Arsip Tag: PSHTPM

Berita Persaudaraan Setia Hati Terate Pusat Madiun PSHTPM terkini dan terlengkap hari ini, menyajikan info berita PSHTPM terupdate dan terbaru seputar PSHTPM.

[DISINFORMASI] Prabowo Tolak Hadiri Tawaran Warga Kehormatan PSHT Pusat Madiun

Ilmusetiahati.com – Prabowo Tolak Hadiri Tawaran Warga Kehormatan PSHT Pusat Madiun
Sempat viral kabar tentang pemberian gelar warga kehormatan Persaudaraan Setia Hati Terate Pusat Madiun (PSHTPM) kepada Bapak Prabowo Subianto dalam rangkain Kampanye Akbar pada Jumat 9 Februari 2024.

Baca Juga : Suwardi Sukses Raih Sabuk Abadi di One Pride MMA

Berita tersebut tidaklah benar, karena Bapak Prabowo menolak menghadiri acara tersebut.
Meskipun tak dihadiri, acara yang berkedok deklarasi damai tetap berjalan tanpa kehadiran beliau.
Acara yang diadakan oleh kelompok yang mengaku ngaku sebagai PSHT tersebut mendapat banyak komentar buruk.
Bagaimana tidak, sesepuh yang seharusnya patut dicontoh perilaku dan tauladanya malah secara terang terang melakukan pelanggaran aturan PSHT yang mereka buat sendiri.
Terlihat mereka menggunakan elemen dan struktrur PSHT mulai dari rayon hingga pusat untuk kepentingan politik yang secara terang benderang merupakan bentuk pelanggaran keras terhadap PSHT.

Baca Juga : Raih Juara Pencak Silat Student Open, Pesilat Difabel Harumkan PSHT


Hal janggal lainya adalah, Bapak Prabowo sendiri adalah Ketua Umum dari PB IPSI dan Perguruan Pencak Silat Satria Muda Indonesia yang memilik nama harum juga di Indonesia.
Pemberian warga kehormatan tersebut tidaklah etis jika Warga PSHT merangkap menjadi Ketua Perguruan Pencak Silat lainya.

Bikin Onar, Konvoi Pesilat Mabuk diamankan di Surabaya

Ilmusetiahati.com – Pada malam Jumat, 21 Juli 2023, dilakukan patroli gabungan oleh kepolisian di kawasan Bundaran Cito, Surabaya. Puluhan pesilat mabuk diamankan dalam operasi ini. Ternyata, beberapa di antara mereka berada dalam pengaruh alkohol alias mabuk.

Patroli gabungan yang melibatkan anggota Polrestabes dan Brimob, serta perwakilan pesilat, dilakukan untuk menyekat batas Kota Surabaya. Operasi patroli dan penyekatan tersebut dimulai sejak pukul 00.00 WIB dengan semangat dan tekad yang kuat. Sejumlah konvoi pengendara motor yang berasal dari Sidoarjo dihentikan petugas untuk didata.

Terdapat banyak pengendara yang ikut dalam konvoi tersebut, dan beberapa dari mereka berusaha untuk memutar balik dan melawan arus guna menghindari petugas yang berjaga.

Baca Juga : PSHTPM Trenggalek Setuju Pembongkaran Tugu Silat di Fasilitas Umum

Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pasma Royce, menjelaskan bahwa pengamanan dan penyekatan di batas Kota ini melibatkan total 756 personel gabungan. Tujuan utama dari operasi ini adalah untuk mengantisipasi adanya konvoi dan arak-arakan dari Gresik dan Sidoarjo, khususnya dalam rangka kegiatan penerimaan warga baru di perguruan silat.

Pasma menambahkan bahwa operasi penyekatan ini juga melibatkan anggota Brimob, Satsamapta Polda Jatim, dan keamanan dari perguruan silat. Semua pihak bekerja sama dalam upaya melakukan pengamanan di Kota Surabaya.

Kombes Pasma Royce menyampaikan, “Khusus hari ini di Cito, kita mengamankan beberapa pemuda yang akan mengikuti kegiatan meramaikan kegiatan silat di Sidoarjo. Kami melakukan penindakan dan pembinaan. Kendaraan yang tidak dilengkapi dengan dokumen resmi akan kami kenai sanksi tilang.”

Di lapangan, petugas kepolisian menemukan sejumlah pesilat yang diduga berada dalam pengaruh alkohol. Mereka langsung diamankan dan akan mendapatkan pembinaan secara khusus.

“Dan kami menduga mereka juga mengonsumsi minuman keras. Oleh karena itu, kami melakukan tes alkohol menggunakan alat tes dan akan memberikan pembinaan secara khusus,” ungkap Pasma.

Keselamatan dan ketertiban kota merupakan tanggung jawab bersama. Operasi patroli gabungan ini berhasil menunjukkan bahwa kepolisian dan seluruh pihak terkait sangat serius dalam menjaga wibawa dan ketentraman di Kota Surabaya. Semoga kegiatan ini dapat memberikan efek jera bagi mereka yang berniat menciptakan onar dan mengganggu ketertiban masyarakat.

