Arsip Tag: bentrok psht

6 Fakta Tawuran Perguruan Silat di Taiwan, Korban Meninggal Ternyata Kembar

Ilmusetiahati.com – Tawuran mematikan antara dua perguruan silat warga Indonesia di Taiwan belum lama ini telah mencengkeram perhatian banyak orang. Selain merenggut satu nyawa, peristiwa ini juga mengakibatkan sejumlah orang lainnya menderita luka serius, bahkan ada yang berada dalam kondisi kritis.

Mari kita telusuri lebih dalam tentang fakta-fakta mengejutkan yang terkait dengan peristiwa tragis ini.

1. Tawuran Mematikan di Stasiun Kereta Changhua

Tawuran yang mengguncang Taiwan terjadi di Stasiun Kereta Changhua pada malam Sabtu, 2 September 2023. Insiden ini menyisakan satu korban tewas dan sejumlah luka parah, dengan salah satu korban dalam kondisi kritis.

2. Konflik antara Dua Perguruan Silat

Tawuran ini melibatkan dua perguruan silat yang terlibat dalam konflik serius yang berakhir dalam kekerasan.

3. Penangkapan 29 Orang dan Pencabutan Senjata Tajam

Kepolisian berhasil menangkap 29 orang yang terlibat dalam tawuran ini. Mereka juga berhasil menyita berbagai jenis senjata tajam, termasuk pisau, celurit, obeng, dan senjata lainnya yang digunakan selama insiden tersebut.

4. Percekcokan Mengenai Latihan Bela Diri

Hasil penyelidikan polisi mengungkap bahwa tawuran ini dipicu oleh percekcokan yang berawal dari perbedaan pendapat dalam latihan bela diri. Perdebatan berubah menjadi percekcokan yang memicu perkelahian.

5. Viral di Media Sosial dan Media Taiwan

Dari 29 orang yang ditangkap, 15 di antaranya dihadapkan pada dakwaan kejahatan berat. Insiden ini menjadi viral di media sosial dan menjadi perbincangan utama di media Taiwan. Banyak warganet yang memberikan komentar atas berita ini.

6. Korban Meninggal Ternyata Kembar

Seorang warga Trenggalek tewas dalam insiden ini, dan ada PMI lain yang mengalami luka parah. Yang membuat insiden ini lebih tragis, kedua korban ini adalah saudara kembar yang bekerja di Taiwan. Salah satu dari mereka berasal dari Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek.

Pihak Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Trenggalek masih berusaha memahami secara lebih mendalam tentang peristiwa tragis ini. Mereka terus berkomunikasi dengan BP2MI untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

Tawuran perguruan silat Indonesia di Taiwan menjadi pelajaran penting tentang pentingnya penyelesaian konflik secara damai. Insiden ini mengguncang Taiwan dan harus dijadikan contoh tentang bahaya tawuran. Semoga kedua korban yang bekerja keras ini dapat mendapatkan keadilan atas kematian dan luka mereka.

Bentrok Perguruan Silat di Taiwan Pecah, Seorang Pendekar PSHT Tewas

Ilmusetiahati.com – Bentrok Perguruan Silat di Taiwan memilukan hati para pencinta seni bela diri Indonesia. Peristiwa tragis ini mengguncang dunia persilatan dan menciptakan sensasi di media sosial Taiwan. Dalam berita yang ditampilkan oleh TVBS News pada tanggal 4 September lalu, kita dapat melihat bahwa konflik ini dimulai ketika dua kelompok perguruan silat Indonesia PSHT dan IKSPI, yang saling melemparkan tantangan melalui media sosial.

Kedua kelompok ini akhirnya setuju untuk bertemu di stasiun kereta api, namun jumlah anggota dari masing-masing kelompok sangat tidak seimbang. IKSPI, salah satu kelompok perguruan silat, datang dengan anggota sebanyak 23 orang, lengkap dengan berbagai senjata. Hal ini jelas melanggar kesepakatan awal yang menyatakan bahwa pertarungan akan berlangsung dalam format duel satu lawan satu, dengan hanya 6 orang dari setiap kelompok yang diizinkan bertanding.

Baca Juga : Ratusan Pendekar Protes Tak Terima Tugu PSHT Jember dibongkar

Menurut Ari Hartono, Sekretaris Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Trenggalek, membenarkan ada seorang warga Trenggalek yang meninggal dunia dalam insiden tragis ini. Bahkan, ada PMI lain yang mengalami luka parah. Kedua korban ini adalah saudara kembar yang bekerja di Taiwan. Salah satu dari mereka berasal dari Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek.

Hingga saat ini, pihak Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Trenggalek masih berusaha memahami secara lebih mendalam tentang peristiwa tragis ini. Mereka terus berkomunikasi dengan BP2MI untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

Baca Juga : Terbesar di 2023! PSHT Cabang Magetan Sahkan 7000 Warga Baru Selama 12 Hari

Umtingah, Kepala Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo, mengkonfirmasi bahwa korban yang meninggal dunia adalah salah satu warganya. Kembarannya juga menjadi korban dalam peristiwa ini, mengalami luka.

