlawan nasional. Dari bimbingan ibundanya inilah nilai-nilai dasar tata krama pergaulan, ketakwaan kepada Allah SWT, pengertian budi luhur, hingga dasar-dasar mesubrata (mengendalikan hawa nafsu) mulai tertanam kuat dalam diri pemuda yang akrab disapa dengan nama panggilan “Ario” tersebut.
Awal Mula Kiprah di Persaudaraan Setia Hati Terate
Ketertarikan RM Imam Koesoepangat terhadap ilmu kanuragan dan kebatinan semakin menguat seiring bertambahnya usia. Memasuki usia 16 tahun, di sela-sela kesibukannya sebagai siswa di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Madiun, beliau memutuskan untuk mulai mempelajari pencak silat di bawah naungan Persaudaraan Setia Hati Terate pada tahun 1953. Selama periode awal tersebut, beliau berlatih di bawah asuhan langsung Mas Irsad, yang merupakan murid langsung dari pendiri PSHT, Ki Hadjar Hardjo Oetomo.
Proses latihan fisik dan spiritual dijalani dengan penuh disiplin selama kurang lebih lima tahun. Berdasarkan arsip kepengurusan, setelah menyelesaikan pendidikannya di SMA Nasional Madiun, RM Imam Koesoepangat berhasil menyelesaikan seluruh materi pelajaran pencak silat PSHT dan secara resmi disahkan menjadi Pendekar Tingkat I pada tahun 1958. Di bawah bimbingan Mas Irsad, RM Imam Koesoepangat mendapatkan pendalaman teknik, akurasi jurus, serta materi senam yang kelak menjadi standar baku organisasi.
Pembakuan Jurus dan Lahirnya Mars PSHT
Memasuki tahun 1959, RM Imam Koesoepangat mulai mengemban tanggung jawab untuk melatih para siswa baru. Salah satu murid langsung dari angkatan awal yang dididik oleh beliau adalah Tarmadji Boedi Harsono, yang di kemudian hari menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat PSHT. Berdasarkan kesaksian dari Tarmadji Boedi Harsono dalam dokumen sejarah organisasi, RM Imam Koesoepangat merupakan sosok pelatih yang sangat santun namun memiliki wibawa yang luar biasa. Saat melatih di depan siswanya, beliau menerapkan disiplin yang sangat ketat dan keras. Ucapan serta perilakunya dikenal sangat konsisten; jika beliau menginstruksikan suatu prinsip, maka tindakan nyatanya akan sepenuhnya selaras dengan perkataan tersebut.
Materi senam dan jurus yang diajarkan oleh RM Imam Koesoepangat kepada Tarmadji merupakan materi terstandarisasi yang bersumber dari pembaharuan era Mas Irsad, yaitu Senam 1 sampai dengan Senam 90. Mengutip penjelasan teknis dari Tarmadji Boedi Harsono, sejak masa RM Imam Koesoepangat melatih, pelajaran pencak silat yang digunakan difokuskan pada jurus-jurus baru yang telah disempurnakan demi kepentingan organisasi:
“Jurus yang diajarkan beliau adalah senam dan jurus yang sampai sekarang diajarkan kepada siswa SH Terate… Sedangkan jurus lama tidak lagi digunakan. Sebab, seperti yang dipesankan Mas Imam Koessoepangat kepada Mas Madji, jurus Djoyo Gendilo Ciptomulyo itu miliknya SH Winongo.”
Di samping gerakan baku pencak silat, kurikulum yang diberikan juga mencakup permainan senjata praktis seperti kripen dan toya, pelajaran fisik osdower, serta yang paling utama adalah pendidikan kerohanian atau kebatinan yang disebut sebagai ilmu “kang aweh reseping ati” (ilmu yang membawa ketenangan dan kedamaian hati). Terkait adanya anggota organisasi yang mempelajari ilmu kanuragan tambahan di luar kurikulum—seperti ilmu kekebalan fisik—RM Imam Koesoepangat tidak melarangnya, dengan syarat mutlak bahwa ilmu tersebut hanya menjadi pengayaan wawasan pribadi dan sama sekali tidak dimasukkan ke dalam kurikulum pengajaran resmi organisasi PSHT.