.

PSHTPM Trenggalek Setuju Pembongkaran Tugu Silat di Fasilitas Umum

Ilmusetiahati.com – Penertiban tugu silat di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, menuai respons positif dari Ketua Cabang Persaudaraan Setia Hati Terate Pusat Madiun (PSHTPM) Trenggalek, Wijiono. Dalam surat dari Bakesbangpol Jawa Timur per 26 Juni 2023, imbauan penertiban tugu tersebut telah disampaikan. Artikel ini akan membahas respons PSHTPM terhadap penertiban tugu di fasilitas umum dan upaya koordinasi dengan pihak terkait.

Menurut Ketua Cabang PSHTPM Trenggalek, Wijiono, saat ini belum ada rapat resmi yang membahas penertiban tugu pencak silat di Trenggalek. Kendati demikian, ia menyadari adanya tugu yang dibangun oleh individu maupun masyarakat di Kabupaten Trenggalek. PSHTPM berpendapat bahwa penertiban tugu perlu didasarkan pada informasi resmi dari organisasi perangkat daerah (OPD) dan instansi terkait.

Baca Juga : PSHTPM Trenggalek Setuju Pembongkaran Tugu Silat di Fasilitas Umum

PSHTPM telah melakukan pembicaraan informal mengenai penertiban tugu dengan pihak terkait, termasuk Kapolres Trenggalek, AKBP Alith Alarino. Dalam koordinasi tersebut, PSHTPM menyepakati pandangan Kapolres bahwa tugu yang berada di fasilitas umum tanpa izin dan di tanah negara harus dipindahkan sesuai aturan yang berlaku.

Saat ini, PSHTPM Trenggalek belum memiliki data pasti mengenai jumlah tugu pencak silat PSHTPM yang ada di wilayah tersebut. Pembangunan tugu tersebut dilakukan secara pribadi dan swadaya oleh warga PSHTPM. Oleh karena itu, koordinasi dengan seluruh perguruan silat menjadi penting sebelum penertiban dilakukan secara mandiri oleh masing-masing perguruan.

Polres Trenggalek telah memastikan bahwa imbauan Bakesbangpol Jatim untuk menertibkan tugu pencak silat akan dilaksanakan. Meskipun demikian, komunikasi dan koordinasi dengan perguruan silat sangat diperlukan dalam proses penertiban ini.

Pada awalnya, rencana penertiban menyasar tugu-tugu yang berdiri di fasilitas umum dan tidak memiliki legalitas serta izin mendirikan. Tugu-tugu tersebut, jika terletak di tanah fasilitas umum, akan direncanakan untuk dibongkar.

Penertiban tugu pencak silat di Trenggalek diharapkan dapat selesai pada pertengahan bulan Agustus 2023, sesuai dengan surat dari Bakesbangpol Jatim. Namun, Kapolres Trenggalek, AKBP Alith Alarino, menyatakan bahwa setiap wilayah memiliki kondisi yang berbeda dan perlu penyesuaian untuk mencapai hasil yang baik. Oleh karena itu, tanggal penyelesaian bisa bersifat fleksibel.

Baca Juga : Ki Hajar Harjo Utomo Pendiri PSHT

Penertiban tugu pencak silat di fasilitas umum mendapat dukungan dari PSHTPM Trenggalek. Meskipun belum ada rapat resmi, PSHTPM telah melakukan komunikasi dengan pihak terkait, termasuk Kapolres Trenggalek. Koordinasi dengan seluruh perguruan silat menjadi prioritas untuk pelaksanaan penertiban ini. PSHTPM Trenggalek juga belum memiliki data lengkap mengenai jumlah tugu pencak silat yang ada di wilayahnya. Penertiban tugu ditargetkan selesai pada pertengahan Agustus 2023, namun harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah. Semua langkah ini diambil untuk mencapai kebaikan bersama dan menghormati aturan yang berlaku.

.

Ngaku Paling Sah, Oknum Pamter Penyerang PSHT UINSA Dipenjara Satu Tahun

Ngaku Paling Sah, Oknum Pamter Penyerang PSHT UINSA Dipenjara Satu Tahun

Ilmusetiahati.com – Ngaku paling Sah, Oknum Pamter dipenjara, mereka Ahmad Sa’id dan Suwanto telah divonis satu tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Surabaya karena melakukan penganiayaan terhadap tiga orang anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), yaitu Indung Kisworo, Muhammad Bukhori, dan Rozag Syafrisal. Ketiganya mengalami luka luka akibat pemukulan yang dilakukan oleh kedua terdakwa.