Menurut Kepala Desa, korban yang meninggal adalah kakak dari saudara kembar yang telah bekerja di Taiwan selama beberapa waktu. Saat ini, pihak desa masih menunggu informasi lebih lanjut dari pemerintah Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Trenggalek maupun pemerintah pusat.

Sebagai informasi tambahan, bentrok antara dua kelompok perguruan silat asal Indonesia ini terjadi di Stasiun Kereta Api Changhua, Kota Changhua, Taiwan. Puluhan orang dari PSHT dan IKSPI ini terlibat dalam pertarungan sengit, menggunakan pisau dan tongkat sebagai senjata.

Akibat insiden tersebut, seorang pekerja migran berusia 32 tahun meninggal dunia di tempat kejadian akibat luka tusuk di bagian punggung. Seorang korban lain mengalami luka serius dan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Baca Juga : Tingkatan Sabuk di Persaudaraan Setia Hati Terate

Tim reaksi cepat dari kepolisian setempat segera dikerahkan untuk menangani bentrokan ini. Polisi berhasil menangkap tersangka utama yang diduga melakukan pembunuhan, seorang individu berusia 24 tahun. Selain itu, 15 anggota IKSPI yang terlibat langsung dalam insiden ini diserahkan ke Kantor Kejaksaan Distrik Changhua untuk proses hukum lebih lanjut.

Dalam kejadian tragis ini, semoga pihak berwenang dapat mengungkap semua fakta yang terjadi dan memastikan keadilan terwujud. Kita semua berharap agar perdamaian dan persatuan dapat mendominasi dunia perguruan silat di masa depan.

Pendekar PSHT Jepara Dikeroyok, Polisi Minta Tahan Diri

Ilmusetiahati.comSebuah Insiden Pengeroyokan Terjadi di Jepara, Anggota PSHT Menjadi Korban

Pada Minggu (16/7/2023) sekitar pukul 02.00 WIB, seorang pesilat menjadi korban pengeroyokan di depan Indomaret di Desa Pecangaan Kulon, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara.

RF (18), anggota PSHT Kabupaten Jepara dari Desa Karangdandu, Kecamatan Pecangaan, baru saja pulang dari latihan di padepokan Desa Ngabul, Kecamatan Tahunan, saat dia diserang oleh sekelompok orang tak dikenal. Pengeroyokan itu terjadi secara tiba-tiba, menyebabkan RF mengalami luka-luka di bagian kepala akibat serangan senjata tajam dan batu paving.

Baca Juga : Operasi Aman Suro 2023, 1.500 Personel Siap Amankan Perayaan 1 Suro Madiun

Achmad Zainuri, Ketua Cabang PSHT Kabupaten Jepara, menanggapi insiden tragis ini dengan tenang. Dia meminta seluruh anggota PSHT untuk menahan diri dan tidak melakukan tindakan sendiri terhadap para pelaku pengeroyokan. Zainuri menekankan pentingnya menyerahkan kasus ini sepenuhnya kepada pihak kepolisian dan percaya bahwa Satreskrim Polres Jepara akan dapat menangani dan menangkap para pelaku dengan baik.

Tidak hanya kali ini saja anggota PSHT Jepara menjadi korban kekerasan. Sebelumnya, terdapat kasus serupa di mana anggota lain juga diserang ketika mengenakan seragam kebesaran PSHT. Zainuri berharap kasus saat ini segera diselesaikan oleh pihak berwenang untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.

Zainuri menegaskan bahwa seluruh anggota PSHT Jepara bergerak sebagai satu kesatuan dan tidak akan bertindak sendiri. Dia telah memberikan instruksi kepada seluruh anak asuhnya untuk mempercayakan penanganan kasus ini sepenuhnya kepada polisi. Dengan begitu, tidak akan ada keputusan sepihak yang bisa menimbulkan masalah lebih lanjut.

Baca Juga : Hak Cipta Pemeriksaan Ayam Jago PSHT

Kasus ini telah dilaporkan ke Polsek Pecangaan, dan saat ini sedang dalam tahap penyelidikan oleh Polres Jepara. Para saksi telah diperiksa untuk membantu proses investigasi.

Demikianlah peristiwa tragis yang menimpa anggota PSHT Kabupaten Jepara. Semoga kasus ini segera terungkap dan para pelaku dapat ditangkap serta diadili sesuai hukum yang berlaku. Mari kita dukung penegakan hukum demi keamanan dan ketertiban bersama. Selalu waspada dan tetap tenang dalam menghadapi situasi apapun.

Dilaporkan Pagar Nusa, PSHT PM Mojokerto: Monggo diproses

Dilaporkan Pagara Nusa, PSHT PM Mojokerto: Monggo diproses

Ilmusetiahati.com – Sikap Bijak Pengurus PSHT PM dan Pagar Nusa dalam Menghadapi Kasus Penyerangan di Mojokerto. Pengurus perguruan silat PSHT PM dan Pagar Nusa menunjukkan sikap bijak dalam menghadapi kasus penyerangan permukiman di Kota Mojokerto. Pagar Nusa melaporkan kasus tersebut ke polisi, sedangkan PSHT PM menghormati proses hukum yang sedang berjalan.

