30 Kata-Kata Mutiara PSHW Tunas Muda, Lengkap Dengan Artinya Bahasa Indonesia
Ilmusetiahati.com – Daftar 30 kata mutiara PSHW Tunas Muda menjadi warisan spiritual yang tak terpisahkan dari eksistensi Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda (PSHWTM). Sebagai organisasi bela diri yang berpusat di Jalan Doho No. 123, Kelurahan Winongo, Kota Madiun, PSHW tidak hanya mengajarkan ketangkasan fisik melalui pencak silat, tetapi juga penataan batin yang mendalam. Mengutip dari catatan sejarah organisasi, perguruan ini secara resmi didirikan oleh Raden Djimat Hendro Soewarno pada 15 Oktober 1965 dengan tujuan meneruskan ajaran murni dari tokoh besar pencak silat Indonesia, Ki Ngabehi Soerodwirjo.
Baca Juga : Sejarah SH Winongo, Tahun Berdiri, Asal Usul, Perkembangan, dan Filosofi
Perjalanan spiritual PSHW Tunas Muda berakar kuat pada sosok Ki Ngabehi Soerodwirjo atau yang dikenal dengan nama kecil Masdan. Dilansir dari dokumen sejarah Setia Hati, beliau lahir pada tahun 1869 di keluarga bangsawan dari Gresik. Ayahnya, Ki Ngabehi Suro Miharjo, adalah seorang mantri cacar. Dalam kurun waktu perjalanan hidupnya, beliau merantau ke berbagai penjuru Nusantara untuk mendalami ilmu bela diri dan kerohanian. Berdasarkan referensi sejarah, pada tahun 1903, beliau mendirikan Sedulur Tunggal Kecer (STK) di Surabaya dengan permainan silat bernama “Joyo Gendilo”. Ilmu ini terus berkembang hingga pada tahun 1917 berubah nama menjadi Persaudaraan Setia Hati.
Ajaran Setia Hati Winongo menitikberatkan pada keseimbangan antara jasmani dan rohani. Oleh karena itu, daftar 30 kata mutiara SH Winongo sering kali digunakan sebagai bahan kontemplasi bagi para anggotanya. Berikut adalah daftar kata-kata bijak dan filosofi luhur yang dirangkum dari ajaran PSHW Tunas Muda:
Daftar 30 Kata Mutiara PSHW Tunas Muda dan Maknanya
Tat Twam Asi: Memiliki arti “Ia adalah aku, aku adalah ia”. Kalimat ini menekankan empati mendalam terhadap sesama makhluk.
Kembang Tepus Kaki: “Yen dijiwit kroso loro ojo njiwit liyan”. Sumber dari ajaran moral ini mengingatkan bahwa jika kita merasa sakit saat dicubit, maka janganlah menyakiti orang lain.
Kaheksi Katon Murtining Suryo: Menggambarkan keindahan atau kebaikan yang memancar secara alami layaknya sinar matahari.
Suci Kang Ginayuh, Luhur Kang Kaheksi: Bermakna kesucian hati yang menjadi tujuan utama akan membuahkan keluhuran budi yang nyata.
Mens Sana in Corpore Sano: Sebagaimana dikutip dari prinsip kesehatan universal, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa dan pikiran yang kuat.
Amar Ma’ruf Nahi Munkar: Mengajak kepada kebaikan dan mencegah segala bentuk kemungkaran atau keburukan.
Ojo Waton Ngomong Ning Yen Ngomong Sing Gawe Waton: Jangan hanya asal bicara, namun pembicaraan tersebut harus berlandaskan dasar atau bukti yang kuat.
Ojo Rumongso Biso Ning Sing Biso Rumungso: Jangan menjadi pribadi yang merasa serba bisa, namun jadilah pribadi yang bisa merasakan keadaan sekitar (tepo seliro).
Ngunduh Wohing Pakarthi: Berdasarkan hukum kausalitas, siapa pun yang berbuat sesuatu pasti akan memetik hasilnya di kemudian hari.
Amemangun Karyenak Tyasing Sesama: Upaya untuk selalu membuat nyaman perasaan orang lain dalam interaksi sosial.
Sukeng Tyas Yen Den Hita: Menunjukkan sikap rendah hati yang bersedia dan senang menerima nasihat dari orang lain.
Aja Adigang, Adigung, Adiguna: Larangan untuk tidak bersikap sombong atas kekuasaan, kebesaran, maupun kepandaian yang dimiliki.
Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman: Jangan sampai terobsesi secara berlebihan pada jabatan, harta duniawi, dan kepuasan pribadi.
Aja Kuminter Mundak Keblinger: Jangan sok pintar agar tidak salah arah dalam melangkah.
Aja Cidra Mundak Cilaka: Mengutip dari pesan moral leluhur, jangan suka berbuat curang karena hal tersebut akan mendatangkan celaka.
Sing Was-was Tiwas: Sikap ragu-ragu hanya akan membawa seseorang pada kebinasaan atau kegagalan.
Urip Iku Urup: Hidup itu sejatinya harus menyala, dalam artian memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitar.
Sak Apik-apike Wong Yen Aweh Pitulung Kanthi Cara Dedhemitan: Sebaik-baiknya manusia adalah yang memberikan pertolongan tanpa mengharap pujian atau diketahui orang lain.
Suro Diro Joyo Diningrat Lebur Dening Pangastuti: Segala bentuk sifat keras hati dan angkara murka hanya bisa dilelehkan dengan keluhuran budi pekerti.
Jer Basuki Mawa Beya: Setiap bentuk keberhasilan dan kesuksesan pasti menuntut adanya pengorbanan, baik waktu maupun tenaga.
Kridhaning Ati Ora Bisa Mbedhah Kuthaning Pesthi: Gejolak emosi manusia tidak akan mampu mengubah apa yang sudah menjadi ketentuan Tuhan.
Ngluruk Tanpo Bolo: Berani menghadapi masalah secara mandiri tanpa harus bergantung pada orang lain.
Menang Tanpo Ngasorake: Mencapai kemenangan atau keberhasilan tanpa harus merendahkan pihak yang kalah.
Sekti Tanpa Aji-Aji: Kekuatan sejati terletak pada karakter, bukan pada ilmu kanuragan semata.
Sugih Tanpa Bandha: Merasa kaya karena rasa syukur, bukan karena jumlah harta yang berlimpah.
Ala Tanpa Rupa Yen Tumandhang Amung Sedhela: Masalah dan kesusahan akan terasa singkat jika dijalani dengan hati yang lapang.
Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan: Jangan mudah sakit hati saat tertimpa musibah dan jangan berlarut dalam kesedihan saat kehilangan.
Budhi Dayane Manungso Tan Keno Ngluwihi Kodrate Sing Maha Kuwoso: Dilansir dari ajaran ketuhanan, usaha manusia tetap terbatas oleh takdir Tuhan Yang Maha Esa.
Aja Milik Barang Kang Melok: Jangan mudah tergiur oleh kemewahan yang tampak menyilaukan mata.
Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe: Bekerja keras dengan penuh semangat tanpa mengharapkan pamrih yang berlebihan.
Dalam memahami daftar 30 kata mutiara SH Winongo, penting untuk melihat rekam jejak gurunya, Ki Ngabehi Soerodwirjo. Beliau adalah sosok yang memadukan berbagai aliran silat dari Sumatera hingga Bali. Berdasarkan referensi biografi beliau, ia mempelajari silat Minangkabau dari Datuk Rajo Batuah dan memperdalam ilmu spiritual dari Nyoman Ide Gempol di Bali. Beliau juga berguru kepada Tengku Ahmad Mulia Brahim di Aceh. Perpaduan ilmu dari berbagai daerah inilah yang membentuk karakter Setia Hati yang inklusif namun tetap memegang teguh jati diri.
Sesuai dengan pesan-pesan yang terkandung dalam daftar 30 kata mutiara SH Winongo tersebut, setiap warga PSHW Tunas Muda diharapkan mampu menjadi pionir perdamaian dan teladan di tengah masyarakat. Nilai-nilai seperti “Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman” (jangan mudah heran, kecewa, kaget, dan manja) menjadi fondasi mental agar para pendekar tetap tenang dalam menghadapi dinamika zaman yang terus berubah.
Baca Juga : 40 Kata-Kata Mutiara PSHT, Lengkap Dengan Artinya Bahasa Indonesia
Demikian ulasan mengenai sejarah dan daftar 30 kata mutiara PSHW Tunas Muda yang sarat akan makna filosofis. Dengan memahami setiap butir ajarannya, diharapkan masyarakat luas dapat mengambil inspirasi tentang pentingnya menjaga kesucian hati dan keluhuran budi dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana yang ditauladankan oleh para pendiri Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda.