Peristiwa penganiayaan ini terjadi di halaman Aula Universitas Islam Negeri Surabaya (UINSA), Jalan Ahmad Yani. Pada saat itu, kedua terdakwa bersama-sama dengan Rudy Suryo Susanto, Bambang Supriyo, Sugeng, serta Muji dan 30-an gerombolan komunitas Pamter lainnya bermaksud untuk membubarkan acara dikarenakan doktrin bahwa Organisasi para pelaku ini merasa paling sah, legal dan sakti.

Baca Juga : Soeratno Sorengpati Pencetus Nama SH Terate

Rudy dan Bambang kemudian menemui Muhammad Bukhori di depan Aula UINSA dan meminta agar acara tersebut segera dibubarkan. Bukhori dan Indung yang merupakan warga PSHT pun mempersilakan mereka untuk masuk dan menghadiri acara tersebut. Namun, ketika Bukhori mencoba masuk ke dalam Aula UINSA untuk menyelamatkan Ketua UKM UINSA Roudlotus Tsaniyah, dia dihalang-halangi oleh para terdakwa.

Bambang Supriyo dengan tangan kanannya memiting leher Bukhori ke arah belakang dan Rudy Suryo Susanto memukuli pipi Muhammad Bukhori bagian kanan sebanyak dua kali. Akibat dari tindakan tersebut, ketiganya mengalami luka berat dan kedua terdakwa pun divonis satu tahun penjara.

Meskipun demikian, penasihat hukum dari kedua terdakwa, yaitu Moch Kholis, memohon keringanan hukuman karena korban telah memberikan maaf kepada para terdakwa dan mereka merupakan satu organisasi. Namun, keputusan akhir tetap di tangan pengadilan.

Baca Juga : Sejarah dan Kronologi Demo Padepokan PSHT

Kasus penganiayaan ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga sikap dan perilaku yang baik dalam berorganisasi serta menghormati hak-hak orang lain. Tindakan kekerasan tidak dapat dibenarkan dan harus dihindari dalam segala situasi. Oleh karena itu, perlu adanya pengawasan dan tindakan tegas terhadap siapapun yang melakukan tindakan kekerasan, terutama dalam konteks organisasi.

Dilaporkan Pagar Nusa, PSHT PM Mojokerto: Monggo diproses

Dilaporkan Pagara Nusa, PSHT PM Mojokerto: Monggo diproses

Ilmusetiahati.com – Sikap Bijak Pengurus PSHT PM dan Pagar Nusa dalam Menghadapi Kasus Penyerangan di Mojokerto. Pengurus perguruan silat PSHT PM dan Pagar Nusa menunjukkan sikap bijak dalam menghadapi kasus penyerangan permukiman di Kota Mojokerto. Pagar Nusa melaporkan kasus tersebut ke polisi, sedangkan PSHT PM menghormati proses hukum yang sedang berjalan.

Baca Juga : Pagar Nusa Resmi Laporkan Oknum PSHT PM Yang Onar di Mojokerto​

PSHT PM Mojokerto, yang dipimpin oleh Hari Sucipto, menegaskan bahwa penyerangan di Sinoman gang 5 bukanlah kesalahan organisasi. Hari meminta agar para pihak terkait dan masyarakat memahami bahwa penyerangan tersebut dilakukan oleh oknum pesilat PSHT PM, bukan atas instruksi organisasi.

PSHT PM Mojokerto menyerahkan sepenuhnya pengusutan insiden penyerangan di Sinoman gang 5 kepada Polres Mojokerto Kota. Mereka juga mempersilakan pelakunya dihukum sesuai aturan yang berlaku.

Namun, PSHT PM Mojokerto belum bisa membantu polisi untuk mengidentifikasi oknum PSHT PM yang melakukan penyerangan ke Sinoman gang 5. Hal ini dikarenakan saat penyerangan terjadi, massa yang berkonvoi melalui Jalan Raden Wijaya sangatlah banyak.

Sebagai pimpinan PSHT PM di wilayah kota maupun Kabupaten Mojokerto, Hari Sucipto menegaskan agar polisi memproses kasus penyerangan di Sinoman sesuai hukum yang berlaku.

Di sisi lain, pengurus Pagar Nusa bersama LBH Ansor telah melaporkan perusakan rumah warga dan fasilitas umum yang terjadi ketika oknum PSHT PM menyerang permukiman penduduk beberapa waktu lalu.

Baca Juga : Sejarah dan Kronologi Demo Padepokan PSHT

Kesimpulannya, kedua perguruan silat tersebut menunjukkan sikap yang baik dalam menghadapi kasus penyerangan di Mojokerto. Mereka menghormati proses hukum dan meminta agar pelaku dihukum sesuai aturan yang berlaku. Semoga kasus ini segera terungkap dan dapat menimbulkan efek jera bagi oknum pesilat yang melakukan tindakan anarkis.

Sejarah dan Kronologi Demo Padepokan PSHT

Ilmusetiahati.com – Sejarah Faktual dan Kronologi Demo Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Saat ini banyak Warga PSHT yang minim informasi dan wawasan sehingga mudah untuk di doktrin tanpa mengentahui sejarah dan informasi yang faktual.