Baca Juga : Pagar Nusa Resmi Laporkan Oknum PSHT PM Yang Onar di Mojokerto​

PSHT PM Mojokerto, yang dipimpin oleh Hari Sucipto, menegaskan bahwa penyerangan di Sinoman gang 5 bukanlah kesalahan organisasi. Hari meminta agar para pihak terkait dan masyarakat memahami bahwa penyerangan tersebut dilakukan oleh oknum pesilat PSHT PM, bukan atas instruksi organisasi.

PSHT PM Mojokerto menyerahkan sepenuhnya pengusutan insiden penyerangan di Sinoman gang 5 kepada Polres Mojokerto Kota. Mereka juga mempersilakan pelakunya dihukum sesuai aturan yang berlaku.

Namun, PSHT PM Mojokerto belum bisa membantu polisi untuk mengidentifikasi oknum PSHT PM yang melakukan penyerangan ke Sinoman gang 5. Hal ini dikarenakan saat penyerangan terjadi, massa yang berkonvoi melalui Jalan Raden Wijaya sangatlah banyak.

Sebagai pimpinan PSHT PM di wilayah kota maupun Kabupaten Mojokerto, Hari Sucipto menegaskan agar polisi memproses kasus penyerangan di Sinoman sesuai hukum yang berlaku.

Di sisi lain, pengurus Pagar Nusa bersama LBH Ansor telah melaporkan perusakan rumah warga dan fasilitas umum yang terjadi ketika oknum PSHT PM menyerang permukiman penduduk beberapa waktu lalu.

Baca Juga : Sejarah dan Kronologi Demo Padepokan PSHT

Kesimpulannya, kedua perguruan silat tersebut menunjukkan sikap yang baik dalam menghadapi kasus penyerangan di Mojokerto. Mereka menghormati proses hukum dan meminta agar pelaku dihukum sesuai aturan yang berlaku. Semoga kasus ini segera terungkap dan dapat menimbulkan efek jera bagi oknum pesilat yang melakukan tindakan anarkis.

Sejarah dan Kronologi Demo Padepokan PSHT

Ilmusetiahati.com – Sejarah Faktual dan Kronologi Demo Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Saat ini banyak Warga PSHT yang minim informasi dan wawasan sehingga mudah untuk di doktrin tanpa mengentahui sejarah dan informasi yang faktual.

Konflik internal di PSHT memiki sejarah yang panjang, diawali dengan terbitnya ADART PSHT tahun 2008 sebagi pengganti ADART 2000 yang dianggap ilegal karena :

1. Adart tersebut lahir tanpa melalui Mubes / Parluh
2. Perubahan kekuasaan tertinggi dari Mubes/ Parluh menjadi milik Dewan Pusat
3. Lahirnya Struktur Harkat Martabat yang dianggap menimbulkan konflik antar warga PSHT.

kala itu pihak yang berseberangan antara lain jajaran Dewan Pusat :

1. Mas Tarmadji
2. Mas RB Wiyono
3. Mas Sakti Tamat dan jajaran dewan Pusat lainya.

Sedangkan kelompok yang berseberangan ialah Mas Imam Kuskartono yang kala itu sebagai Dewan Pakar Pusat bersama beberapa senior PSHT lainya.

Baca Juga : Pagar Nusa Resmi Laporkan Oknum PSHT PM Yang Onar di Mojokerto

Pada 2014 Kondisi makin diperparah setelah Pengurus Pusat malah mengeluarkan SK:86 tahun 2014 tentang Re Organisasi PSHT yang juga keluar tanpa melalui Mubes / Parluh dan membuat internal PSHT semakin bergejolak.

Kala itu pihak yang berseberangan antara lain :

Jajaran Pengurus Pusat
1. Mas Richard selaku Ketua Unum Pusat
2. Mas Arief Suryono selaku ketua II atau harian dikarenakan Mas Richard tidak berdomisili di Madiun
3. Mas Muhammad Taufiq yang saat itu juga sebagi Ketua Pengurus Pusat, serta pengurus pusat lainya.

Serta jajaran Dewan Pusat seperti

1. Mas Tarmadji
2. Mas RB Wiyono
3.Mas Isoebiantoro dan jajaran Dewan Pusat lainya.

Nama nama seperti Mas Sakti Tamat dan Mas Singgih mulai menghilang karena dianggap sebagai aktor lahirnya adart 2008, sedangkan nama Mas Murjoko juka dihilangkan dari Pengurus Pusat karena terbukti terlibat Politik Praktis dengan identitas PSHT pada Pemilu DPD Jatim 2014.

