Olah RasaTerpopuler

Wejangan Ujang Wartono, Fanatisme Buta Berujung Penjara Tanpa Perlindungan

Ilmusetiahati.com , JAKARTA — Sebuah pelajaran hidup bernilai tinggi bagaikan tamparan keras datang dari Kang Mas Ujang Wartono, S.H., M.H. Mantan Ketua Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) P17 Cabang DKI Jakarta yang juga dikenal sebagai tokoh perintis LHA PSHT Pusat Madiun ini membagikan pengalaman pahitnya demi menjadi ikhtiar dan pengingat bagi seluruh warga serta simpatisan organisasi agar tidak terperosok ke dalam lubang kelam yang sama.

Baca Juga : Ksatria! Ketua Panitia Parluh PSHT 2026 Undang Seluruh Pihak Gelar Rekonsiliasi Akbar

Pengalaman berharga ini berakar pada peristiwa kelam tahun 2020 silam. Pada masa itu, Kang Mas Ujang Wartono harus berurusan dengan aparat penegak hukum hingga berujung pada penahanan oleh pihak kepolisian. Penahanan tersebut bukan tanpa alasan, melainkan dipicu oleh bentrokan fisik dengan kelompok Korlap di Jakarta—sebuah insiden memilu yang dipicu oleh rasa fanatisme buta terhadap kelompok Murjoko CS.

Realita Pahit di Balik Janji Loyalitas

Di balik jeruji besi, tabir kepalsuan yang selama ini menutupi pandangannya mendadak tersingkap. Saat masa-masa terberat dalam hidupnya berjalan, janji-janji manis kebersamaan dan doktrin loyalitas yang selama ini dijunjung tinggi mendadak sirna. Pihak Murjoko CS yang dibelanya mati-matian justru menunjukkan sikap acuh tak acuh dan tidak memberikan pertanggungjawaban moral maupun hukum.

Selama menjalani proses hukum hingga masa tahanan berakhir, pihak Murjoko CS terbukti lepas tangan secara total. Tidak ada satupun bentuk perlindungan hukum, bantuan finansial untuk keluarga yang ditinggalkan, ataupun kepedulian mendasar sekadar menanyakan kabar. Realita pahit ini menyadarkan Ujang Wartono bahwa tindakan fanatik yang melanggar hukum pada akhirnya hanya akan menyisakan konsekuensi pribadi yang harus ditanggung sendirian tanpa ada yang peduli.

Kemanusiaan dan Persaudaraan Sejati di Tempat Tak Terduga

Satu hal yang paling menyentuh mata hati Kang Mas Ujang Wartono adalah hadirnya sosok-sosok yang tak terduga saat ia berada di titik terendah. Di tengah rasa kecewa atas sikap kelompok yang dibelanya, justru saudara-saudara dari PSHT yang sebelumnya berposisi sebagai rival atau lawannya lah yang datang menjenguk ke tahanan.

Dengan tulus dan penuh rasa kemanusiaan, mereka hadir memberikan dukungan moral serta menanyakan keadaannya tanpa menyimpan dendam atas perselisihan yang telah terjadi. Momen emosional ini menjadi titik balik besar bagi sudut pandang hidup Ujang Wartono mengenai arti persaudaraan yang sesungguhnya.

Pesan Moral untuk Generasi Muda dan Anggota Organisasi

Melalui kisah hidupnya yang penuh lika-liku ini, Kang Mas Ujang Wartono mengimbau seluruh anggota organisasi masyarakat maupun pencak silat agar tidak terjebak dalam arus fanatisme sempit yang merusak. Mengorbankan diri demi kepentingan elit atau kelompok tertentu dengan cara-cara yang melanggar hukum hanya akan merugikan diri sendiri, merusak masa depan, serta menyengsarakan keluarga tercinta.

Baca Juga : Mediasi Gagal, Moerdjoko Kekeh Lawan PSHT di Persidangan

Pengalaman pahit tahun 2020 tersebut kini ia jadikan pembelajaran berharga agar masyarakat dan para kader organisasi lebih rasional, mengedepankan hukum, serta memahami bahwa persaudaraan sejati dibangun di atas rasa kemanusiaan dan kebenaran, bukan atas dasar fanatisme buta yang menyesatkan.(muji)

Rizkia Putra

Saya ada seorang jurnalis berpengalaman dalam bidang media dan SEO selama 5 tahun

One thought on “Wejangan Ujang Wartono, Fanatisme Buta Berujung Penjara Tanpa Perlindungan

Comments are closed.