Konflik internal di PSHT memiki sejarah yang panjang, diawali dengan terbitnya ADART PSHT tahun 2008 sebagi pengganti ADART 2000 yang dianggap ilegal karena :

1. Adart tersebut lahir tanpa melalui Mubes / Parluh
2. Perubahan kekuasaan tertinggi dari Mubes/ Parluh menjadi milik Dewan Pusat
3. Lahirnya Struktur Harkat Martabat yang dianggap menimbulkan konflik antar warga PSHT.

kala itu pihak yang berseberangan antara lain jajaran Dewan Pusat :

1. Mas Tarmadji
2. Mas RB Wiyono
3. Mas Sakti Tamat dan jajaran dewan Pusat lainya.

Sedangkan kelompok yang berseberangan ialah Mas Imam Kuskartono yang kala itu sebagai Dewan Pakar Pusat bersama beberapa senior PSHT lainya.

Baca Juga : Pagar Nusa Resmi Laporkan Oknum PSHT PM Yang Onar di Mojokerto

Pada 2014 Kondisi makin diperparah setelah Pengurus Pusat malah mengeluarkan SK:86 tahun 2014 tentang Re Organisasi PSHT yang juga keluar tanpa melalui Mubes / Parluh dan membuat internal PSHT semakin bergejolak.

Kala itu pihak yang berseberangan antara lain :

Jajaran Pengurus Pusat
1. Mas Richard selaku Ketua Unum Pusat
2. Mas Arief Suryono selaku ketua II atau harian dikarenakan Mas Richard tidak berdomisili di Madiun
3. Mas Muhammad Taufiq yang saat itu juga sebagi Ketua Pengurus Pusat, serta pengurus pusat lainya.

Serta jajaran Dewan Pusat seperti

1. Mas Tarmadji
2. Mas RB Wiyono
3.Mas Isoebiantoro dan jajaran Dewan Pusat lainya.

Nama nama seperti Mas Sakti Tamat dan Mas Singgih mulai menghilang karena dianggap sebagai aktor lahirnya adart 2008, sedangkan nama Mas Murjoko juka dihilangkan dari Pengurus Pusat karena terbukti terlibat Politik Praktis dengan identitas PSHT pada Pemilu DPD Jatim 2014.

Dikarenakan dibekukanya beberapa Cabang PSHT di Jawa Tengah serta Skorsing ke beberapa Warga Senior PSHT tanpa adanya klarifikasi terlebih dahulu.
Bebrapa pihak yang berseberangan membentuk kelompok yang bernama GPO yang terdiri dari Elemen Masa PSHT ( Korlap T, Garda Terate, SATGAS PSHT dll ) diantaranya :

1. Mas Imam Kuskartono
2. Mas Nurhadi Abbas
3. Mas Zakaria
4. Mas Arifin dan warga sesepuh PSHT lainya.

Dikarenakan masalah yang terus berlarut maka digelarlah Demonstrasi pada 25 Mei 2014 bertempat di Padepokan Agung PSHT Madiun.

Tuntutan dari Demonstrasi tersebut ialah
1. Segera diselenggarkanya Mubes.
2. Audit Yayasan SH Terate.
3. Pemulihan kembali Cabang dan Warga PSHT yang ditutup oleh Mas Richard selaku Ketua Umum Pusat.
4. Pemisahan wewenang Dewan dan Pengurus Pusat.

Mas Tarmadji selaku Dewan Pusat pun membentuk Tim untuk meredam gejolak kala itu dengan memepercayakan Mas Taufiq dan Mas Arief Surjono selaku PLT Ketua Umum PSHT untuk mempersiapkan Mubes dan penyempurnaan ADART.

Namun disayangkan Mas Tarmadji lebih dulu berpulang.

Parluh pun baru terlaksana pada tahun 2016 dengan sesuai amanah Mas Tarmadji untuk memulihkan dan mengundang kembali seluruh Warga PSHT yang sebelumnya dibekukan seperti Mas Murjoko, Mas Singgih dan saudara lainya.

Peta konflik internal PSHT pada parluh 2016 pun berubah :

Pengurus Pusat yang terpilih kala itu :
1. Mas Muhammad Taufiq
2. Mas Murjoko yang Skorsing nya telah dipulihkan beserta Pengurus Pusat lainya

Kemudian dari jajaran Majelis Luhur ada :
1. Mas RB Wiyono
2. Mas Willis
3. Mas Issoebiantoro dan Majelis Luhur lainya.

Mereka semua masih dalam satu barisan.

Sedangkan dari pihak GPO mulai terjadi perbedaan sikap :

1. Mas Imam Kuskartono yang tetap tidak ingin masuk pada Parluh 2016
2. Mas Nurhadi Abbas dan beberapa warga senior PSHT Jawa Tengah lainya yang memberikan kesepakatan dan menerima hasil Parluh 2016.
3. Mas Zakaria dalam hal ini Korlap T ataupun Garda Terate masih abu abu terkait lahirnya Parluh 2016.