Dikarenakan dibekukanya beberapa Cabang PSHT di Jawa Tengah serta Skorsing ke beberapa Warga Senior PSHT tanpa adanya klarifikasi terlebih dahulu.
Bebrapa pihak yang berseberangan membentuk kelompok yang bernama GPO yang terdiri dari Elemen Masa PSHT ( Korlap T, Garda Terate, SATGAS PSHT dll ) diantaranya :

1. Mas Imam Kuskartono
2. Mas Nurhadi Abbas
3. Mas Zakaria
4. Mas Arifin dan warga sesepuh PSHT lainya.

Dikarenakan masalah yang terus berlarut maka digelarlah Demonstrasi pada 25 Mei 2014 bertempat di Padepokan Agung PSHT Madiun.

Tuntutan dari Demonstrasi tersebut ialah
1. Segera diselenggarkanya Mubes.
2. Audit Yayasan SH Terate.
3. Pemulihan kembali Cabang dan Warga PSHT yang ditutup oleh Mas Richard selaku Ketua Umum Pusat.
4. Pemisahan wewenang Dewan dan Pengurus Pusat.

Mas Tarmadji selaku Dewan Pusat pun membentuk Tim untuk meredam gejolak kala itu dengan memepercayakan Mas Taufiq dan Mas Arief Surjono selaku PLT Ketua Umum PSHT untuk mempersiapkan Mubes dan penyempurnaan ADART.

Namun disayangkan Mas Tarmadji lebih dulu berpulang.

Parluh pun baru terlaksana pada tahun 2016 dengan sesuai amanah Mas Tarmadji untuk memulihkan dan mengundang kembali seluruh Warga PSHT yang sebelumnya dibekukan seperti Mas Murjoko, Mas Singgih dan saudara lainya.

Peta konflik internal PSHT pada parluh 2016 pun berubah :

Pengurus Pusat yang terpilih kala itu :
1. Mas Muhammad Taufiq
2. Mas Murjoko yang Skorsing nya telah dipulihkan beserta Pengurus Pusat lainya

Kemudian dari jajaran Majelis Luhur ada :
1. Mas RB Wiyono
2. Mas Willis
3. Mas Issoebiantoro dan Majelis Luhur lainya.

Mereka semua masih dalam satu barisan.

Sedangkan dari pihak GPO mulai terjadi perbedaan sikap :

1. Mas Imam Kuskartono yang tetap tidak ingin masuk pada Parluh 2016
2. Mas Nurhadi Abbas dan beberapa warga senior PSHT Jawa Tengah lainya yang memberikan kesepakatan dan menerima hasil Parluh 2016.
3. Mas Zakaria dalam hal ini Korlap T ataupun Garda Terate masih abu abu terkait lahirnya Parluh 2016.

Tidak sampai 1 tahun riak Organisasi kembali muncul dengan lahirnya kelompok yang ingin melipat hasil Parluh 2016.

Baca Juga : Seluruh Ketua Umum PSHT

Pihak yang berseberangan kala itu adalah :

1. Mas Muhammad Taufiq selaku Ketua Umum
2. Mas RB Wiyono selaku ketua Majelis luhur

Berhadapan dengan pihak yang tidak puas dengan hasil Parluh 2016 seperti:

1. Mas Aliadi
2. Mas Wahyu Subagdiyono
3. Mas Sigit Hari Basuki dan sedulur lainya.

Serta di backing oleh saudara Senior PSHT Madiun lainya seperti :
1. Mas Issoebiantoro
2. Mas Murjoko.

Menuntut untuk penganuliran hasil PARLUH 2016 dan agar Parluh dipercepat karena dianggap tidak sah (meskipun kelak pada tahun 2020 telah keluar putusan 1712 yang menyatakan seluruh Produk dari hasil Parluh 2016 adalah sah dan diakui negara).

Konflik memuncak bertepan pada Bulan Suro 21 September 2017 atau G21S/Madiun bertempat di Padepokan Agung PSHT Madiun yang seharusnya dijadikan malam tirakatan malah dijadikan malam kudeta yang diwarnai intimidasi di Padepokan Agung terhadap Ketua Umum Mas Muhammad Taufiq dan beberapa Pengurus Pusat lainya.

Sejak saat itulah peta konflik PSHT mulai berubah kembali.

Kpengurusan dibawah hasil Parluh 2016 tetap berjalan dengan basis mayoritas Anggota berada di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jabodetak, Kalimantan dan Papua.

Sedangkan hasil Parluh 2017 juga mulai berjalan sendiri dengan basis masa di Jawa Timur, Sumatera, Lampung, Sulawesi dan Maluku.

Sedangkan GPO pun keseluruhannya sudah terpecah dan berbeda sikap :

1. Mas Imam Kuskartono yang sedari awal tidak mengakui hasil Parluh 2016 atau 2017 dan tetap berdiri sendiri.
2. Mas Nurhadi Abbas memilih menggabungkan diri pada hasil parluh 2016.
3. Mas Zakaria dan Korlap T juga ikut menggabungkan diri pada PSHT hasil Parluh 2016
4. Garda Terate dibawah Komando Mas Puguh Wicaksono juga berubah haluan ke barisan hasil parluh 2017.