Pada tahun 1963, RM Imam Koesoepangat berhasil mengesahkan angkatan pertama anak didik langsungnya yang berjumlah 8 orang pendekar. Kedelapan pendekar tersebut adalah:
Tarmadji Boedi Harsono
Abdullah Koesno Widjojo
Soediro
Bibit Soekadi
Soedarso
Soedibyo
Soemarsono
Bambang Tunggul Wulung
Dilansir dari catatan inventarisasi organisasi pada tahun 2013, dari total 8 orang murid pertama tersebut, saksi sejarah yang masih hidup pada tahun itu menyisakan dua orang, yaitu Tarmadji Boedi Harsono dan Soedibyo yang menetap di Jakarta.
Tahun 1963 juga mencatat momentum penting dalam aspek kebudayaan organisasi. Untuk pertama kalinya, Mars SH Terate dikumandangkan secara resmi di hadapan publik dalam acara Pagelaran Seni Budaya yang bertempat di Gedung Bioskop Basuki, Jalan Sulawesi, Madiun. Lirik dan syair lagu Mars tersebut digubah langsung oleh RM Imam Koesoepangat, sedangkan aransemen musiknya dikerjakan oleh Ady Yasco. Dalam momentum kultural tersebut, RM Imam Koesoepangat menegaskan komitmen kebangsaan yang sangat kuat. Beliau menyampaikan pesan:
“Pancasila merupakan ideologi bangsa Indonesia, pemersatu bangsa Indonesia. Kalau Pancasila dirubah, saya tidak rela dan akan mempertahankan bersama-sama dengan pendekar SH Terate.”
Sejarah Laga Bebas Karesidenan Madiun
Pada dekade tahun 1960-an, halaman Kantor Eks-Karesidenan Madiun secara rutin menggelar sebuah kompetisi bergengsi tahunan yang dikenal sebagai Gelanggang Adu Bebas. Arena ini merupakan ajang pertarungan antar-pesilat dengan sistem full body contact tanpa menggunakan pelindung tubuh. Kompetisi ini berfungsi sebagai ruang pembuktian kemampuan teknis sekaligus media promosi bagi perguruan pencak silat untuk menarik minat masyarakat. Perguruan yang berhasil memenangkan pertandingan umumnya akan mendapatkan atensi besar dan mengalami lonjakan jumlah murid baru.
Dalam arena laga bebas tersebut, RM Imam Koesoepangat turun bertindak sebagai petarung utama perwakilan dari PSHT, didampingi oleh dua pendekar lainnya yakni Parno Ramelan dan Sudarso. Berdasarkan kronik pertandingan, RM Imam Koesoepangat berhadapan dengan Kyai Soekoco, seorang pendekar dari perguruan SH Tuhu Tekad asal Desa SeWulan, Kecamatan Dagangan. Kyai Soekoco merupakan lawan yang sangat tangguh; beliau memiliki postur tubuh yang jauh lebih tinggi, dikenal memiliki kekebalan fisik, serta memiliki rekam jejak kemenangan yang panjang di arena laga bebas.
Berdasarkan penuturan sejarah dari Tarmadji Boedi Harsono, dirinya sebenarnya berniat ikut serta turun bertanding ke gelanggang saat itu. Namun, RM Imam Koesoepangat tidak memberikan izin dengan alasan usia Tarmadji yang masih terlalu muda. Sebagai gantinya, Tarmadji diberikan tugas khusus untuk memegang dan menjaga Keris Kyai Luwuk milik RM Imam Koesoepangat dengan pesan mutlak agar keris tersebut tidak boleh berpindah tangan kepada siapa pun selama pertandingan berlangsung.
Meskipun pada awalnya kemampuan RM Imam Koesoepangat sempat diragukan oleh beberapa tokoh internal organisasi yang mengkhawatirkan keselamatan beliau, jalannya pertandingan membuktikan sebaliknya. Pada ronde-ronde awal, pertarungan berlangsung sengit dan seimbang. Pukulan serta tendangan telak dari RM Imam Koesoepangat berulang kali mendarat di tubuh Kyai Soekoco, namun Kyai Soekoco hanya merespons dengan senyuman tanpa menunjukkan rasa sakit. Memasuki ronde terakhir, RM Imam Koesoepangat berhasil mengambil momentum dengan menerapkan teknik kuncian total terhadap tubuh Kyai Soekoco. Melalui kuncian kokoh yang tidak dapat dilepaskan tersebut, dewan juri akhirnya memutuskan kemenangan mutlak bagi RM Imam Koesoepangat.