Tidak sampai 1 tahun riak Organisasi kembali muncul dengan lahirnya kelompok yang ingin melipat hasil Parluh 2016.

Baca Juga : Seluruh Ketua Umum PSHT

Pihak yang berseberangan kala itu adalah :

1. Mas Muhammad Taufiq selaku Ketua Umum
2. Mas RB Wiyono selaku ketua Majelis luhur

Berhadapan dengan pihak yang tidak puas dengan hasil Parluh 2016 seperti:

1. Mas Aliadi
2. Mas Wahyu Subagdiyono
3. Mas Sigit Hari Basuki dan sedulur lainya.

Serta di backing oleh saudara Senior PSHT Madiun lainya seperti :
1. Mas Issoebiantoro
2. Mas Murjoko.

Menuntut untuk penganuliran hasil PARLUH 2016 dan agar Parluh dipercepat karena dianggap tidak sah (meskipun kelak pada tahun 2020 telah keluar putusan 1712 yang menyatakan seluruh Produk dari hasil Parluh 2016 adalah sah dan diakui negara).

Konflik memuncak bertepan pada Bulan Suro 21 September 2017 atau G21S/Madiun bertempat di Padepokan Agung PSHT Madiun yang seharusnya dijadikan malam tirakatan malah dijadikan malam kudeta yang diwarnai intimidasi di Padepokan Agung terhadap Ketua Umum Mas Muhammad Taufiq dan beberapa Pengurus Pusat lainya.

Sejak saat itulah peta konflik PSHT mulai berubah kembali.

Kpengurusan dibawah hasil Parluh 2016 tetap berjalan dengan basis mayoritas Anggota berada di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jabodetak, Kalimantan dan Papua.

Sedangkan hasil Parluh 2017 juga mulai berjalan sendiri dengan basis masa di Jawa Timur, Sumatera, Lampung, Sulawesi dan Maluku.

Sedangkan GPO pun keseluruhannya sudah terpecah dan berbeda sikap :

1. Mas Imam Kuskartono yang sedari awal tidak mengakui hasil Parluh 2016 atau 2017 dan tetap berdiri sendiri.
2. Mas Nurhadi Abbas memilih menggabungkan diri pada hasil parluh 2016.
3. Mas Zakaria dan Korlap T juga ikut menggabungkan diri pada PSHT hasil Parluh 2016
4. Garda Terate dibawah Komando Mas Puguh Wicaksono juga berubah haluan ke barisan hasil parluh 2017.

Peta kekuatan PSHT tersebut masih tetap dan bertahan sampai sekarang.

Pagar Nusa Resmi Laporkan Oknum PSHT PM Yang Onar di Mojokerto​

Pagar Nusa Resmi Laporkan Oknum PSHT PM Yang Onar di Mojokerto

Ilmusetiahati.com – Pengurus Perguruan Silat Pagar Nusa Laporkan PSHT PM ke Polres Mojokerto Kota Terkait Penyerangan Permukiman Penduduk

Pada Kamis (9/3) malam sekitar pukul 22.00 WIB, terjadi penyerangan oleh massa Persaudaraan Setia Hati Terate Pusat Madiun (PSHT PM) terhadap permukiman penduduk yang berujung laporan pengaduan oleh Pengurus Perguruan Silat Pagar Nusa (PN) bersama LBH Ansor ke Polres Mojokerto Kota. Pengaduan ini menindaklanjuti aksi oknum PSHT PM yang menyerang permukiman penduduk beberapa waktu lalu.

Baca Juga : Memaknai Tes Ayam Jago Pengesahan PSHT

Kejadian ini bermula ketika ribuan massa PSHTPM yang berunjuk rasa di depan Mapolres Mojokerto Kota membubarkan diri. Mereka kemudian konvoi naik motor ke rumah masing-masing. Namun, ketegangan terjadi di tengah perjalanan, tepatnya di Sinoman Gang 5, Kelurahan Miji, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. Sebagian massa yang melintas tiba-tiba menyerang warga, termasuk 5 pesilat dari perguruan lain yang menjadi sasaran di antara warga Sinoman Gang 5. Hal ini kemudian diketahui bahwa pesilat yang diserang merupakan anggota PN.

Warga PSHTPM melempari mereka dengan batu hingga seorang pesilat perguruan lain terluka, demikian halnya 4 warga setempat, di antaranya terdapat seorang perempuan. Pelatih perguruan silat lain, RD (17), menyatakan saat itu dia dan 4 siswanya keluar ke depan Sinoman Gang 5 bermaksud memberi salam persaudaraan ke rombongan PSHT PM. Namun, hal ini ditanggapi keliru dan massa PSHT mendadak tersulut dan meledak menjadi penyerangan membabi buta.