Peta kekuatan PSHT tersebut masih tetap dan bertahan sampai sekarang.

Pagar Nusa Resmi Laporkan Oknum PSHT PM Yang Onar di Mojokerto​

Pagar Nusa Resmi Laporkan Oknum PSHT PM Yang Onar di Mojokerto

Ilmusetiahati.com – Pengurus Perguruan Silat Pagar Nusa Laporkan PSHT PM ke Polres Mojokerto Kota Terkait Penyerangan Permukiman Penduduk

Pada Kamis (9/3) malam sekitar pukul 22.00 WIB, terjadi penyerangan oleh massa Persaudaraan Setia Hati Terate Pusat Madiun (PSHT PM) terhadap permukiman penduduk yang berujung laporan pengaduan oleh Pengurus Perguruan Silat Pagar Nusa (PN) bersama LBH Ansor ke Polres Mojokerto Kota. Pengaduan ini menindaklanjuti aksi oknum PSHT PM yang menyerang permukiman penduduk beberapa waktu lalu.

Baca Juga : Memaknai Tes Ayam Jago Pengesahan PSHT

Kejadian ini bermula ketika ribuan massa PSHTPM yang berunjuk rasa di depan Mapolres Mojokerto Kota membubarkan diri. Mereka kemudian konvoi naik motor ke rumah masing-masing. Namun, ketegangan terjadi di tengah perjalanan, tepatnya di Sinoman Gang 5, Kelurahan Miji, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. Sebagian massa yang melintas tiba-tiba menyerang warga, termasuk 5 pesilat dari perguruan lain yang menjadi sasaran di antara warga Sinoman Gang 5. Hal ini kemudian diketahui bahwa pesilat yang diserang merupakan anggota PN.

Warga PSHTPM melempari mereka dengan batu hingga seorang pesilat perguruan lain terluka, demikian halnya 4 warga setempat, di antaranya terdapat seorang perempuan. Pelatih perguruan silat lain, RD (17), menyatakan saat itu dia dan 4 siswanya keluar ke depan Sinoman Gang 5 bermaksud memberi salam persaudaraan ke rombongan PSHT PM. Namun, hal ini ditanggapi keliru dan massa PSHT mendadak tersulut dan meledak menjadi penyerangan membabi buta.

Pihak PSHT PM Mojokerto menyatakan bahwa peristiwa penyerangan itu dipicu oleh pesilat PN yang nekat unjuk diri saat konvoi rombongan PSHT PM. Ketua Cabang PSHT PM Mojokerto, Hari Sucipto, mengatakan bahwa Pamter telah mengimbau agar 5 pesilat PN tersebut tidak keluar, tetapi mereka justru nekat unjuk diri di depan Sinoman Gang 5.

Baca Juga : 6 Fakta Kasus PSHT PM di Mojokerto,Pesilat Serang dan Lukai Warga

Kedatangan pengurus PN dan LBH Ansor ke Polres Mojokerto Kota pada Selasa (24/3) sore disambut Kapolres Mojokerto Kota, AKBP Wiwit Adisatria. Selain silaturahmi, kedatangan mereka juga untuk menambahkan laporan terkait insiden penyerangan di Sinoman Gang 5, Kelurahan Miji, Prajurit Kulon pada Kamis (9/3) malam. Laporan tersebut berisi perusakan sejumlah rumah warga, musala, lampu penerangan jalan, serta CCTV di Sinoman Gang 5 ketika penyerangan tersebut terjadi. Laporan ini disampaikan langsung kepada AKBP Wiwit.

Pak Kapolres telah merespons baik terhadap laporan perusakan yang dilaporkan oleh Budi dan Tim LBH Ansor Mojokerto Raya. Beliau berkomitmen untuk mengusut tuntas perkara ini secara profesional dan netral. Hal tersebut diungkapkan oleh Budi pada Rabu (15/3/2023).

Budi menjelaskan bahwa laporan perusakan yang ia sampaikan bersama Tim LBH Ansor Mojokerto Raya adalah untuk melengkapi laporan dari warga di Polsek Prajurit Kulon pada Sabtu (11/3) lalu. Kejadian tersebut menimpa Andi Setiawan (43) dan empat korban luka lainnya karena menjadi target penyerangan oleh oknum PSHT PM.

Dalam perkembangan kasus ini, laporan yang diajukan oleh Budi dan Tim LBH Ansor Mojokerto Raya ditarik dari Polsek Prajurit Kulon dan dijadikan satu laporan polisi di Polres Mojokerto Kota. Hal ini dilakukan karena TKP-nya sama dengan laporan yang disampaikan oleh warga sebelumnya.

Ngamuk! Massa Pesilat Gresik Buat Onar di Polsek dan Rumah Sakit

Ngamuk! Massa Pesilat Gresik Buat Onar di Polsek dan Rumah Sakit

Ilmusetiahati.com – Ratusan massa pesilat Gresik menyerbu Polsek Balongpanggang dan menimbulkan keonaran. Beberapa warga yang melintas di jalan juga menjadi korban serangan para pesilat tersebut.