Kepemimpinan Struktural dan Manajemen Organisasi
Kiprah kepemimpinan RM Imam Koesoepangat di ranah organisasi meluas secara signifikan pada masa-masa sulit pasca-peristiwa G30S/PKI di Madiun yang sempat membuat aktivitas organisasi vakum. Pada tahun 1965, beliau sempat memegang posisi sebagai Ketua Banteng Dwikora di tingkat lokal. Kendati demikian, beliau memberikan batasan yang sangat tegas kepada Tarmadji Boedi Harsono bahwa keterlibatan dirinya dalam gerakan tersebut bersifat personal dan beliau menolak keras membawa nama organisasi PSHT ke dalam ranah politik praktis tersebut.
Aktivitas struktural PSHT mulai dihidupkan kembali secara masif melalui pelaksanaan Kongres I SH Terate yang diselenggarakan di Madiun pada tahun 1974. Hasil kongres menetapkan susunan kepengurusan baru sebagai berikut:
| Posisi Struktural | Nama Tokoh yang Ditetapkan |
| Ketua Pusat | RM Imam Koesoepangat |
| Ketua Dewan Pusat | Soetomo Mangkoedjojo |
Melalui pelaksanaan kongres perdana ini, disepakati sebuah sistem demokrasi organisasi di mana kedaulatan tertinggi berada di tangan anggota yang suaranya diwakili melalui utusan resmi di setiap kongres. Selain itu, seluruh peserta kongres menghasilkan ikrar bersama untuk membela dan mempertahankan Pancasila sebagai ideologi negara sampai titik darah penghabisan.
Pada perkembangan berikutnya di tahun 1981, organisasi menerapkan sistem pembagian kewenangan kepemimpinan kepengurusan untuk memperluas jangkauan organisasi. Dalam pembagian struktur tersebut, RM Imam Koesoepangat menempati posisi sebagai Ketua Dewan Pusat yang memegang otoritas penuh di Bidang Ideal (Kerohanian dan Kebatinan). Sementara itu, jabatan Ketua Umum Pengurus Pusat diamanatkan kepada H. Tarmadji Boedi Harsono yang bertanggung jawab penuh atas Bidang Profesional (Manajemen Organisasi dan Pengembangan Wilayah). Sistem pembagian dua pilar kepemimpinan (Bidang Ideal dan Bidang Profesional) ini terbukti efektif dalam menjaga stabilitas organisasi dan diadopsi kembali pada kepengurusan tahun 2014, di mana posisi Bidang Profesional kemudian diamanatkan kepada Kolonel (Purn.) Richard Simorangkir demi menyesuaikan dengan perkembangan zaman.
Laku Spiritual, Visi Masa Depan, dan Akhir Hayat
Sebagai seorang pimpinan spiritual, RM Imam Koesoepangat dikenal sangat rajin melakukan ibadah mandiri dan laku tirakat guna memohon petunjuk serta keberkahan dari Allah SWT untuk perkembangan organisasi. Pada tahun 1967, beliau melaksanakan ritual mesu budi, yaitu melakukan puasa total selama 7 hari 7 malam di dalam kamar paviliunnya. Sebelum memulai ibadah tersebut, beliau meminta Tarmadji Boedi Harsono untuk berjaga di depan pintu kamar dan berpesan agar mendobrak pintu apabila pada hari ketujuh beliau tidak kunjung keluar.
Tepat pada hari ketujuh, RM Imam Koesoepangat keluar dari kamar dalam kondisi fisik yang sangat lemah dan sempoyongan. Setelah meminum air kunir asam yang dicarikan oleh Tarmadji, beliau menyampaikan sebuah pandangan visioner atau firasat mengenai masa depan organisasi yang diucapkan dalam bahasa Jawa:
“Njenengan eling-eling Dik, njenengan titeni, mbenjing titi wancine SH Terate ageng Dik. Ning kula mboten nemoni. Mbenjing sing nemoni Dik Madji. Sing mimpin njih Dik Madji. Ageng Dik, ngluwihi paguron-paguron liyane.”
(Kamu ingat-ingat ya Dik. Kamu perhatikan. Besok jika sudah sampai waktunya, SH Terate bakal berkembang pesat menjadi besar. Tapi saya tidak melihat. Besok yang melihat Dik Madji. Yang memimpin juga Dik Madji. SH Terate besar Dik, melebihi perguruan pencak silat lainnya).
Firasat tersebut di kemudian hari terbukti secara empiris dengan meluasnya cabang-cabang organisasi PSHT hingga ke seluruh penjuru Indonesia dan luar negeri di bawah kepemimpinan Tarmadji Boedi Harsono. Selain berpuasa di kediamannya, RM Imam Koesoepangat juga kerap melakukan perjalanan spiritual ke berbagai lokasi seperti Segara Kidul (Laut Selatan), Harga Dumilah di puncak Gunung Lawu, hingga kawasan Gunung Srandil. Tarmadji menegaskan bahwa seluruh rangkaian aktivitas tirakat tersebut merupakan laku spiritual pribadi demi pengayaan ilmu kerohanian diri sendiri dan tidak pernah dipaksakan untuk masuk ke dalam kurikulum wajib siswa organisasi.