Pihak PSHT PM Mojokerto menyatakan bahwa peristiwa penyerangan itu dipicu oleh pesilat PN yang nekat unjuk diri saat konvoi rombongan PSHT PM. Ketua Cabang PSHT PM Mojokerto, Hari Sucipto, mengatakan bahwa Pamter telah mengimbau agar 5 pesilat PN tersebut tidak keluar, tetapi mereka justru nekat unjuk diri di depan Sinoman Gang 5.

Baca Juga : 6 Fakta Kasus PSHT PM di Mojokerto,Pesilat Serang dan Lukai Warga

Kedatangan pengurus PN dan LBH Ansor ke Polres Mojokerto Kota pada Selasa (24/3) sore disambut Kapolres Mojokerto Kota, AKBP Wiwit Adisatria. Selain silaturahmi, kedatangan mereka juga untuk menambahkan laporan terkait insiden penyerangan di Sinoman Gang 5, Kelurahan Miji, Prajurit Kulon pada Kamis (9/3) malam. Laporan tersebut berisi perusakan sejumlah rumah warga, musala, lampu penerangan jalan, serta CCTV di Sinoman Gang 5 ketika penyerangan tersebut terjadi. Laporan ini disampaikan langsung kepada AKBP Wiwit.

Pak Kapolres telah merespons baik terhadap laporan perusakan yang dilaporkan oleh Budi dan Tim LBH Ansor Mojokerto Raya. Beliau berkomitmen untuk mengusut tuntas perkara ini secara profesional dan netral. Hal tersebut diungkapkan oleh Budi pada Rabu (15/3/2023).

Budi menjelaskan bahwa laporan perusakan yang ia sampaikan bersama Tim LBH Ansor Mojokerto Raya adalah untuk melengkapi laporan dari warga di Polsek Prajurit Kulon pada Sabtu (11/3) lalu. Kejadian tersebut menimpa Andi Setiawan (43) dan empat korban luka lainnya karena menjadi target penyerangan oleh oknum PSHT PM.

Dalam perkembangan kasus ini, laporan yang diajukan oleh Budi dan Tim LBH Ansor Mojokerto Raya ditarik dari Polsek Prajurit Kulon dan dijadikan satu laporan polisi di Polres Mojokerto Kota. Hal ini dilakukan karena TKP-nya sama dengan laporan yang disampaikan oleh warga sebelumnya.

6 Fakta Kasus PSHT PM di Mojokerto,Pesilat Serang dan Lukai Warga

6 Fakta Kasus PSHT PM di Mojokerto, Pesilat Serang dan Lukai Warga

Ilmusetiahati.com – Berikut adalah deretan Fakta terkait kasus PSHT PM serang dan lukai warga di Mojokerto, Ribuan Pesilat Persaudaraan Setia Hati Terate Pusat Madiun (PSHT PM) melakukan aksi demonstrasi di Mapolres Mojokerto Kota untuk menuntut penyelesaian kasus penganiayaan terhadap anggota mereka.

Konvoi pesilat yang mengendarai sepeda motor tiba di Polres Mojokerto Kota di Jalan Bhayangkara sekitar pukul 20.50 WIB, sambil memakai berbagai atribut dan membawa bendera perguruan. Raungan mesin motor membuat suasana menjadi ramai dan gaduh.

Berikut adalah fakta-fakta terkait aksi unjuk rasa pesilat PSHT PM:

  1. Penutupan Jalan oleh Polisi Karena Banyaknya Massa

Karena jumlah massa yang sangat banyak, polisi menutup seluruh Jalan Bhayangkara. Selain itu, mereka juga mengawal massa serta menjaga sepanjang jalan yang dilalui konvoi ribuan pesilat tersebut. Warga PSHT PM memenuhi Jalan Bhayangkara dari Simpang 4 Miji hingga Simpang 3 Sanrio.

Baca Juga : Ketua PSHT PM Mojokerto Angkat Bicara Setelah Kasus Penyerangan

Polisi sangat ketat dalam menjaga demonstrasi ini. Terlihat polwan dan pasukan Brimob berada di lokasi. Kedatangan massa disambut Kabag Ops Polres Mojokerto Kota Kompol Maryoko, Kasat Reskrim AKP Bambang Tri, serta Kasat Samapta AKP Anang Leo.

  1. Perwakilan Diberi Kesempatan untuk Menyampaikan Aspirasi

Polisi memberi kesempatan kepada perwakilan pesilat untuk menyampaikan aspirasi mereka. Salah satu warga PSHT PM dari Rayon Jetis, Yanto, menyampaikan tuntutan massa kepada polisi. Menggunakan pengeras suara, ia menuntut agar Polres Mojokerto Kota segera menuntaskan empat kasus penganiayaan terhadap anggota PSHT PM di wilayah Dawarblandong, Gedeg, Kemlagi, dan Jetis.

“Kami datang ke sini untuk menanyakan apakah kasus Dawarblandong, Gedeg, Kemlagi, dan Jetis telah terselesaikan. Bagaimana kabarnya, empat kasus tersebut belum terselesaikan. Kami ingin tahu kepastiannya,” ujar Yanto di hadapan polisi pada Kamis, 9 Maret 2023.