 Informasi dari berbagai sumber yang dapat dipercaya, bahwa terjadi kerusuhan yang melibatkan beberapa pesilat Gresik di RS Walisongo, Jalan Balongpanggang-Mojokerto, Gresik. Namun, hingga saat ini belum ada informasi pasti mengenai penyebab kerusuhan tersebut.

Baca Juga : Kapolda Jatim: Wajib Contoh Pencak Silat Magetan, Potensi Konflik Terendah Pencetak Pendekar Terbanyak

PU, salah satu keluarga pasien di RS Walisongo, mengatakan bahwa informasinya adalah para pesilat akan menggelar aksi demo di Polsek Balongpanggang. Namun, yang terjadi justru kerusuhan di rumah sakit. PU juga tidak mengetahui pasti penyebab kerusuhan tersebut, karena ia hanya sedang menunggu saudaranya yang sedang sakit di dalam rumah sakit.

PU mengecam tindakan pesilat Gresik yang mengadakan kerusuhan di rumah sakit. Menurutnya, rumah sakit seharusnya menjadi tempat yang tenang untuk mempercepat penyembuhan pasien, bukan malah menjadi gaduh akibat ulah para pesilat.

Tidak hanya itu, kerusuhan juga terjadi di Jalan Pacuh yang berada dekat dengan Polsek Balongpanggang. Beberapa pengendara yang tidak mengetahui apa yang terjadi menjadi sasaran kemarahan para pesilat.

Beredar pula video korban pemukulan yang dilakukan oleh para pesilat. Dalam video tersebut, terlihat dua pria yang mengalami luka di kepala akibat pemukulan tersebut. Video tersebut juga menyebar di grup WhatsApp.

Baca Juga : Benarkah Ki Hadjar Hardjo Oetomo Tidak Punya Cucu ?

Kedua korban dipukul karena dianggap menghalangi konvoi pesilat Gresik yang hendak demo ke Polsek Balongpanggang.

SE, seorang warga Surabaya, adalah salah satu orang yang terjebak di tengah-tengah massa pesilat Gresik. Ia mengaku masih takut untuk pulang ke Surabaya karena situasi di Balongpanggang masih mencekam.

Kasat Reskrim Polres Gresik, Iptu Aldhino Prima Wildan, mengaku masih belum mendapat informasi mengenai kerusuhan yang terjadi di rumah sakit. Namun, situasi di depan Polsek Balongpanggang saat ini masih kondusif.

6 Fakta Kasus PSHT PM di Mojokerto,Pesilat Serang dan Lukai Warga

6 Fakta Kasus PSHT PM di Mojokerto, Pesilat Serang dan Lukai Warga

Ilmusetiahati.com – Berikut adalah deretan Fakta terkait kasus PSHT PM serang dan lukai warga di Mojokerto, Ribuan Pesilat Persaudaraan Setia Hati Terate Pusat Madiun (PSHT PM) melakukan aksi demonstrasi di Mapolres Mojokerto Kota untuk menuntut penyelesaian kasus penganiayaan terhadap anggota mereka.

Konvoi pesilat yang mengendarai sepeda motor tiba di Polres Mojokerto Kota di Jalan Bhayangkara sekitar pukul 20.50 WIB, sambil memakai berbagai atribut dan membawa bendera perguruan. Raungan mesin motor membuat suasana menjadi ramai dan gaduh.

Berikut adalah fakta-fakta terkait aksi unjuk rasa pesilat PSHT PM:

  1. Penutupan Jalan oleh Polisi Karena Banyaknya Massa

Karena jumlah massa yang sangat banyak, polisi menutup seluruh Jalan Bhayangkara. Selain itu, mereka juga mengawal massa serta menjaga sepanjang jalan yang dilalui konvoi ribuan pesilat tersebut. Warga PSHT PM memenuhi Jalan Bhayangkara dari Simpang 4 Miji hingga Simpang 3 Sanrio.

Baca Juga : Ketua PSHT PM Mojokerto Angkat Bicara Setelah Kasus Penyerangan

Polisi sangat ketat dalam menjaga demonstrasi ini. Terlihat polwan dan pasukan Brimob berada di lokasi. Kedatangan massa disambut Kabag Ops Polres Mojokerto Kota Kompol Maryoko, Kasat Reskrim AKP Bambang Tri, serta Kasat Samapta AKP Anang Leo.

  1. Perwakilan Diberi Kesempatan untuk Menyampaikan Aspirasi

Polisi memberi kesempatan kepada perwakilan pesilat untuk menyampaikan aspirasi mereka. Salah satu warga PSHT PM dari Rayon Jetis, Yanto, menyampaikan tuntutan massa kepada polisi. Menggunakan pengeras suara, ia menuntut agar Polres Mojokerto Kota segera menuntaskan empat kasus penganiayaan terhadap anggota PSHT PM di wilayah Dawarblandong, Gedeg, Kemlagi, dan Jetis.