Duka mendalam kembali dialami oleh RM Imam Koesoepangat ketika ibunda tercinta wafat pada tahun 1985. Sebelumnya, pada tahun 1966, beliau juga telah kehilangan adik kandungnya yang bernama Mas Gegot. Kehilangan orang-orang terdekatnya membuat beliau berulang kali mengutarakan niat secara lisan kepada pihak keluarga dan Tarmadji bahwa dirinya ingin segera menyusul wafat. Menanggapi pernyataan tersebut, Tarmadji berupaya meyakinkan beliau bahwa tenaga dan pemikirannya masih sangat dibutuhkan oleh organisasi. Mendengar argumentasi tersebut, RM Imam Koesoepangat memberikan jawaban:
“Injih Dik, kulo manut. Nanging ampun dangu-dangu. Ampun luwih saking 1000 dinten sedane Ibu.”
(Iya Dik, saya menurut. Tapi jangan lebih dari seribu hari kematian Ibu).
Pernyataan tersebut terbukti menjadi kenyataan. Berdasarkan data rekam medis dan catatan kematian, pada hari Senin, 16 November 1987, RM Imam Koesoepangat wafat pada usia 49 tahun kurang dua hari. Empat hari sebelum wafat, tepatnya pada malam Jumat, Tarmadji beserta istrinya, Hj. Ruwi Tarmadji, sempat mengunjungi kediaman beliau di Paviliun Kabupaten Madiun dan mendapati kondisi fisik sang pendekar sudah sangat lemah. Ketika ditanya mengenai kesehatannya, RM Imam Koesoepangat hanya tersenyum dan berkata, “Mboten Dik. Mpun, mangke dinten Senin enjing kemawon Dik Madji kulo timbale mriki” (Tidak Dik. Sudah, nanti hari Senin pagi saja Dik Madji saya panggil ke sini). Beliau juga menitipkan pesan terakhir agar Tarmadji tetap setia dan aktif membesarkan organisasi.
Pada Senin pagi tanggal 16 November 1987, kondisi fisik beliau mengalami penurunan drastis secara tiba-tiba (drop) sehingga harus dilarikan ke rumah sakit, tempat di mana beliau akhirnya mengembuskan napas terakhir. Jenazah almarhum dimakamkan secara Islam dan terhormat di Makam Taman, Kota Madiun.
Sebagai pemikir dan tokoh spiritual, RM Imam Koesoepangat mewariskan konsep pemikiran mendalam mengenai hakikat kemanusiaan, moralitas, dan ketakwaan. Beliau memandang manusia sebagai makhluk paling mulia yang diciptakan Allah SWT karena dibekali komparasi unsur akal sekaligus nafsu. Dalam menjabarkan aspek psikologis manusia, beliau merujuk pada konsep empat jenis nafsu, yaitu:
Nafsu Mutmainah: Nafsu yang mendorong manusia pada kebajikan (diidentifikasikan sebagai karakter nafsu malaikat).
Nafsu Supiyah: Nafsu yang melahirkan sifat iri, dengki, dan cemburu sosial (diidentifikasikan sebagai karakter nafsu syaitan).
Nafsu Lawwamah: Nafsu yang mendorong ketamakan, kerakusan, dan materiil (diidentifikasikan sebagai karakter nafsu binatang).
Nafsu Amarah: Nafsu yang memicu kemarahan dan hilangnya kontrol emosi (diidentifikasikan sebagai karakter nafsu syaitan).
Beliau mengajarkan bahwa manusia harus bijaksana dalam mengelola keempat nafsu tersebut secara proporsional sesuai dengan prinsip “empan lan papan” (mampu menempatkan diri sesuai situasi dan tempat). Dalam kosmologi Jawa, hal ini berkaitan erat dengan falsafah “papat kiblat limo pancer”, di mana empat kiblat disimbolkan sebagai empat jenis nafsu tersebut, sedangkan pancer adalah kesadaran diri manusia sebagai pengendali utama.