  1. Janji Polisi untuk Mengusut Tuntas Kasus Penganiayaan Anggota PSHT

Kasat Reskrim Polres Mojokerto Kota AKP Bambang Tri langsung merespons pertanyaan massa PSHT PM. Menurutnya, saat ini pihaknya tengah menangani penganiayaan terhadap warga PSHT PM di wilayah Dawarblandong dan Gedeg. Sudah ada enam saksi yang dimintai keterangan. Namun, identifikasi pelaku terkendala oleh minimnya jumlah saksi.

Baca Juga : Tingkatan di SH Panti Persaudaraan Setia Hati 1903

“Kendala kami adalah tidak adanya saksi yang melihat jelas siapa pelakunya dan ciri-ciri pelakunya. Kami masih dalam proses penyelidikan. Jika rekan-rekan mengetahui hal-hal yang berkaitan, silakan informasikan kepada kami. Kami akan terbuka dan tidak akan memihak,” ujarnya.

Kapolres Mojokerto Kota AKBP Wiwit Adisatria menegaskan bahwa penyelidikan kasus penganiayaan terhadap warga PSHT akan terus berlanjut. Pihaknya masih berusaha untuk mengumpulkan bukti yang cukup untuk menjerat pelaku, namun tetap memperhatikan asas praduga tak bersalah.

“Kesulitan memang akan ada, namun percayalah bahwa tidak ada kejahatan yang tidak meninggalkan bukti. Kami akan terus mengejar pelakunya, siapapun itu,” tegas Wiwit.

  1. Dialog Antara Polisi dan PSHT Berlangsung Lama

Dialog antara perwakilan PSHT dengan polisi berlangsung cukup lama, yakni hingga sekitar pukul 22.00 WIB. Massa juga meminta kepastian waktu dari polisi untuk menyelesaikan empat kasus penganiayaan yang terjadi.

“Kami akan menyelesaikan secepat mungkin. Kami meminta bantuan dari rekan-rekan. Apabila memiliki bukti, silakan kirimkan ke nomor Kasat Reskrim atau KBO Reskrim,” terang Kasat Samapta Polres Mojokerto Kota, AKP Anang Leo.

  1. Setelah Memperoleh Kepuasan dari Aksi Unjuk Rasa, Massa PSHT Bubar

Setelah menyampaikan aspirasi kepada Polres Mojokerto Kota, ribuan massa PSHT membubarkan diri. Massa dibagi menjadi dua kelompok, yaitu menuju arah timur menuju Jalan PB Sudirman dan Jalan Gajah Mada, serta ke arah barat menuju Jalan Brawijaya. Jalan Bhayangkara baru sepenuhnya bersih dari massa pesilat sekitar pukul 22.30 WIB.

  1. PSHT PM dengan PSHT adalah Organisasi yang berbeda

PSHT PM atau Persaudaraan Setia Hati Terate Pusat Madiun merupakan perguruan pencak silat yang dirintis pada 2017, Perguruan ini memilih lepas dari struktur PSHT yang sebelumnya telah mengadakan PARLUH pada tahun 2016 dan memilih membuat PARLUH tandingan pada tahun 2017 karena perbedaan prinsip diantara para sesepuh yang ada pada saat itu.

Ketua PSHT PM Mojokerto Angkat Bicara Setelah Kasus Penyerangan

Ketua PSHT PM Mojokerto Angkat Bicara Setelah Kasus Penyerangan

Ilmusetiahati.com – Setelah penyerangan Ketua PSHT PM Mojokerto angkat bicara, Persaudaraan Setia Hati Terate Pusat Madiun (PSHT PM) kembali menjadi sorotan setelah menyerang permukiman di Kota Mojokerto dan melukai 5 orang. Penyerangan ini disebabkan oleh ulah sejumlah pesilat dari perguruan lain yang nekat unjuk diri ketika konvoi melintas.

Ketua Cabang PSHT PM Mojokerto, Hari Sucipto, mengatakan bahwa Komunitas Pengamanan Terate (Pamter) sudah mengimbau agar 5 anggota perguruan silat Pagar Nusa di sekitar lokasi kejadian tidak keluar di depan Sinoman gang 5, Kelurahan Miji, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

Baca Juga : Kronologi Bentrok PSHT PM Mojokerto dengan Warga Kampung

Ketika itu, para Pamter mengawal massa PSHT PM yang kembali dari unjuk rasa di Mapolres Mojokerto Kota. Rombongan konvoi melintas di Jalan Brawijaya. Sedangkan 5 pesilat dari perguruan silat Pagar Nusa tersebut sedang berlatih di halaman rumah warga Sinoman gang 5.

Menurut Hari, para Pamter sudah menyuruh pesilat lain untuk masuk ke dalam, namun mereka justru keluar dan memakai atribut perguruan. Hal ini sangat riskan karena bisa menimbulkan konflik dengan perguruan lain.