“Kami datang ke sini untuk menanyakan apakah kasus Dawarblandong, Gedeg, Kemlagi, dan Jetis telah terselesaikan. Bagaimana kabarnya, empat kasus tersebut belum terselesaikan. Kami ingin tahu kepastiannya,” ujar Yanto di hadapan polisi pada Kamis, 9 Maret 2023.

  1. Janji Polisi untuk Mengusut Tuntas Kasus Penganiayaan Anggota PSHT

Kasat Reskrim Polres Mojokerto Kota AKP Bambang Tri langsung merespons pertanyaan massa PSHT PM. Menurutnya, saat ini pihaknya tengah menangani penganiayaan terhadap warga PSHT PM di wilayah Dawarblandong dan Gedeg. Sudah ada enam saksi yang dimintai keterangan. Namun, identifikasi pelaku terkendala oleh minimnya jumlah saksi.

Baca Juga : Tingkatan di SH Panti Persaudaraan Setia Hati 1903

“Kendala kami adalah tidak adanya saksi yang melihat jelas siapa pelakunya dan ciri-ciri pelakunya. Kami masih dalam proses penyelidikan. Jika rekan-rekan mengetahui hal-hal yang berkaitan, silakan informasikan kepada kami. Kami akan terbuka dan tidak akan memihak,” ujarnya.

Kapolres Mojokerto Kota AKBP Wiwit Adisatria menegaskan bahwa penyelidikan kasus penganiayaan terhadap warga PSHT akan terus berlanjut. Pihaknya masih berusaha untuk mengumpulkan bukti yang cukup untuk menjerat pelaku, namun tetap memperhatikan asas praduga tak bersalah.

“Kesulitan memang akan ada, namun percayalah bahwa tidak ada kejahatan yang tidak meninggalkan bukti. Kami akan terus mengejar pelakunya, siapapun itu,” tegas Wiwit.

  1. Dialog Antara Polisi dan PSHT Berlangsung Lama

Dialog antara perwakilan PSHT dengan polisi berlangsung cukup lama, yakni hingga sekitar pukul 22.00 WIB. Massa juga meminta kepastian waktu dari polisi untuk menyelesaikan empat kasus penganiayaan yang terjadi.

“Kami akan menyelesaikan secepat mungkin. Kami meminta bantuan dari rekan-rekan. Apabila memiliki bukti, silakan kirimkan ke nomor Kasat Reskrim atau KBO Reskrim,” terang Kasat Samapta Polres Mojokerto Kota, AKP Anang Leo.

  1. Setelah Memperoleh Kepuasan dari Aksi Unjuk Rasa, Massa PSHT Bubar

Setelah menyampaikan aspirasi kepada Polres Mojokerto Kota, ribuan massa PSHT membubarkan diri. Massa dibagi menjadi dua kelompok, yaitu menuju arah timur menuju Jalan PB Sudirman dan Jalan Gajah Mada, serta ke arah barat menuju Jalan Brawijaya. Jalan Bhayangkara baru sepenuhnya bersih dari massa pesilat sekitar pukul 22.30 WIB.

  1. PSHT PM dengan PSHT adalah Organisasi yang berbeda

PSHT PM atau Persaudaraan Setia Hati Terate Pusat Madiun merupakan perguruan pencak silat yang dirintis pada 2017, Perguruan ini memilih lepas dari struktur PSHT yang sebelumnya telah mengadakan PARLUH pada tahun 2016 dan memilih membuat PARLUH tandingan pada tahun 2017 karena perbedaan prinsip diantara para sesepuh yang ada pada saat itu.

Ketua PSHT PM Mojokerto Angkat Bicara Setelah Kasus Penyerangan

Ketua PSHT PM Mojokerto Angkat Bicara Setelah Kasus Penyerangan

Ilmusetiahati.com – Setelah penyerangan Ketua PSHT PM Mojokerto angkat bicara, Persaudaraan Setia Hati Terate Pusat Madiun (PSHT PM) kembali menjadi sorotan setelah menyerang permukiman di Kota Mojokerto dan melukai 5 orang. Penyerangan ini disebabkan oleh ulah sejumlah pesilat dari perguruan lain yang nekat unjuk diri ketika konvoi melintas.

Ketua Cabang PSHT PM Mojokerto, Hari Sucipto, mengatakan bahwa Komunitas Pengamanan Terate (Pamter) sudah mengimbau agar 5 anggota perguruan silat Pagar Nusa di sekitar lokasi kejadian tidak keluar di depan Sinoman gang 5, Kelurahan Miji, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

Baca Juga : Kronologi Bentrok PSHT PM Mojokerto dengan Warga Kampung

Ketika itu, para Pamter mengawal massa PSHT PM yang kembali dari unjuk rasa di Mapolres Mojokerto Kota. Rombongan konvoi melintas di Jalan Brawijaya. Sedangkan 5 pesilat dari perguruan silat Pagar Nusa tersebut sedang berlatih di halaman rumah warga Sinoman gang 5.