Prinsip teologis utama yang ditekankan oleh RM Imam Koesoepangat adalah bahwa seluruh aktivitas hidup manusia harus dilandasi niat beribadah Lillahi Ta’ala (karena Allah semata). Landasan ini sejalan dengan teks kitab suci Al-Qur’an yang menyatakan bahwa manusia dan jin diciptakan semata-mata untuk beribadah. Seseorang baru dapat dikategorikan sebagai manusia yang berbudi luhur (atau bertaqwa dalam terminologi Islam) apabila ia mampu merealisasikan tiga bakti utama, yaitu:
Bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa: Diwujudkan dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya yang tercantum dalam Al-Qur’an, serta menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW sebagai teladan hidup utama.
Bakti kepada Kedua Orang Tua: Didasarkan pada pemahaman logis dan teologis bahwa manusia ada di dunia perantara pengorbanan orang tua. Merujuk pada Hadits Riwayat Muslim yang menegaskan bahwa surga berada di telapak kaki ibu, beliau menekankan kewajiban mutlak seorang anak untuk menghormati, sungkem, serta senantiasa mendoakan orang tua, baik semasa hidup maupun setelah wafat. Tindakan mendoakan orang tua ini mengacu pada dalil sahih bahwa amal perbuatan manusia terputus setelah kematian kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya.
Bakti kepada Guru: Guru dipandang sebagai pahlawan tanpa tanda jasa yang membimbing manusia dari ketidaktahuan menuju pemahaman ilmu yang bermanfaat bagi agama, bangsa, dan sesama. Definisi guru menurut beliau tidak terbatas pada institusi sekolah formal, melainkan mencakup setiap individu yang memberikan bimbingan ilmu. Guru memikul tanggung jawab moral yang besar sesuai falsafah “digugu lan ditiru” (dipercaya ucapannya dan dicontoh perilakunya).
Dalam kajian spiritual tingkat tinggi Jawa, RM Imam Koesoepangat juga menjelaskan konsep “manunggaling kawulo gusti”—sebuah kondisi spiritual di mana seorang manusia telah mampu merasakan kehadiran tuntunan Tuhan yang sangat dekat dalam dirinya, sehingga setiap tindakan lahiriahnya senantiasa diilhami oleh kebenaran batiniah. Beliau mengibaratkan laku spiritual ini dengan kisah pewayangan Bratasena (Bima) yang bertemu dengan Dewa Ruci, yang merupakan representasi dari bentuk batin Bima sendiri. Untuk mencapai derajat pemahaman batin tersebut diperlukan lelaku yang berat dan disiplin tinggi yang hanya bisa diselesaikan oleh orang-orang linuwih (memiliki kelebihan spiritual).
Meskipun mendalami falsafah Jawa, beliau menegaskan sudut pandang yang rasional bahwa Islam tidak mengajarkan praktik-praktik mistis seperti yang ada dalam mitos atau dongeng. Islam mengajarkan umatnya untuk berdzikir, beribadah secara rasional, serta melakukan islah atau hijrah apabila berada di lingkungan moral yang telah rusak. Beliau juga mengingatkan bahwa fisik dan harta benda manusia hanyalah titipan Allah SWT yang harus dijaga dan dipergunakan untuk mendatangkan berkah, bukan sekadar untuk pemuasan kesenangan duniawi yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.
Baca Juga : Daftar Kode Warga PSHT (RAHASIA)
Sebagai penutup rumusan ajarannya yang sangat legendaris dan menjadi pedoman mutlak bagi seluruh anggota Persaudaraan Setia Hati Terate, RM Imam Koesoepangat mewariskan sebuah penegasan karakter mengenai kekuatan batin dan prinsip kebenaran objektif manusia:
“Manusia dapat dimatikan, manusia dapat dihancurkan, tetapi manusia tidak dapat dikalahkan selama manusia itu masih percaya pada dirinya sendiri.”
Secara filosofis, kalimat tersebut bermakna bahwa secara fisik manusia bisa mengalami kematian akibat pembunuhan atau kehancuran fisik akibat bencana, namun esensi kemanusiaan dan kebenaran yang diyakini oleh batinnya tidak akan pernah bisa ditundukkan oleh kekuatan apa pun. Batin merupakan puncak kekuatan manusia karena merupakan hati kecil paling dalam yang diciptakan Allah SWT agar senantiasa berpijak pada kebenaran objektif dan terhindar dari manipulasi atau kesesatan. Walaupun seseorang telah meninggal dunia dan berada di alam kubur (barzakh), kebenaran yang diperjuangkannya semasa hidup akan tetap abadi karena kebenaran merupakan milik mutlak dari Allah SWT.(ikrar)