Pelatih perguruan silat Pagar Nusa, RD (17), menyatakan bahwa saat itu dia dan 4 siswanya keluar untuk memberi salam persaudaraan kepada rombongan konvoi PSHTPM. Namun, salam tersebut justru memancing massa PSHTPM melakukan penyerangan.

Namun, Hari menyampaikan bahwa pihaknya akan menyelesaikan masalah ini secara damai. Sebab selama ini, PSHT PM mempunyai hubungan baik dengan pimpinan perguruan silat lain. Tentu saja tanpa mengabaikan hak para korban maupun menyinggung aparat penegak hukum.

Baca Juga : Asal Usul Logo PSHT Persaudaraan Setia Hati Terate

Setelah ribuan massa PSHT PM melakukan unjuk rasa di depan Mapolres Mojokerto Kota, sebagian massa kembali ke tempat asal dengan berkonvoi melalui Jalan Brawijaya. Namun, karena melihat sekitar 5 pesilat dari perguruan lain, massa PSHTPM melakukan penyerangan dengan melempari mereka dengan batu. Akibatnya, seorang pesilat perguruan lain dan 4 warga setempat terluka, termasuk seorang perempuan.

Dalam kasus seperti ini, penting bagi semua pihak untuk menyelesaikannya dengan cara yang baik dan damai. Kita harus menghargai hak para korban, serta menghindari melanggar hukum maupun menyinggung aparat penegak hukum. Semoga kasus ini bisa segera diselesaikan dengan damai dan tidak terulang lagi di kemudian hari.

 
 

Kronologi Bentrok PSHT PM Mojokerto dengan Warga Kampung

Kronologi Bentrok PSHT PM Mojokerto dengan Warga Kampung

Ilmusetiahati.com – Kronologi bentrok massa PSHT PM dengan warga Mojokerto, Pada Kamis, 9 Maret 2023 malam ribuan anggota Perguruan Pencak Silat Persaudaran Setia Hati Terate Pusat Madiun (PSHT PM) dari berbagai daerah seperti Mojokerto, Lamongan, Jombang, dan Gresik menggeruduk dan mendemo Markas Komando Polres Mojokerto Kota. Dalam aksi ini, mereka mengendarai sepeda motor dan mengenakan baju serba hitam.

Rombongan massa PSHTPM tiba di Jalan Bhayangkara, Kota Mojokerto sekitar pukul 20.00 WIB dari arah timur atau dari arah jalan Gajah Mada. Mereka berhenti di depan Stasiun Mojokerto, dan sejumlah anggota PSHT PM berlari ke dalam stasiun seperti mengejar orang. Namun, belum diketahui penyebabnya. Tak lama kemudian, mereka keluar lagi dan melanjutkan perjalanan menuju Mako Polres Mojokerto.

Baca Juga : Usai Demo Ribuan Pendekar PSHT PM Serang Pemukiman di Mojokerto

Tak hanya dari arah timur, rombongan massa PSHTPM juga datang dari arah barat atau jalan Majapahit, sehingga akses Jalan Bhayangkara tertutup total. Aksi ini dikawal ketat oleh petugas kepolisian dan TNI, dengan sejumlah kendaraan taktis yang turut disiagakan di dalam halaman Mako Polres Mojokerto.

Setelah tiba di Mako Polres Mojokerto, massa aksi ditemui oleh Kasat Reskrim Polres Mojokerto Kota, AKP Bambang Tri Sutrisno dan Kasat Samapta Polres Mojokerto, AKP Anang Leo. Perwakilan PSHT PM Yanto menyampaikan bahwa kedatangan ribuan anggota PSHT ini bertujuan menanyakan perkembangan kasus penganiayaan yang menimpa anggota PSHT PM di 4 TKP. Yakni, Dawarblandong, Kemlagi, Gedeg, dan Jetis. Pasalnya, hingga saat ini, pelaku dugaan pengeroyokan belum tertangkap.

Baca Juga : Seluruh Ketua Umum SH Terate

Kasat Reskrim Polres Mojokerto Kota, AKP Bambang Tri Sutrisno menjelaskan bahwa penanganan kasus tersebut masih berlanjut. Sejauh ini, pihak kepolisian telah memeriksa sebanyak 6 orang sebagai saksi. Namun, dalam penanganannya, pihak kepolisian mengalami kendala karena tidak ada saksi mata yang melihat secara langsung aksi penganiayaan.

Dalam dialog antara kepolisian dan perwakilan PSHT PM, akhirnya kepolisian meminta massa untuk membubarkan diri dengan dikawal petugas kepolisian. Dalam aksinya, massa PSHTPM ingin mengetahui bagaimana perkembangan penanganan kasus penganiayaan yang menimpa anggota PSHTPM di 4 TKP tersebut. Apabila ada yang mengetahui atau memiliki bukti, diharapkan dapat segera melaporkannya kepada kepolisian.