Menurut Hari, para Pamter sudah menyuruh pesilat lain untuk masuk ke dalam, namun mereka justru keluar dan memakai atribut perguruan. Hal ini sangat riskan karena bisa menimbulkan konflik dengan perguruan lain.

Pelatih perguruan silat Pagar Nusa, RD (17), menyatakan bahwa saat itu dia dan 4 siswanya keluar untuk memberi salam persaudaraan kepada rombongan konvoi PSHTPM. Namun, salam tersebut justru memancing massa PSHTPM melakukan penyerangan.

Namun, Hari menyampaikan bahwa pihaknya akan menyelesaikan masalah ini secara damai. Sebab selama ini, PSHT PM mempunyai hubungan baik dengan pimpinan perguruan silat lain. Tentu saja tanpa mengabaikan hak para korban maupun menyinggung aparat penegak hukum.

Baca Juga : Asal Usul Logo PSHT Persaudaraan Setia Hati Terate

Setelah ribuan massa PSHT PM melakukan unjuk rasa di depan Mapolres Mojokerto Kota, sebagian massa kembali ke tempat asal dengan berkonvoi melalui Jalan Brawijaya. Namun, karena melihat sekitar 5 pesilat dari perguruan lain, massa PSHTPM melakukan penyerangan dengan melempari mereka dengan batu. Akibatnya, seorang pesilat perguruan lain dan 4 warga setempat terluka, termasuk seorang perempuan.

Dalam kasus seperti ini, penting bagi semua pihak untuk menyelesaikannya dengan cara yang baik dan damai. Kita harus menghargai hak para korban, serta menghindari melanggar hukum maupun menyinggung aparat penegak hukum. Semoga kasus ini bisa segera diselesaikan dengan damai dan tidak terulang lagi di kemudian hari.

 
 

Kronologi Bentrok PSHT PM Mojokerto dengan Warga Kampung

Kronologi Bentrok PSHT PM Mojokerto dengan Warga Kampung

Ilmusetiahati.com – Kronologi bentrok massa PSHT PM dengan warga Mojokerto, Pada Kamis, 9 Maret 2023 malam ribuan anggota Perguruan Pencak Silat Persaudaran Setia Hati Terate Pusat Madiun (PSHT PM) dari berbagai daerah seperti Mojokerto, Lamongan, Jombang, dan Gresik menggeruduk dan mendemo Markas Komando Polres Mojokerto Kota. Dalam aksi ini, mereka mengendarai sepeda motor dan mengenakan baju serba hitam.

Rombongan massa PSHTPM tiba di Jalan Bhayangkara, Kota Mojokerto sekitar pukul 20.00 WIB dari arah timur atau dari arah jalan Gajah Mada. Mereka berhenti di depan Stasiun Mojokerto, dan sejumlah anggota PSHT PM berlari ke dalam stasiun seperti mengejar orang. Namun, belum diketahui penyebabnya. Tak lama kemudian, mereka keluar lagi dan melanjutkan perjalanan menuju Mako Polres Mojokerto.

Baca Juga : Usai Demo Ribuan Pendekar PSHT PM Serang Pemukiman di Mojokerto

Tak hanya dari arah timur, rombongan massa PSHTPM juga datang dari arah barat atau jalan Majapahit, sehingga akses Jalan Bhayangkara tertutup total. Aksi ini dikawal ketat oleh petugas kepolisian dan TNI, dengan sejumlah kendaraan taktis yang turut disiagakan di dalam halaman Mako Polres Mojokerto.

Setelah tiba di Mako Polres Mojokerto, massa aksi ditemui oleh Kasat Reskrim Polres Mojokerto Kota, AKP Bambang Tri Sutrisno dan Kasat Samapta Polres Mojokerto, AKP Anang Leo. Perwakilan PSHT PM Yanto menyampaikan bahwa kedatangan ribuan anggota PSHT ini bertujuan menanyakan perkembangan kasus penganiayaan yang menimpa anggota PSHT PM di 4 TKP. Yakni, Dawarblandong, Kemlagi, Gedeg, dan Jetis. Pasalnya, hingga saat ini, pelaku dugaan pengeroyokan belum tertangkap.

Baca Juga : Seluruh Ketua Umum SH Terate

Kasat Reskrim Polres Mojokerto Kota, AKP Bambang Tri Sutrisno menjelaskan bahwa penanganan kasus tersebut masih berlanjut. Sejauh ini, pihak kepolisian telah memeriksa sebanyak 6 orang sebagai saksi. Namun, dalam penanganannya, pihak kepolisian mengalami kendala karena tidak ada saksi mata yang melihat secara langsung aksi penganiayaan.

Dalam dialog antara kepolisian dan perwakilan PSHT PM, akhirnya kepolisian meminta massa untuk membubarkan diri dengan dikawal petugas kepolisian. Dalam aksinya, massa PSHTPM ingin mengetahui bagaimana perkembangan penanganan kasus penganiayaan yang menimpa anggota PSHTPM di 4 TKP tersebut. Apabila ada yang mengetahui atau memiliki bukti, diharapkan dapat segera melaporkannya kepada kepolisian.